<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229</id><updated>2012-02-12T17:08:53.354-08:00</updated><category term='MOKA UPI 2011'/><category term='child'/><category term='HMJA FE UB'/><category term='bulan suci ramadhan'/><category term='formspring'/><category term='miss a'/><category term='akhwat'/><category term='disney'/><category term='muslimah'/><category term='phobia 2'/><category term='kartun'/><category term='david yates'/><category term='funny'/><category term='glenn fredly'/><category term='daniel radcliffe'/><category term='jilbab lovers'/><category term='ngakak'/><category term='ukhuwah'/><category term='kisah'/><category term='okezone'/><category term='info'/><category term='food place'/><category term='wanita dan bidadari surga'/><category term='mario maurer'/><category term='FoSSEI'/><category term='ikhwan'/><category term='HIPMI'/><category term='tempat kongkow'/><category term='haris rachman'/><category term='perjalanan'/><category term='room'/><category term='daily'/><category term='Temilnas X'/><category term='ekonomi syariah'/><category term='novel'/><category term='jepang'/><category term='MOKA UPI 2010'/><category term='favorite'/><category term='puasa'/><category term='i love Allah'/><category term='tips'/><category term='dream high'/><category term='wedding dresses'/><category term='pkes'/><category term='family'/><category term='imaksi UPI'/><category term='fym'/><category term='gogirlmagz'/><category term='manfaat'/><category term='heath ledger'/><category term='Al-Quran'/><category term='womenpreneur'/><category term='Universitas Lambung Mangkurat'/><category term='astronomi'/><category term='serial'/><category term='harry potter'/><category term='sehari-hari'/><category term='rusia'/><category term='sport'/><category term='arief juliyaman'/><category term='ibroh'/><category term='egfc imaksi 2010'/><category term='bandung'/><category term='unyu'/><category term='entrepreneur'/><category term='drama korea'/><category term='puisi'/><category term='banjarmasin'/><category term='vampire diaries'/><category term='istri sholehah'/><category term='dakwah islam'/><category term='thai movie'/><category term='putri widya utami'/><category term='holiday'/><category term='syukur'/><category term='21cineplex'/><category term='keluarga'/><category term='Tri Endah Lukito Sari'/><category term='best memory'/><category term='fajri fm'/><category term='Dan Brown'/><category term='hadad alwi songs'/><category term='magie smith'/><category term='sholat'/><category term='pandangan islam'/><category term='love today'/><category term='risa kirei'/><category term='bisnis'/><category term='swimming'/><category term='cerpen'/><category term='old story'/><category term='waterfall'/><category term='kpop'/><category term='pasar apung'/><category term='hijab hati'/><category term='wakala sauqi dinar'/><category term='pendeta yosua'/><category term='cafe'/><category term='febrianti hutapea'/><category term='hukum forex'/><category term='percaya diri'/><category term='hati-hati'/><category term='obat kanker'/><category term='mahasiswa'/><category term='froyo'/><category term='hukum saham'/><category term='hadits'/><category term='bank syariah'/><category term='indonesia bisa'/><category term='tiara freddy andika'/><category term='mimpi'/><category term='KMJB 2010'/><category term='lee seung gi'/><category term='beach'/><category term='Urgensi sholat'/><category term='edcoustic songs'/><category term='event'/><category term='MPU SCIEmics'/><category term='mupeng'/><category term='optimis'/><category term='tugas'/><category term='pasar islam'/><category term='inspiration'/><category term='public speaking'/><category term='looklet'/><category term='freezy yoghurt'/><category term='pink panther'/><category term='hari ibu'/><category term='HIMA aksi FE UM'/><category term='foto'/><category term='cara'/><category term='SCIEmics UPI'/><category term='FIFA world cup 2010 south africa'/><category term='maruko'/><category term='oase imani'/><category term='jalan progo'/><category term='hanbok'/><category term='accounting Trip'/><category term='bill gates'/><category term='curahan hati'/><category term='sour sally'/><category term='rumah'/><category term='giggle box'/><category term='lucu'/><category term='2AM'/><category term='MUNAS UPI'/><category term='mari berjilbab'/><category term='chibi'/><category term='johnny depp'/><category term='belajar bahasa inggris'/><category term='sahabat'/><category term='fermenstall'/><category term='dwayne johnson'/><category term='emma watson'/><category term='jackie chan'/><category term='ada ada saja'/><category term='subhanallah'/><category term='kekuatan'/><category term='dinar dirham'/><category term='HAPPY BIRTHDAY'/><category term='running man'/><category term='sony digital camera'/><category term='alice in wonderland'/><category term='semangat pemuda'/><category term='cinta'/><category term='technologi'/><category term='activities'/><category term='idola'/><category term='Universitas Malang'/><category term='the love of siam'/><category term='fashion'/><category term='rasulullah SAW'/><category term='khilafah sistem'/><category term='muhasabah'/><category term='sehat'/><category term='happy memory'/><category term='friendship'/><category term='kao jirayu'/><category term='blogger'/><category term='insomnia'/><category term='takwa'/><category term='apakabardunia.com'/><category term='crazy little thing called love'/><category term='PLO'/><category term='hobby'/><category term='masa kecil'/><category term='lirik lagu'/><category term='film'/><category term='akuntansi UPI'/><category term='pernikahan'/><category term='salim a. fillah'/><category term='Universitas Brawijaya'/><title type='text'>Dewi Hardianti Pratiwi</title><subtitle type='html'>that's all about what i want to share</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>286</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1473707109571078194</id><published>2012-02-12T17:08:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T17:08:53.379-08:00</updated><title type='text'>Ada apa dengan sayaa???</title><content type='html'>Belakangan ini banyak berubah dari diri saya. Hati ini rasanya kosong. Diri ini rasanya lemah, malas. Apa yang terjadi dengan diri saya. Bukannya saya tidak tahu. Saya tahu pasti, apa yang terjadi. Futur. Itu lah yang akhir-akhir ini saya alami. Saya menyesal membiarkan kondisi ini terus-terusan. Saya menyesal karena kefuturan saya, saya mengorbankan teman-teman saya, yang sedang berjuang, dan saya tidak mau membantu mereka. Sungguh luar biasa dampak futur. Saya tahu persis apa yang membuat saya jadi gini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang tilawah, jarang mengingat Allah, jarang dzikir matsurat, menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak manfaat. Saya merasa begitu bersalah. Saya malu. saya malu.&lt;br /&gt;Saya gak boleh terus-terusan gini. Hal cemen yang terlalu dibesar-besarkan. Ini bukan saya banget. Dewi harus mulai move on. Banyak teman-teman di luar sana yang membutuhkan bantuan kamu. Banyak orang lain yang membutuhkan dukunganmu. Banyak orang lain yang ingin memanfaatkanmu, tentunya itu kan yang kamu inginkan. A woman with value. Jangan sampai kondisi kefuturan kamu ini berdampak ke runtuhnya semangat teman-teman kamu yang lain. Kamu udah mengacaukannya. Luruskan niat lagi dewi.&lt;br /&gt;Apa niat kamu berjuang?? Harus semata-mata karena Allah SWT. Menggantungkan harapan kepada makhluk, tentunya kamu sudah tau kalo itu tuh ga akan memberi mashlahat ke kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat selalu Allah ada di sampingmu. Menemanimu. Jangan sampai kamu biarkan syaitan mengambil alih kendali dirimu. Jangan biarkan syaitan, musuh yang nyata bagi umat manusia mengganggu dan merusak cita-citamu. Jauhi Jauhi. Jauhi maksiat. Jauhi zina. Dekati Allah. Dekati Al-Quran.&lt;br /&gt;Ingat pesan seniormu : JAUHI DOSA, HAFALKAN AL- QURAN. luruskan niatmu, luruskan niat untuk kembali kepada Allah SWT. aku yakin kamu pasti bisa. Tak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting untuk difikirkan. Berjuang. Berjuang.&lt;br /&gt;Kamu tidaklah lebih baik dibanding manusia yang lain. Apakah kamu mau, pergi menghadap Allah dengan kondisi ruhiyah mu yang seperti saat ini?????!!!! Apakah kamu tidak maluu?!?!?!? Apakah kamu tidak maluu?? dengan segala nikmat yang telah Allah berikan kepadamu, kesempatan yang telah ia berikan kepadamu, engkau masih tidak bersyukur padaNya?? Apa kamu bisa mengatasi panasnya api neraka???? Apa kamu bisa mengatasi kesakitan ketika kulitmu dibakar hingga lapisan kulit yg terdalam, dan kemudian Dia memberimu kulit yang baru lagi agar kamu terus merasakan kesakitan?? Apa kamu cukup kuat untuk menahan segala siksaan akhirat kelak??? Kalau tidak. Lalu,, apakah kau cukup pantas dimasukkah ke dalam surga??? Surga yang hanya boleh ditempati oleh orang-orang yang sholeh, dan sholehah. Apa kau cukup pantas????? jangan pernah anggap dirimu suci, bersih! Ketika kau masih suka berada dalam kamar kosanmu, berselancar di dunia maya, sementara teman-temanmu yang lain sedang berjuang mempertahankan agama Allah. Apa kamu tidak maluuuuu????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana malumuuu dewii???? Apa kamu akan terus menyalahkan si "futur" ketika kamu tidak ada semangat untuk berdakwah????? Kamu tahu sekali apa yang menyebabkan si "futur" hadir. kamu tahu persis.&lt;br /&gt;Dimana cita-cita mu waktu itu??? &lt;i&gt;A ordinari girl who trying to be a great woman someday&lt;/i&gt;. Seorang yang luar biasa gak akan lahir dari orang yang aktivitas dan usahanya biasa. That's a big bullshit kalo kamu terus-terusan menggembar gemborkan kata-kata itu sementara usahamu? apa usaha mu? apa amalan terbaikmu????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;janganlah mudah tergoda dengan dunia yang fana ini. Jangan pernah salahkan futur ketika ia datang dan kamu tidak bisa atau tidak ada usaha untuk mengembalikan kondisi ruhiyah mu. Ingat dewi, syaitan selalu ada untuk mengganggumu. Tapi Allah akan selalu melihatmu, akan selalu mendengarmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, apa amalan yang telah kamu persembahkan untuk Rabb mu ketika Ia memanggilmu kembali. Dan apakah kamu sudah pantas dengan amalanmu yang sekarang untuk ditempatkan di dalam syurga, sementara penghuni syurga yang lain adalah para penghafal Quran, para ahli tahajud, para sahabat, para ulama, para pendakwah, para syuhada, dan para anbiya. Sedangkan siapa sih yang tau "Dewi hardianti pratiwi" Who is she??? she is nothing, if she stuck with this kondition. So, move on dewi.. move on.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1473707109571078194?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/1473707109571078194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/ada-apa-dengan-sayaa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1473707109571078194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1473707109571078194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/ada-apa-dengan-sayaa.html' title='Ada apa dengan sayaa???'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-8294973609912982574</id><published>2012-02-12T16:39:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T16:41:58.407-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><title type='text'>WATCH OUT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 14px;"&gt;&lt;/div&gt;Sebab-sebab hati menjadi keras&lt;br /&gt;1. Ketergantungan hati terhadap dunia dan lupa akhirat&lt;br /&gt;2. Lalai&lt;br /&gt;3. Kawan yang buruk&lt;br /&gt;4. Terbiasa dengan maksiyat dan kemungkaran&lt;br /&gt;5. Melupakan sakaratul maut, kubur, padang mahsyar dan akhirat&lt;br /&gt;6. Melupakan perkara yang merusak hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astagfirullah Astagfirullah.. Astagfirullahaladzim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-8294973609912982574?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/8294973609912982574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/watch-out.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8294973609912982574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8294973609912982574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/watch-out.html' title='WATCH OUT'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-713206475424081418</id><published>2012-02-11T19:54:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T19:54:30.798-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhwat'/><title type='text'>Surat Untuk Calon Ibu Mertua ku……</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Sebelum saya terus menggores kata dalam tulisan ini..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;ijinkan lah saya memperkenalkan diri terlebih dahulu&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;duhai calon ibu mertuaku…..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Perkenalkanlah saya adalah wanita biasa dengan kepribadian yang teramat biasa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;dan dari kalangan keluarga yang biasa saja…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya bukanlah Khadijah ra, Seorang wanita yang luar biasa dalam Sejarah wanita islam…dan teramat Mulia&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya bukanlah Aisyah ra, Seorang yang utama dalam ketakwaannya…..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Bukan pula Fatimah Az Zahra yang sangat utama dalam Ketabahannya……..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Tidak pula seperti Zulaikha yang teramat sangat cantiknya……….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Apalagi al Khansa yang sangat pandai mendidik mujahid – mujahid kecilnya…….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Tapi..Seperti yang saya katakan.,saya hanya wanita biasa,…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dengan ketakwaan yang biasa….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Ketabahan yang tak seberapa…..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dan kecantikkan saya pun tak pantas di perhitungkan….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Namun ibu,….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya adalah wanita akhir zaman,….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Yang punya cita – cita, menjadi wanita Sholehah…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Yang akan berusaha mengabdi pada calon Suamiku&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;dan juga padamu…..Calon Ibu mertuaku….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya bukanlah musuh mu yang hendak merebut perhatian dan kasih sayang anakmu….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Tapi saya akan menjadi rekan mu untuk memberikan kasih sayang pada anak mu..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dan kelak pada mujahid – mujahida ku, calon cucu mu duhai ibu…..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Engkau tak perlu khawatir ibu,…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya tak akan memonopoli perhatian anak mu…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Justru saya akan menjadikannya lebih taat padamu….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Karena akan saya katakan padanya bahwa….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;engkau lah yang utama patut mendapat perhatiannya lalu saya…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya pun tak akan marah jika engkau membantu mengatur rumah tangga ku..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Karena sebagai wanita yang baru menikah patutlah saya belajar darimu yang berlimbah pengalaman….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dan engkau yang lebih tau keinginan anakmu…..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Duhai, Calon ibu mertuaku….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya harap kita bisa menjadi rekan yang baik…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Karena pernikahan adalah membuka tabir rahasia antara aku dan anakmu…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Butuh banyak kesabaran untuk menghadapi banyaknya kejutan – kejutan dari perbedaan antara kami….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Saya berharap engkau dapat menjadi penasehat jika ku sedang dalam ke alpaan…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Menjadi pendegar yang setia saat saya ingin berbagi….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Karena sekali lagi saya bukanlah siti hajar yang sabar dalam penderitaan….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;Calon Menantumu….&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; font-family: inherit; line-height: 14px; text-align: left;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; line-height: 14px; text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3; font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="background-color: white; line-height: 14px; text-align: left;"&gt;repost from&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Untukmu-Calon-Imamku-yang-Tertulis-Di-Lauhul-Mahfudz/169617539766615"&gt;http://www.facebook.com/pages/Untukmu-Calon-Imamku-yang-Tertulis-Di-Lauhul-Mahfudz/169617539766615&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-713206475424081418?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/713206475424081418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/surat-untuk-calon-ibu-mertua-ku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/713206475424081418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/713206475424081418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/surat-untuk-calon-ibu-mertua-ku.html' title='Surat Untuk Calon Ibu Mertua ku……'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6385484827466890735</id><published>2012-02-11T07:05:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T07:05:47.365-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhwat'/><title type='text'>Our Wish :)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/430803_248357735243271_213107425434969_555059_1596102260_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3; font-family: inherit;"&gt;&lt;img border="0" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/430803_248357735243271_213107425434969_555059_1596102260_n.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Kirimkanlah dia untukku..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang menenangkan hatiku..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu menjaga keimananku..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu mengingatkan solat kepadaku..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu mengajariku bagaimana aku harus bersabar..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang membuatku menangis karena takut kepada-Mu..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang Menjaga Agama-Mu..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu berdoa untuk keluarganya..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu taat kepada ayah ibunya.,..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang tak pernah meninggalkan sholat..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu berbicara sopan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dia yang selalu bijaksana..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Jika dia adalah pilihan-Mu,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Datang atas redha-Mu,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Yang akan mampu mendekatkan cintaku pada-Mu,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Maka, satukan hatinya dan hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Dalam janji ikatan suci,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Bersama ijab dihadapan wali dan saksi..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3;"&gt;Aamiin Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="background-color: white; color: #f3f3f3; display: inline; font-family: inherit; line-height: 14px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #f3f3f3; font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="background-color: white; display: inline; line-height: 14px; text-align: left;"&gt;from :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Ya-Allah-Ijinkan-Hamba-Menggelar-Sajadah-Bersamanya/253238754715845"&gt;http://www.facebook.com/pages/Ya-Allah-Ijinkan-Hamba-Menggelar-Sajadah-Bersamanya/253238754715845&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6385484827466890735?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/6385484827466890735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/our-wish.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6385484827466890735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6385484827466890735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/our-wish.html' title='Our Wish :)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1211814987760136504</id><published>2012-02-11T06:56:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T06:58:56.123-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ikhwan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhwat'/><title type='text'>Maafkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Ya akhi..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;tidakkah engkau cemburu bila isterimu berbicara bebas di ‘Facebook’ dengan ikhwan lain..?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Tanyakan pada hatimu..apakah engkau cemburu..?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Apakah engkau rela isterimu bercanda dengan ikhwan lain..?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;... Jika engkau cemburu..jika kau tidak rela..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;maka mulailah dengan dirimu untuk tidak bicara dengan bebas pada akhwat lain..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;fikirkanlah isterimu.,,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Bukankah dalam kehidupan nyata pun engkau begitu menjaga pandangan dan begitu menjaga maruah serta ‘iffahmu,,?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Lalu kemanakah perginya itu semua ketika kau membuka internet..?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Kemanakah rasa malumu ya ikhwan...?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Jangan berdalih kau akan kuat tidak akan terkena fitnah nantinya..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;“…manusia diciptakan (bersifat) lemah.”..[QS. An-Nisaa' (4):28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Milikilah sifat malu..karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.”..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;[HR. Bukhari:6117 dan Muslim:37 dari Imran bin Hushain]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Apabila engkau menyepi dengan keraguan dan kegelapan..dan nafsu mengajak untuk kemaksiatan..malulah dari pandangan Allah Ta’ala..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;dan katakan kepadanya...sesunggunya pencipta kegelapan akan melihatku...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-qydgxXKVc8s/TzaBMEnK4xI/AAAAAAAAArM/6hTRQILiqyE/s1600/blog.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://2.bp.blogspot.com/-qydgxXKVc8s/TzaBMEnK4xI/AAAAAAAAArM/6hTRQILiqyE/s320/blog.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Ada sebuah kaedah yang sangat bagus dan perlu diingat tentang kaedah Sadduz ‘Dzariah..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitab Ighatsatul Lahfaan Min Mashaayidis Syaithaan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Syariat mengharamkan segala sarana yang bisa menghantarkan pada hal yang haram..meskipun ketika memanfaatkan sarana tersebut tidak diniatkan untuk berbuat haram..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;“Aku memberi wasiat kepadamu dengan wasiat yang harus kau jaga...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Janganlah kau berdua-duaan dengan wanita bukan mahrammu..walaupun batinmu berkata bahwa kau akan mengajarkannya Al-Qur’an.”..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Teruntuk akhwat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;“Wahai wanita..jangan terlalu banyak bicara dan memperlihatkan dirimu di depan umum..namun bersegeralah bersembunyi dari para ikhwan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;karena kehormatanmu sangat berharga bagi suamimu...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Jangan khianati suamimu (kelak) sebelum pernikahanmu datang...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Suamimu itu menunggu dirimu dengan harapan bahwa engkau adalah wanita yang harga dirinya tidak ternilai...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Kau wanita tersembunyi dan hanya sumimu yang dapat melihatmu...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Kau wanita yang mulia dan hanya suamimu yang dapat menikmati kemuliaan itu.”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Teruntuk ikhwan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Dua fitnah besar yang masuk secara halus dan tidak terasa namun dia akan menyambar-nyambar dengan kerasnya dan sulit untuk keluar darinya..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;apabila fitnah itu telah masuk ke dalam hati dan fikiran kita sehingga dapat menimbulkan sulitnya ilmu syar’i masuk ke dalam diri kita..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;yaitu fitnah syubhat dan syahwat...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 16px;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc; font-family: inherit;"&gt;Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari fitnah syubhat maupun syahwat.. allahumma aamiin,,,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; line-height: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1211814987760136504?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/1211814987760136504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/maafkan_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1211814987760136504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1211814987760136504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/maafkan_11.html' title='Maafkan'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qydgxXKVc8s/TzaBMEnK4xI/AAAAAAAAArM/6hTRQILiqyE/s72-c/blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5692632806843432780</id><published>2012-02-06T05:32:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T05:37:52.013-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><title type='text'>Pesan: Jaga Kesehatan</title><content type='html'>"Jaga kesehatan"&lt;br /&gt;kata-kata itu mungkin yang sering dikeluarkan oleh mamah kepada saya. Sebagai anak rantauan (gayaa bgt. padahal dari bekasi doang) pasti lah orang tua khawatir sama kita anak-anaknya. Apalagi tau derita mahasiswa yang kayak model-model gue gini. Yeah Mahasiswa Banget. hahaha. Mungkin orang tua, utamanya ibu pasti lah ngerasain hal yang sama kayak emak gue.&lt;br /&gt;Ada beberapa pesen dari emak ke gue:&lt;br /&gt;1. Sarapan jangan pernah ketinggalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya dengan perut terisi kalian bakal mudah menjalani aktivitas-aktivitas yang mungkin setumpuk. Sarapan bakal jadi energi awal kalian di pagi hari. :) JANGAN LUPA SARAPAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Makan buah-buahan jangan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buahan kan mengandung banyak vitamin, jadi penting tuh. Biar tubuh lebih kebal terhadap berbagai serangan penyakit yang mungkin ada di sekitar kita. Kalo ga mau beli yang satu buah, mending beli aja pepaya, atau buah2an yang suka dijual di gerobak-gerobak itu tuh. tapi hati-hati soalnya suka ada yang pake pemanis sama pewarna tambahan. :D JANGAN LUPA MAKAN BUAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Makan madu tiap pagi satu sendok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata emak, makan madu tiap pagi, bagus. Kata ustadz ustadz yang sering gue denger di radio juga madu itu bagus buat kekebalan tubuh. Madu itu dihasilkan dari binatang yang baik. Lebah. yang bahkan dijadikan salah satu nama surat di Al Quran. Percaya deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Istirahat yang cukup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi buat yang punya aktivitas segudang. Para aktipis kampus, atau temen2 lain yang bolak-balik ngurus bisnis, yang lagi pada magang, pasti kan padet tuh aktivitasnya, jadi istirahat harus cukup. tidur yang cukup. kebanyakan jg gak bagus sih sebenernya, oiya, ktanya kalo biar bugar juga, rajin2 sholat tahajud, selain bisa mesra2an sama Allah di sepertiga malam, tahajud juga bisa bikin badan bugar loh. Tahajudnya disambung ke subuh sampe terbit fajar, kalo dibiasain pasti bisa. Emang sih itu berat banget, tapi niatkan semuanya karna Allah, insyaallah pasti bisa. SEMANGAT DEDEW!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sholat jangan lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sholat, itu ada beberapa kombinasi gerakan. Nah, kalo gak sempet olahraga, sholat bisa jadi alat buat melenturkan kaku2 otot looh.. Dan karena ini kewajiban juga, jadi gak boleh ditinggalin. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu pesen dari si emak ke gue. Emang sih emak gue terbilang cerewet ke anak ceweknya ini. Tapi bukan berarti kalo emak2 lo pada gak nelfon seminggu tiga kali, bukan berarti emak lo pada gak peduli. Kepedulian tiap ibu beda-beda. Dan &amp;nbsp;mungkin saya disini menyampaikan pesan dari emak-emak di Indonesia yang gak sempet nelfonin anak-anaknya. Apalagi, emak2 bakal udah cerewet kalo ngeliat anaknya sibuk, aktivitasnya padat. Berangkat pagi, pulang maghrib. besok pagi lagi , pulang maghrib lagi. hmmm..&lt;br /&gt;Jaga kesehatan lah. Wajar kok ibu-ibu maaahh..&lt;br /&gt;Ingat tips2 di atas yaaa. siapa tau bisa di praktekan buat teman-temen mahasiswa nelangsa yang lain. watir ih kalo pada pergi pagi, pulang malem terus. apalagi mahasiswa aktipis, atau mahasiswa magang. hahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TETAP SEMANGAT!!!! ^,^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5692632806843432780?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/5692632806843432780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/jaga-kesehatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5692632806843432780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5692632806843432780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/jaga-kesehatan.html' title='Pesan: Jaga Kesehatan'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6386076471147789809</id><published>2012-02-05T03:25:00.003-08:00</published><updated>2012-02-05T03:37:36.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lirik lagu'/><title type='text'>You Belong With Me ~ Dalam artinya hmmm</title><content type='html'>&lt;span style="color: #f3f3f3; font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You're on the phone&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;With your girlfriend&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She's upset&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She's going off about&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Something that you said&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She doesn't get your humor&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Like I do&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I'm in my room&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;It's a typical tuesday night&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I'm listening to the kind of music&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She doesn't like&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She'll never know your story&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Like I do&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;But she wears short skirts&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I wear t-shirts&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She's cheer captain&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;And i'm on the bleachers&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Dreaming about the day&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;When you wake up and find&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;That what you're looking for&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Has been here the whole time&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;If you could see&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;That i'm the one&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Who understands you&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Been here all along&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;So why can't you&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;See you belong with me&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You belong with me.&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Walking the streets&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;With you and your worn out jeans&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I can't help thinking&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;This is how it ought to be&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Laughing on a park bench&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Thinking to myself&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Hey, isn't this easy?&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;And you've got a smile&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;That could light up this whole town&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I haven't seen it in awhile&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Since she brought you down&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You say you're fine&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I know you better than that&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Hey whatchu doing&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;With a girl like that&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She wears high heels&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I wear sneakers&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;She's cheer captain&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I'm on the bleachers&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Dreaming about the day&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;When you wake up and find&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;That what you're looking for&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Has been here the whole time&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;If you could see&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;That i'm the one&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Who understands you&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Been here all along&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;So why can't you&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;See you belong with me&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Standing by and&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Waiting at your backdoor&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;All this time&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;How could you not know&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Baby&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You belong with me&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You belong with me.&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;[Instrumental]&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Oh, I remember&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You driving to my house&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;In the middle of the night&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;I'm the one who makes you laugh&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;When you know you're about to cry&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;And I know your favorite songs&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;And you tell me about your dreams&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Think I know where you belong&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Think I know it's with me&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Can't you see&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;That i'm the one&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Who understands&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Been here all along&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;So why can't you see?&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You belong with me.&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Have you ever thought&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;Just maybe&lt;/span&gt;&lt;br style="line-height: 18px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="line-height: 18px; text-align: left;"&gt;You belong with me?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6386076471147789809?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/6386076471147789809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/you-belong-with-me-dalam-artinya-hmmm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6386076471147789809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6386076471147789809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/you-belong-with-me-dalam-artinya-hmmm.html' title='You Belong With Me ~ Dalam artinya hmmm'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5815818758291600851</id><published>2012-02-04T21:07:00.001-08:00</published><updated>2012-02-04T21:07:16.583-08:00</updated><title type='text'>"Ya Allah jagalah hati dan pandangan kami semua "</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;"&gt;‎''Kenapa engkau merasakan dirimu lebih baik daripada orang lain, Jaga wahai orang yang hendak kembali pada Allah, jangan engkau melihat orang yang melakukan maksiat dengan pandangan yg hina, pandangan begitu bisa menggelapkan hatimu,hinalah maksiat tetapi jangan kamu menghina pelaku maksiat " sesungguhnya ada 3 Pandangan yang menggelapkan hati kamu :&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;"&gt;1- Memandang kpd aurat orang lain yang diingini oleh syahwat,&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;"&gt;2- Memandang dunia dengan pandangan yang besar,&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;"&gt;3- Memandang orang lain dengan pandangan yang hina.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #363636; font-family: 'Times New Roman', Times, FreeSerif, serif; font-size: 15px; line-height: 20px;"&gt;"Ya Allah jagalah hati dan pandangan kami semua "&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5815818758291600851?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/5815818758291600851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/ya-allah-jagalah-hati-dan-pandangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5815818758291600851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5815818758291600851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/ya-allah-jagalah-hati-dan-pandangan.html' title='&quot;Ya Allah jagalah hati dan pandangan kami semua &quot;'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1127017897119244204</id><published>2012-02-03T22:49:00.000-08:00</published><updated>2012-02-03T22:50:22.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kotak Kecil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ping&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar suara dari arah laptopku. Ternyata ada chat dari nya di halaman facebook ku. Aku berfikir ada apa pagi-pagi seperti ini. Aku sedang bersiap untuk berangkat ke kampus. Mengisi tas kuliahku dengan barang-barang yang perlu aku bawa untuk hari ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera saja aku balas chatnya. Hari ini aku kuliah pagi, dan aku tahu dia pun hari ini harus berangkat pagi karna akan ada acara yang dipanitiai oleh dia dan teman-temannya. Kami terlibat percakapan singkat karena kami harus segera berangkat ke kampus untuk urusan masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kuliah aku dan teman-teman langsung menuju lokasi acara tersebut. Di dalam ruangan , sudah banyak orang yang hadir, bangku-bangku pun sudah banyak yang terisi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil tempat di sisi yang kosong. Aku bersama temanku Tata, berbincang-bincang kecil soal acara ini. Semua peserta terlihat antusias di acara tersebut. Sepertinya aku masuk di waktu-waktu yang kurang tepat. Sehingga tidak bisa mengetahui bagaimana penampilan dari sang pemateri tadi. Bahasannya pun di bidang yang sangat aku senangi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tibalah di coffee break, MC mempersilahkan peserta untuk mengambil snack yang sudah tersedia. Karena kebetulan aku tidak terlalu lapar, walaupun aku belum sempat sarapan. Aku memutuskan untuk tidak ikut mengambil snack. Biarlah untuk peserta yang lain, karena toh aku pun terlambat datang. Peserta langsung berebut untuk mengambil snack yang disediakan. Aku mengisi waktu break itu dengan mengobrol dengan salah satu kakak kelasku. Tiba-tiba temanku yang juga menjadi panitia acara tersebut membawakanku sekotak snack. Melihat aku diberikan snack, Tata iri. Ia bertanya mengapa dirinya tidak dapat. Padahal ia juga mau. Dan ujar teman yang memberikan snack itu, "Ini titipan dari Kak Rizki. Katanya disuruh dikasih ke Didi. Soalnya snack nya udah nggak ada lagi."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tata sedikit mengeluh, kemudian aku langsung bilang padanya kalau mau ambil punyaku saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku memang tidak begitu lapar. Tata asik memilih-milih mana kue yang ingin ia makan. Aku memilih air mineral gelas saja, karena memang aku haus. Aku memperhatikan kotak itu. Itu hanya kotak snack biasa, tidak ada yang istimewa. Tidak ada label merk cateringnya, seperti yang biasa aku lihat. Hanya kotak snack biasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembelaan-pembelaan banyak muncul di benakku. Ah sudahlah. Kebetulan di dalam kotak itu ada pastel kesukaanku. Segera saja aku ambil sebelum Tata menginginkannya. Aku sedikit-sedikit melirik ke arah pintu masuk, tapi tak terlihat apa-apa. Aku melihat kotak kecil itu lagi. Hanya karton yang dilipat-lipat. Tidak ada yang istimewa. Aku menengok ke arah kanan dan kiriku, banyak kotak kecil yang sama seperti yang ada di hadapanku sekarang. Ini hanya satu dari beratus-ratus kotak snack yang disediakan oleh panitia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://imgusr.tradekey.com/p-235969-20070515093638/paper-snack-box.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://imgusr.tradekey.com/p-235969-20070515093638/paper-snack-box.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah acara selesai, dosenku langsung memanggil dan meminta beberapa temanku berkumpul untuk membicarakan evaluasi perjalanan kami beberapa waktu lalu. Dan aku memutuskan untuk meninggalkan kotak kecil itu, bersama teman-temannya yang lain. Aku tidak ingin memisahkan kotak kecilku itu dari teman-temannya yang lain. Biarlah. Biar panitia yang mengurus kotak kecilku itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1127017897119244204?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/1127017897119244204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/kotak-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1127017897119244204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1127017897119244204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/kotak-kecil.html' title='Kotak Kecil'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1464588297814678683</id><published>2012-02-03T05:36:00.000-08:00</published><updated>2012-02-03T05:36:54.163-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Genggaman Tangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tergolong wanita yang menyukai hiking. Aku senang melihat pepohonan di gunung atau di bukit-bukit. Menghirup aroma kelembapan hutan yang hmmm.. aku suka bagaimana air-air membasahi dedaunan dan tanahnya. Aku suka mendengar suara serangga-serangga yang terus berbisik, seolah-olah tak henti-hentinya berdzikir menyebut nama Illahi. Dibandingkan dengan laut, aku lebih menyukai pegunungan, hutan, bukit dan teman-temannya. Jujur, aku sedikit takut melihat laut. Di tengah laut, aku merasa kecil. Di tengah laut, aku merasa aku bukanlah apa-apa, betapa luasnya hamparan air itu yang betapa luar biasanya mengapa air yang luas itu rasanya asin. Melihat garis lurus yang tak kuketahui batasnya. Aaah &amp;nbsp;aku lebih suka pepohonan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://proampodcast.com/files/hands-come-togther.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://proampodcast.com/files/hands-come-togther.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari itu, aku dan teman-teman berjalan-jalan ke daerah sekitar kampus kami. Sekitar ada 20orang yang ikut dalam rombongan. Kami berangkat pukul 8 dari kampus dengan angkutan umum. Setibanya di tempat akhir, kami berjalan menuju lokasi, lumayan jauh. Kami melewat perkampungan warga, dan waaah &amp;nbsp;aku baru pertama kali melihat kebun teh yang luas seperti itu. Aku jadi teringat dengan film Petualangan Sherina. hahahaha. Setelah beristirahat sejenak di kawasan hutan pinus, kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata air terjun. Karena kami belum sholat dzuhur, kami memutuskan untuk sholat di sekitar air terjun. Kami bermain-main disana. Teman-teman terlihat senang. Tetapi ada yang aneh ketika mereka tertawa-tawa senang merasakan segarnya air dari sumber alam itu. Aku melihatnya. Ada yang terasa janggal. Sepertinya aku mencium bau-bau yang berbeda dengan kelagatnya. Aku tahu. Pasti ada sesuatu. Tetapi buru-buru aku hilangkan karena aku takut suudzon kepadanya. Mungkin hal itu wajar. Tetapi, jika memang benar, itu pun bukanlah sesuatu yang buruk. Sangat wajar malah. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak begitu memikirkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cukuplah kami beristirahat, kami memutuskan untuk pulang. Karena hari sudah sore. Perjalanan pulang lumayan melelahkan, tetapi mengasyikkan karena jalur yang kami lewati sangat unik. Dan lagi-lagi aku melihat keanehan itu. Aku melihat kejanggalan itu. Aku tidak tahu tapi aku seperti tidak bisa menerimanya. Okay, memang itu sangat wajar. Tetapi aku tidak suka melihatnya. Ingin sekali aku membentaknya. Ingin sekali aku membuang muka darinya. Tapi aku urungkan. Hal itu sangat wajar. Mengapa aku harus repot. Hatiku berkecamuk dahsyat tetapi tetap aku tutupi dengan candaanku dengan teman-teman. Aku tidak tahu mengapa harus sekuat itu aku menutupi amarahku. Aku tidak suka melihat kelakuannya. Aku marah. Aku tidak terima. Memang perlakuan itu bukan ia tujukan padaku. Tapi aku sangat sebal melihatnya. Dia menggenggam tangan wanita itu. Okay, kalau dia memang tertarik dengan wanita itu, itu adalah hal yang sangat wajar. Dan apa hak diriku melarang-larang. Tapi aku sangat tidak suka dengan perbuatannya itu. Aku sangat tidak suka. Aku tidak mungkin menegurnya langsung saat itu. Apa kata teman-teman? Siapa aku. Aku hanya anak kecil. yang mungkin tidak akan didengarkan perkataanya. Sepanjang jalan, berbagai hal berkecamuk di fikiranku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan akhirnya, kami tiba di dekat jalan besar. Kami langsung menyetop angkutan umum untuk segera kembali ke kampus. Hari itu aku sangat lelah. aku senang. Tetapi ada satu masalah yang aku rasakan, tetapi tidak pernah aku sadari. Dan itu terus berlanjut. Amarahku waktu itu memang hilang, tertutup waktu. Tapi , ada sesuatu yang terkubur dan tidak pernah kuketahui dimana letaknya. Terkubur karena berbagai alasan yang aku buat-buat, berbagai alasan yang aku ada-adakan untuk menutupi kenyataan. Sehingga aku tidak pernah tahu, setidaknya saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;bersambung..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1464588297814678683?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/1464588297814678683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/genggaman-tangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1464588297814678683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1464588297814678683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/genggaman-tangan.html' title='Genggaman Tangan'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6170650656794603402</id><published>2012-02-02T23:46:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T23:46:42.097-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kpop'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lirik lagu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='miss a'/><title type='text'>Lirik lagu MISS A- GOODBYE BABY</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Dwidoraseo geudaero apuero gamyeon dwae&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Amureon maldo (maldo) haji malgo (malgo)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Idaero sarajyeo juneun geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Baby good bye, good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Nae ireumeun sujiga aninde jakkuman silsuro sujira bureul ttae&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Geuttae ara charyeoya haesseo wae&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Aesseo neoreul mideo juryeo haetneunji molla&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;(Niga eotteon aenji arasseo) gwaenhi ulji ma&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;(Neoui mulgeondeul da naenwasseo) yeongineun ije geuman&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;CHORUS:&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Dwidoraseo geudaero apeuro gamyeon dwae&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Amureon maldo (maldo) haji malgo (malgo)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Idaero sarajyeo juneun geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Jeulgeoweosseo jaemi isseotdago saenggakhalge&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Geureoni yeogi (yeogi) kkaji hagi (hagi)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Neoui syoneun ije kkeutnan geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Baby good bye, good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span class="b-lyrics-from-signature" style="color: white; line-height: 1.5em; text-align: left;"&gt;[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/m/miss_a/goodbye_baby.html ]&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Chingudeuri modu da mallil ttae geuttae geu yaegil deureosseoya haetneunde&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Wae naneun neoui geu nunbitchi jinsilchi mothadaneun geol jeonhyeo&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;mollaseoneunji&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;(Ddwieonan neoui geu yeongiga) jeongmal nollawo&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;(Neomu ddwieonaseo gyeolgugen) nal ulligo malaseo&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;CHORUS:&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Dwidoraseo geudaero apeuro gamyeon dwae&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Amureon maldo (maldo) haji malgo (malgo)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Idaero sarajyeo juneun geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Jeulgeoweosseo jaemi isseotdago saenggakhalge&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Geureoni yeogi (yeogi) kkaji hagi (hagi)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Neoui syoneun ije kkeutnan geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Baby good bye, good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;RAP:&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Eojjeom bbigeodeok bbigeodeok georineun sori hanado eobsi&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Geureohke gureongmi dam neomeo gadeut budeureopge nal sokyeotji&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Cham daedanhan syoreul bwasseo naega ni deoke pyodo an sago da&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Gongjaro joheun jarie ttak hajiman No ijeneun bye bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;(Ddwieonan neoui geuyeongiga) jeongmal nollawo&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;(Neomu ddwieonaseo gyeolgugen) nal ulligo mallaseo&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;CHORUS:&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Dwidoraseo geudaero apeuro gamyeon dwae&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Amureon maldo (maldo) haji malgo (malgo)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Idaero sarajyeo juneun geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Good bye, baby good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Jeulgeoweosseo jaemi isseotdago saenggakhalge&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Geureoni yeogi (yeogi) kkaji hagi (hagi)&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Neoui syoneun ije kkeutnan geoya&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;Baby good bye, good bye&lt;/span&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;br style="text-align: left;" /&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/m/miss_a/#share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6170650656794603402?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/6170650656794603402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/lirik-lagu-miss-goodbye-baby.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6170650656794603402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6170650656794603402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/lirik-lagu-miss-goodbye-baby.html' title='Lirik lagu MISS A- GOODBYE BABY'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-2324569239719098254</id><published>2012-02-02T23:30:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T23:30:28.778-08:00</updated><title type='text'>Mudiiikkk</title><content type='html'>Huuuhuuuuuu.. yeyeyeye&lt;br /&gt;akhirnya bisa pulang ke rumah juga, setelah sekian lama. haha. Emaaaaaaakkk akuuu pulaaanggg..&lt;br /&gt;kasian mamah, dari minggu kemaren terus-terusan telfon buat nyuruh pulang, tapi apa mau dikata, kemaren kemaren anakmu yang satu ini belum bisa pulang mah, hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari iniii,, insyaallah akuu pulang.&lt;br /&gt;lagi nunggu si papski jemput di lapangan gymnasium, yaudah aku nulis blog ini dulu. hahahhaa&lt;br /&gt;waaahhh betapaaa senangnyaaa hatikuuu...&lt;br /&gt;pasti nanti pas gue pulang tersedia apapun di rumah deh, hahahahhahakskkkk&lt;br /&gt;huhuhuhuhhuuuuuuuuu...&lt;br /&gt;papski sing ati-ati yaaa di jalan menuju tempat akunya, hehehe. mudah2an bisa cepat sampe rumah, selamat sampe tujuan, hehehe. mudah2an kagak ada macet2 lagi deh. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-2324569239719098254?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/2324569239719098254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/mudiiikkk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2324569239719098254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2324569239719098254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/mudiiikkk.html' title='Mudiiikkk'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-7071951835955441214</id><published>2012-02-01T20:17:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T20:17:08.875-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='old story'/><title type='text'>Menemukan jejak-jejak masa lampau</title><content type='html'>Heyy..&lt;br /&gt;hari ini iseng buka fb gue yang lama, dan menemukan treasury yang berharga banget. hahaha. kangeeen bgt sama masa-masa ini deh rasanya. hihihihi.&lt;br /&gt;check this out!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CC9r6q3BH3E/TyoNKExAALI/AAAAAAAAAq8/xyZh57soEHk/s1600/215814_1025864697397_1548666527_69836_8838_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-CC9r6q3BH3E/TyoNKExAALI/AAAAAAAAAq8/xyZh57soEHk/s400/215814_1025864697397_1548666527_69836_8838_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;masa masa SMA. masa-masa burst pict. hahaha. miss them so much!!&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6mfh2HKbxdA/TyoL_wGM3NI/AAAAAAAAAps/w3kuqKA47_M/s1600/15138_1266537354063_1548666527_677561_5103613_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-6mfh2HKbxdA/TyoL_wGM3NI/AAAAAAAAAps/w3kuqKA47_M/s400/15138_1266537354063_1548666527_677561_5103613_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;masa-masa smester 1 webcam-an di kelas. haha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-iEq3XMTTchs/TyoMDJ6MvsI/AAAAAAAAAp0/e-mYB_UdLRg/s1600/9633_1213361304695_1548666527_541038_7592229_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-iEq3XMTTchs/TyoMDJ6MvsI/AAAAAAAAAp0/e-mYB_UdLRg/s400/9633_1213361304695_1548666527_541038_7592229_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;first hang out with titis and tiara. @ gokana teppan ciwalk&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ziPRIxzEU5I/TyoMGOYyLgI/AAAAAAAAAp8/SVOaTEVWQ2U/s1600/9633_1213361384697_1548666527_541040_3023083_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-ziPRIxzEU5I/TyoMGOYyLgI/AAAAAAAAAp8/SVOaTEVWQ2U/s400/9633_1213361384697_1548666527_541040_3023083_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;inilah ketika titis pertama ketularan gaya foto ekstrem gue. hahahaa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YYhNhIeIvic/TyoMHmQ-RpI/AAAAAAAAAqE/4-73ladHTAE/s1600/15138_1254512773456_1548666527_648760_692912_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-YYhNhIeIvic/TyoMHmQ-RpI/AAAAAAAAAqE/4-73ladHTAE/s400/15138_1254512773456_1548666527_648760_692912_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;with iva @ warung steak setiabudi, traktiran PJ nya yohana&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-punAceRGNng/TyoMJErLtqI/AAAAAAAAAqM/AgsTkqRPEOI/s1600/15138_1254512853458_1548666527_648762_4206967_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-punAceRGNng/TyoMJErLtqI/AAAAAAAAAqM/AgsTkqRPEOI/s400/15138_1254512853458_1548666527_648762_4206967_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;owwwwhh miss this moment bgt!! BARAKATAK. HAHAHA&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NstuLLHuQB0/TyoMK0bgzMI/AAAAAAAAAqU/hqqdG9pTXGY/s1600/15138_1254518853608_1548666527_648766_6568046_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-NstuLLHuQB0/TyoMK0bgzMI/AAAAAAAAAqU/hqqdG9pTXGY/s400/15138_1254518853608_1548666527_648766_6568046_n.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;with my besties yohana and bella&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UBkNw4HYmko/TyoMMvPQD7I/AAAAAAAAAqc/GMD5ef083GY/s1600/15138_1254523933735_1548666527_648776_7644474_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-UBkNw4HYmko/TyoMMvPQD7I/AAAAAAAAAqc/GMD5ef083GY/s400/15138_1254523933735_1548666527_648776_7644474_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;belaaaaaaaaa kangeeeennn&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mgV9V5qaeUc/TyoMNyjfPLI/AAAAAAAAAqk/iSA8XrAwUKM/s1600/15138_1254523973736_1548666527_648777_211704_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-mgV9V5qaeUc/TyoMNyjfPLI/AAAAAAAAAqk/iSA8XrAwUKM/s400/15138_1254523973736_1548666527_648777_211704_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;dari dulu kebiasaan bgt foto pake tangan deeeh hahahah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-WM75dfee-NI/TyoMQM5gdpI/AAAAAAAAAqs/zNU_TVHtNc8/s1600/15138_1255361274668_1548666527_650973_7080405_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-WM75dfee-NI/TyoMQM5gdpI/AAAAAAAAAqs/zNU_TVHtNc8/s400/15138_1255361274668_1548666527_650973_7080405_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;yak, teteeep di kamar mandi favorit bet. perhatikan style gue reman bgt. =,="&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_jhzyVJO5Ao/TyoMYHouM2I/AAAAAAAAAq0/keNzPyqK_J4/s1600/15138_1266528833850_1548666527_677553_632514_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-_jhzyVJO5Ao/TyoMYHouM2I/AAAAAAAAAq0/keNzPyqK_J4/s400/15138_1266528833850_1548666527_677553_632514_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;love love loveee&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-7071951835955441214?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/7071951835955441214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/menemukan-jejak-jejak-masa-lampau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/7071951835955441214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/7071951835955441214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/02/menemukan-jejak-jejak-masa-lampau.html' title='Menemukan jejak-jejak masa lampau'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CC9r6q3BH3E/TyoNKExAALI/AAAAAAAAAq8/xyZh57soEHk/s72-c/215814_1025864697397_1548666527_69836_8838_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1301860275007343571</id><published>2012-01-31T18:07:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T18:07:23.564-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngakak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ada ada saja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lucu'/><title type='text'>HAHAHA. ADA ADA SAJAAAHH</title><content type='html'>Tgl satu febuari, as usually, buka chrome dan check blog. Ada yang tau post saya yang dahuluuuuuuuu sekali kah? yang MY LOVELY 24 itu gak?? hahahha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini buka blog dan ngecek2 comment ternyata tgl 29 januari 2012 kemarin ada komen baru, tulisannya&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: #fff9e7; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; text-align: -webkit-left;"&gt;Can i help you? :p I know it's too late. Aku sklh di situ :p twitter: @JUDEEY on&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://lemonadesquash.blogspot.com/2010/02/my-lovely-24.html?showComment=1327859491801#c7244352696532286162" style="background-color: #fff9e7; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: #1155cc; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: -webkit-left; text-decoration: none; vertical-align: baseline;" target="_blank"&gt;MY LOVELY 24&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*sejenak terdiam&lt;br /&gt;*kemudian ngakak.&lt;br /&gt;ya Ampuuunn itu masa ababil bgt tuh.&lt;br /&gt;=_____="&lt;br /&gt;pengen bales komennya sih, ngomong..&lt;br /&gt;"adeek,, hahahaha. itu udah lamaa bgt post nyaa =___=",, gapapa kok, ga usah bantuin kakak. adek judeey belajar aja yang rajin buat SNMPTN. hahahahhaa"&lt;br /&gt;Aseli lah,,, opooo tooh ikii..&lt;br /&gt;kenapa gak dari dulu aja sih pas gue penasaran. hahahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1301860275007343571?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/1301860275007343571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/hahaha-ada-ada-sajaaahh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1301860275007343571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1301860275007343571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/hahaha-ada-ada-sajaaahh.html' title='HAHAHA. ADA ADA SAJAAAHH'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1470068462253522336</id><published>2012-01-30T04:18:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T04:22:42.427-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia bisa'/><title type='text'>ME-NGE-NAS-KAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;Sekedar share dari temen...andai para pejabat pemerintah tau ya....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 14px;"&gt;Cerita mahasiswa Indonesia di Aussie. Nyataa. Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.Org itu sdh tua,kisaran 60 thn.Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu&amp;amp;english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda. Beliau berkata,"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 i...tu. ...Tapi tunggu dulu...."Indonesia doesn't need the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world." "Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan....Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.Trus,kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk?Ya,bener2 panik.Sangat terasa,we are nothing.Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia?Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis,krn pasirnya mengandung permata.Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china,si pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang.Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia! Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG- EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri. Jika kalian bs mandiri,bisa MENG- EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!! Plis share ya biar sampe ke seluruh bangsa Indonesia...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1470068462253522336?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/1470068462253522336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/me-nge-nas-kan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1470068462253522336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1470068462253522336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/me-nge-nas-kan.html' title='ME-NGE-NAS-KAN'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-922634325039008696</id><published>2012-01-29T04:22:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T04:22:23.017-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imaksi UPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i love Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akuntansi UPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>TERIMAKASIH</title><content type='html'>Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,&lt;br /&gt;Sesungguhnya semua berasal dari Allah SWT dan akan dikembalikan kepadanya.&lt;br /&gt;begitu pula amanah ini, ketika setahun lalu amanah ini jatuh kepada saya, saya menyadari bahwa ini akan saya pertanggung jawabkan nantinya.&lt;br /&gt;Saya menyadari, banyak sekali kekurangan dalam kepengurusan yang saya pegang, banyak sekali evaluasi-evaluasi yang perlu digaris bawahi untuk kepengurusan taun ini. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kemampuan dan kompetensi saya pribadi yang terbatas, dan perlu banyak belajar lagi. Saya mendapatkan begitu banyak pengalaman dalam organisasi ini, begitu banyak kenangan yang walaupun pahit, tetapi terasa begitu manis untuk dikenang. Saya belajar begitu banyak, saya mendapatkan manfaat yang begitu luar biasa bagi pendewasaan diri saya pribadi tentunya,&lt;br /&gt;Terimakasih adalah hanya itu yang bisa saya ucapkan dan berikan kepada teman-teman yang sudah menemani saya dalam mengemban amanah kemarin.&lt;br /&gt;Terimakasih kepada semuaaaanyaaa.. gak bisa saya sebutkan satu satu. Mudah-mudahan Allah membalas segala kebaikan temen-temen semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa perjuangan setahun lalu, pahit. tetapi menjadi manis ketika saya duduk berada di hadapan laptop ini, melihat masa-masa itu sebagai masa lalu yang tidak bisa saya datangi kembali. Ketika saya kelimpungan dengan masalah yang datang bertubi-tubi, ketika saya kelimpungan dengan keluhan para staf yang tiada henti-hentinya, ketika saya kelimpungan ketika rekan-rekan seperjuangan jenuh, ketika saya kelimpungan karna tiada tempat dimana saya ingin mensharingkan permasalahan yang saya temui. semuanya begitu manis untuk dikenang.&lt;br /&gt;dan saya siap, untuk berjuang kembali menemani perjalanan pengurus yang baru, walaupun di lembaga yang berbeda. Mari luruskan niat, dalam menjalankan suatu amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan saya, tidak akan pernah berhenti, ketika amanah ini sudah tidak lagi saya pegang. Bagaimana mimpi2 ini tetap dapat hidup di hati-hati teman-teman yang lain. Mimpi kami bersama. MIMPI IMAKSI ke depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika kamu jatuh cinta, tidak ada yang bisa kamu lakukan selain berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Ketika kamu jatuh cinta, kepahitan pun kadang terasa manis. Ketika kamu jatuh cinta, maka kamu akan terus berusaha membahagiakan yang kamu cintai. Karena saya cinta IMAKSI. saya seperti ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IpkXUdJ3qWY/TyU5XRfSmeI/AAAAAAAAApk/HViD91iT2SI/s1600/LOGO+KECIL.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-IpkXUdJ3qWY/TyU5XRfSmeI/AAAAAAAAApk/HViD91iT2SI/s1600/LOGO+KECIL.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_K16VXLt--bA/TN2H-HC1lFI/AAAAAAAABmw/MQPGK4R-x9c/s1600/love.gif" imageanchor="1" style="clear: right; display: inline !important; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_K16VXLt--bA/TN2H-HC1lFI/AAAAAAAABmw/MQPGK4R-x9c/s200/love.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-922634325039008696?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/922634325039008696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/terimakasih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/922634325039008696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/922634325039008696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/terimakasih.html' title='TERIMAKASIH'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-IpkXUdJ3qWY/TyU5XRfSmeI/AAAAAAAAApk/HViD91iT2SI/s72-c/LOGO+KECIL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-295084271913185138</id><published>2012-01-25T05:38:00.000-08:00</published><updated>2012-01-25T05:38:57.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imaksi UPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='event'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akuntansi UPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='semangat pemuda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='funny'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curahan hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PLO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lucu'/><title type='text'>PLO II  IMAKSI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillahi rabbil alamin,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal 14 Januari 2012 kemarin, IMAKSI ngadain Pendidikan Lanjutan Organisasi (PLO) dengan lancar. Bertempat di Natural hill- Parongpong, PLO ini ditujukan buat mahasiswa baru 2011 yang mana ini adalah tahap pengkaderan terakhir dari IMAKSI sebelum mereka masuk kepengurusan IMAKSI. Karna diadakan pas minggu-minggu abis UAS, jadi banyak anak 2011 yang pada mudik. Sehingga cuma bisa hadir 31 orang. Tetapi secara keseluruhan acaranya lancar, rame, dan seruuu banget. Rangkaian acaranya, pertama-tama semua disuruh kumpul dulu di taman partere UPI jam7 pake baju olahraga, santai, gak perlu dresscode-dresscode lah. Panitia, undangan, dan peserta didata siapa2 aja yang bawa kendaraan pribadi, dan yang mau rombongan naik ancout.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan pada hari ini, sedihnya, ketika gue mau ngambil kamera di kosan yoyo, gue jatoh dari motor di depan BNI. huhu. Alhasil kaki gue bonyok selama acara berlangsung. haha. Tapi karna acaranya fun banget, jadi gak berasa deh bonyoknya. hahahaha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah ngumpul kita langsung caps ke lokasi. Setelah pembukaan dan bla bla bla cuap cuap. Masuk ke materi yang pengisinya dari School of Leadership, yang mana itu adalah programnya dari temen gue Haris. Materinya bagus, tapi ada something yang mungkin sederhana tapi fatal sehingga mengganggu fokus dari peserta. yaaa gue gak akan bahas disini laaah.. gak begitu penting kok sebenernya. :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu, masuk ke sharing-sharing. Gue, anwar, dan kang agus (ketua BPM) dapet jatah buat pegang anak 2010, dan yang lainnya pegang anak2 2011. Setelah itu, kita langsung break ishoma. beres-beres. dan langsung masuk ke sesi games. dan pembantaian. hahahahahha. engga kok. ekstrem banget sih namanya pembantaian. hahaha. yaaa pokoknya seru-seruan aja. Inilah beberapa dokumentasinya...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;cekidooottt....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zwO0MPNhslw/TyABce-Bd-I/AAAAAAAAAoU/52jCLg_TxoE/s1600/IMG_0662.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://4.bp.blogspot.com/-zwO0MPNhslw/TyABce-Bd-I/AAAAAAAAAoU/52jCLg_TxoE/s400/IMG_0662.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto bersamaaaaaa&lt;br /&gt;gue basah kyup. bonyok. kedinginan. brrrrrr&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Wzhb8bJec2k/TyABnjQMEBI/AAAAAAAAAoc/sSzC4w-ZF5Q/s1600/IMG_0496.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-Wzhb8bJec2k/TyABnjQMEBI/AAAAAAAAAoc/sSzC4w-ZF5Q/s400/IMG_0496.JPG" width="265" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Loh, bisa naik juga yaaa si au??? hmmmm&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-O5E5K5X44Qc/TyAB0MxAU3I/AAAAAAAAAok/fwmEY_rPls0/s1600/IMG_0506.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-O5E5K5X44Qc/TyAB0MxAU3I/AAAAAAAAAok/fwmEY_rPls0/s400/IMG_0506.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Eeeeeh ini ada yang pre wedding. hmmm si kang agus jeung hasni.&lt;br /&gt;nanti photografer sama editing undangan bisa nih jadi pilihan bisnis. hahaha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Eip7ahDIaR0/TyAB-ra6jmI/AAAAAAAAAos/xPw-iU6m4mE/s1600/IMG_0509.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-Eip7ahDIaR0/TyAB-ra6jmI/AAAAAAAAAos/xPw-iU6m4mE/s400/IMG_0509.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Loh?? ini pre wedding juga gak yaa?? apa pre divorce?? nghahahaha&lt;br /&gt;DUET MAUT&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-h-fp2bqxj20/TyACJINOx3I/AAAAAAAAAo0/H1JIoXKD5kg/s1600/IMG_0560.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-h-fp2bqxj20/TyACJINOx3I/AAAAAAAAAo0/H1JIoXKD5kg/s400/IMG_0560.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aduuuhh ibu yoyooo.. kayak lagi piknik&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-881kvgfw0F8/TyACUhr3rrI/AAAAAAAAAo8/XOjJLDVLQNQ/s1600/IMG_0563.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-881kvgfw0F8/TyACUhr3rrI/AAAAAAAAAo8/XOjJLDVLQNQ/s400/IMG_0563.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PE8mmOd2chE/TyACpSEz-7I/AAAAAAAAApE/sj670cR1ya4/s1600/IMG_0596-tile.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://2.bp.blogspot.com/-PE8mmOd2chE/TyACpSEz-7I/AAAAAAAAApE/sj670cR1ya4/s400/IMG_0596-tile.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dan ini adalah detik-detik pembantaian saya. perhatikan di awal!&lt;br /&gt;SIAPAAA PENJAHAT YANG NARIK TAS SAYAH??&lt;br /&gt;hhahahaha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VfoibBsS8e4/TyAC4sfGFyI/AAAAAAAAApM/t9PBF1ipan4/s1600/IMG_0645.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-VfoibBsS8e4/TyAC4sfGFyI/AAAAAAAAApM/t9PBF1ipan4/s400/IMG_0645.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Eleeeuuhhh si kang anwar teeeh meniiii cuuuteeeeee&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bd_WDPE0_Jk/TyADYpjkj4I/AAAAAAAAApU/f2qZaxFOCac/s1600/IMG_0648.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-bd_WDPE0_Jk/TyADYpjkj4I/AAAAAAAAApU/f2qZaxFOCac/s400/IMG_0648.JPG" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Loh?? itu di belakang?? iqbal chibi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ntNyX-cwz1s/TyADllwZp5I/AAAAAAAAApc/Oj1byikI04Y/s1600/IMG_0654.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-ntNyX-cwz1s/TyADllwZp5I/AAAAAAAAApc/Oj1byikI04Y/s400/IMG_0654.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Yaaakk. jargon terakhiiiir semangaattttttt&lt;br /&gt;hahahaha. MAJALENGKAAAAA DIGOYAAAAAAAAAANGGG&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Nah, segitu mungkin laporan dari event PLO kemarin. semoga event ini bisa menambah kedekatan dan mempererat ukhuwah kami. aamiin&lt;br /&gt;IMAKSI...&lt;br /&gt;JAYA!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-dewi hardianti pratiwi-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-295084271913185138?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/295084271913185138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/plo-ii-imaksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/295084271913185138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/295084271913185138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/plo-ii-imaksi.html' title='PLO II  IMAKSI'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zwO0MPNhslw/TyABce-Bd-I/AAAAAAAAAoU/52jCLg_TxoE/s72-c/IMG_0662.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-3409838688519845406</id><published>2012-01-24T06:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T06:30:04.736-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='funny'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fym'/><title type='text'>FYM&gt;&gt;mahasiswa banget</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;IKLAN TEH IP ucuk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://media.tumblr.com/tumblr_lxjiluAxDU1qf5e57.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://media.tumblr.com/tumblr_lxjiluAxDU1qf5e57.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;grrrrrrrrr =,="&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-3409838688519845406?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/3409838688519845406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/fymmahasiswa-banget.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3409838688519845406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3409838688519845406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/fymmahasiswa-banget.html' title='FYM&gt;&gt;mahasiswa banget'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6329916869594387824</id><published>2012-01-24T06:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T06:31:36.838-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lucu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fym'/><title type='text'>Parangin-angin Day</title><content type='html'>Hari ini berangin banget. Yang bikin ngerinya itu asbes depan kosan gue tuh, kayak yang mau terbang. hahaha. Mudah2an aja kagak nyangsang ke kosan gue dah. kayaknya tu orang pas balik ke kosanya kaget banget deh. Soalnya udah aut2an gitu bentuknya. tirau bambunya jatoh kemana tau dah. haha. maaf yaaa tetangga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, gue tadinya iseng2 buka pottermore. tapi telat kayaknya, batch nya udah ditutup, pantesan aja gue kagak nemu tanda sign up nya. =.="&lt;br /&gt;Terus langsung buka-buka webnya &lt;a href="http://yeahmahasiswa.com/"&gt;Yeahmahasiswa.com&lt;/a&gt; kocaaak abis. gue cekikikan sendiri di kamar. hahhaa. Tapi tipsnya baca gituan harus mahasiswa, kalo bukan gak bakal dapet feelnya. hahahhaa.&lt;br /&gt;coba cek aja.&lt;br /&gt;Nih salah satu yang bikin gue ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://27.media.tumblr.com/tumblr_lvbsyp7o2Q1qfm827o1_500.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://27.media.tumblr.com/tumblr_lvbsyp7o2Q1qfm827o1_500.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;agak frontal sih emang. haha. tapi mahasiswa banget nih. ckckckckck =.="&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kelas 3D Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Rajin:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Duduk, Dengar (biasanya paling depan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Aktivis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Duduk, Dengkur (habis rapat sampe larut malem)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Da’i:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Duduk, Dakwah (Subhanallah..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Sales:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Dagang, Duit (bahkan jualan ketika kelas berlangsung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Telat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Diusir, Dengkur (mendingan tidur lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Idaman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Digodain, Dikejar-kejar (asal bukan homo aja yang ngejar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Gabut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang, Download, Dengkur (Kampus=Kostan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa(?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download, Dengkur, Dugem (Niat kuliah kagak sih???)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6329916869594387824?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/6329916869594387824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/parangin-angin-day.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6329916869594387824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6329916869594387824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/parangin-angin-day.html' title='Parangin-angin Day'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-4110489820166592089</id><published>2012-01-23T06:55:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T06:55:50.326-08:00</updated><title type='text'>Doa di malam yang dingin</title><content type='html'>Teruntuk mu yang jauh disana..&lt;br /&gt;Ingin sekali bertanya padamu,&lt;br /&gt;"Sedang apa?"&lt;br /&gt;Ingin sekali kuraih ponsel merah ini dan mengetikkan teks pendek dan kukirimkan ke nomer kontakmu&lt;br /&gt;Tapi, hati ini melarang.&lt;br /&gt;Aku tidak sanggup melakukan itu.&lt;br /&gt;Karna aku takut mengganggumu.&lt;br /&gt;Aku sadar, aku harus tegas pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;Tak boleh terus terpuruk dalam keadaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb.. Kau tau isi hatiku.&lt;br /&gt;Kau selalu tau, ini adalah kelemahanku&lt;br /&gt;Kau selalu mendengar keluhku yang mungkin seputar itu&lt;br /&gt;Ya Rabb.. Engkau menganugerahkan perasaan yang sama dulu&lt;br /&gt;Dan kini, aku berhasil menghilangkan perasaan itu&lt;br /&gt;Tapi, kini hal yang sama kurasakan kembali&lt;br /&gt;Apa yang salah dengan diriku?&lt;br /&gt;Sehingga aku terpuruk pada keadaan yang sama.&lt;br /&gt;Ya Rabb..&lt;br /&gt;Aku tidak bisa memilih saat ini. Antara siapa.&lt;br /&gt;Karena memang belum saatnya aku memilih.&lt;br /&gt;dia, yang dahulu membawaku mengenal lingkungan dan sahabatku saat ini,&lt;br /&gt;aku yakin ada yang lebih baik dari sekedar diri ini,&lt;br /&gt;diri yang masih memiliki banyak kekurangan, yang ceplas ceplos&lt;br /&gt;yang tidak ada apa2nya dibandingkan wanita itu.&lt;br /&gt;Jika memang ada yang lebih baik dariku untuknya maka,&lt;br /&gt;aku ikhlas.&lt;br /&gt;dan dia,&lt;br /&gt;yang kini hadir, mungkin ada wanita pula yang lebih baik dariku untuk disandingkan dengannya&lt;br /&gt;mungkin ada wanita yang lebih dibanding seorang gadis yang sedang menyusun rangkaian kata melalui keyboard laptopnya, yang nanti bisa menarik hatinya,&lt;br /&gt;maka..&lt;br /&gt;jika seperti itu, aku ikhlas&lt;br /&gt;Ya Rabb.. kuatkan diriku untuk tidak jatuh pada cinta semu&lt;br /&gt;yang belum menjadi hak-ku&lt;br /&gt;dia, atau dia.. aku tidak tahu mana diantara mereka yang Engkau tetapkan untukku&lt;br /&gt;Atau ada pria lain, yang kini aku tak tau berada dimana, yang sedang menungguku.&lt;br /&gt;Yang sedang mempersiapkan dirinya untuk datang menghadap orang tuaku.&lt;br /&gt;Ya Rabb.. sampai saatnya nanti, hilangkan rasa gundah ini.&lt;br /&gt;Aku tidak mau menghianatiMu, dan menghianati suamiku.&lt;br /&gt;Belahan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb.. jika memang dia jodohku,&lt;br /&gt;dekatkanlah. Jika dia belum baik saat ini,luruskan lah&lt;br /&gt;dan jika aku belum baik saat ini, maka luruskan pula lah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai yang ada disana..&lt;br /&gt;aku tidak ingin merusak silaturahmi kita.&lt;br /&gt;maka, aku menghargaimu, sebagai seorang lelaki yang bebas menentukan pilihan&lt;br /&gt;aku tidak akan memaksakan kehendakku&lt;br /&gt;Semoga keberkahan selalu menyertaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-4110489820166592089?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/feeds/4110489820166592089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/doa-di-malam-yang-dingin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/4110489820166592089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/4110489820166592089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/doa-di-malam-yang-dingin.html' title='Doa di malam yang dingin'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5305485840387478323</id><published>2012-01-22T19:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T19:17:31.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curahan hati'/><title type='text'>Sunday Morning til Evening Thanks Risa :)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari minggu kemaren, adalah hari minggu yang.. hmmm.. gimana yaa..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya hari libur itu kan menyenangkan, tapi gue bete abis pagi-pagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gak tau kenapa, ada sih alasannya kenapa gue bete, tapi gue keseeel bgt pagi2 kemaren. mungkin karna gue gak matsuratan juga kali, jadinya masih pagi, hati rasanya udah gak tenang aja bawaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ngebuka facebook sama twitter. tambah panas nih rasanya. haha. Mohon maaf pokoknya untuk semua pihak yang kena dampaknya pas pagi-pagi :p&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi mood agak membaik setelah ketemu sama adik tingkat yang mau nyerahin LPJ. Ketemu orang, ngobrol,bisa&amp;nbsp; bikin mood gue yang tadinya ancur bgt agak bener dikit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abis itu gue langsung ke unpad ada kumpul FoSSEI. Belakangan job gue terbangkalai karena kesibukan di himpunan, jadi ketika gue bisa dateng rapat, yaudah laaah.. gue dateng aja, berusaha menyenangkan hati sang koreg juga tuh kang asa. hehe.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika rapat, disana sudah ada Kang asa, Kang Asrul, Kang Fadly, sama risa. Gue dapet jobdesk baru untuk ngehandle newsletter FoSSEI bakal kepentingan perluasan networking FoSSEI jabar juga. Sama gue disuruh juga untuk ngeliput tentang pendirian Bandung Sharia Centre atas prakarsa BI, MUI, dan Asbisindo bandung. Agak repot sih ,, karena deadlinenya sebelum gue mumas. Hmm.. tapi usaha maksimal dulu aja, yang penting LPJ kan udah beres, tinggal mempertanggung jawabkan di mumas aja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beres rapat FoSSEI sekitar jam setengah 1an, gue dan risa langsung sholat dzuhur dulu di masjid Unpad DU, dan langsung pulang. Karena gue belum makan, pagi-paginya cuma makan roti doang, jadi gue ngajakin risa makan dulu di 5mu, kebetulan juga risa lagi gak pengen langsung pulang ke kosan. Akhirnya kita capcus makan pagi dirapel sama makan siang. Gue pesen menu kesukaan gue Sop Iga Bakar, risa pesen capcay lada hitam. Hehehe. Disana kita ngomongin, FoSSEI, SCIEmics, daan lain lain. Risa adalah salah satu temen yang gue percaya buat gue cerita semua masalah gue. Seenggaknya, untuk anak luar akuntansi, dia doang yang gue ceritain semua curhatan gue LENGKAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;karena agak risih kalo cerita di 5mu, akhirnya kita ke masjid DT, duduk-duduk disana, cerita2. Risa cerita tentang masalah nya dia, aku juga cerita tentang masalah aku. Risa tuh ngerti banget aku, dan sama dia aku nyamaan bgt. Memang bener mungkin yaa kata orang, kalo orang-orang yang jadi sahabat kita itu memang udah jodoh kita. Aku sering cerita tentang masalah organisasi ke risa, risa pun aktif di organisasi jadi dalam memberi masukan pun masih bisa diterima. Dan mungkin karna sesama akhwat, kita pun gak ragu untuk mengungkapkan masalah-masalah yang lebih pribadi lagi. Seperti masalah yang aku rasain sekarang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita keketawaan nginget kekonyolan-kekonyolan masa masa lampau, terus galau mengingat apa yang akan ada di depan nanti. Kepada siapakah kita nanti disandingkan. Semuaanyaaa. hehehe.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thanks banget ya risaa..&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;buat kemaren. hehe. agak lega juga nih. Setidaknya sudah bisa melepas sedikit kegundahan yang melanda. Dan mulai sekarang pengen ikhlas aja melepas semuanya. Kita bersama-sama saling mengingatkan yaaa.. sama-sama memperbaiki diri untuk menyambut siapa pun ikhwan yang sudah ditakdirkan untuk kita. karena dia yang nanti digerakkan untuk datang menghadap orang tua kita, adalah yang terbaik yang telah Allah siapkan untuk kita.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yJZ5HtlyJ6I/TekPyfVO3TI/AAAAAAAAADA/PTxLRA2Bs-o/s400/2_akhwat_by_ryuchi87-d38xcxk.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="273" src="http://2.bp.blogspot.com/-yJZ5HtlyJ6I/TekPyfVO3TI/AAAAAAAAADA/PTxLRA2Bs-o/s320/2_akhwat_by_ryuchi87-d38xcxk.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ana Uhibbuki Fillah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;-Dedew-&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5305485840387478323?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5305485840387478323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5305485840387478323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/sunday-morning-til-evening-thanks-risa.html' title='Sunday Morning til Evening Thanks Risa :)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yJZ5HtlyJ6I/TekPyfVO3TI/AAAAAAAAADA/PTxLRA2Bs-o/s72-c/2_akhwat_by_ryuchi87-d38xcxk.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-2260929182257482031</id><published>2012-01-22T16:25:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T16:25:17.644-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i love Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Ketika Tuhan Bicara, Ketika kau jatuh cinta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;03 Nov 2011 By  DEWI SITI LESTARI&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;SEKAR     : TUHAN, hari ini aku kenalan sama orang. Namanya Ikhwan…  Orangnya baiiiiiik sekali. Kira-kira, besok aku ketemu lagi ga ya sama dia?&lt;br /&gt;Tuhan hanya diam.&lt;br /&gt;SEKAR     : YAA RABB, hari ini aku ngobrol sama Ikhwan. Ternyata dia ramaaaaah banget. Orangnya dewasa lagi… kira-kira, sekarang dia lagi ngapain ya?&lt;br /&gt;Tuhan hanya mendengarkan.&lt;br /&gt;SEKAR     : YA ALLAH, hari ini aku ketemu dan ngobrol lagi sama dia. Rasanya senaaaaang sekali. Dia bilang aku baik… dia bilang… dia bilang… duuuh, kenapa sih aku ga bisa berhenti mikirin dia?&lt;br /&gt;SEKAR     : Ya Tuhan, dia bilang dia sayang aku. Rasanya aku jatuh cintaaa!&lt;br /&gt;SEKAR     : Tuhanku, udah seminggu ini dia ga ngasih kabar. Kenapa ya? Dia udah lupa ya?&lt;br /&gt;SEKAR     : Tuhanku, udah sebulan… tapi tetep ga ada kabar. Smsku ga pernah dibales. Surat dariku ga pernah dijawab. Ternyata benar dia udah ga peduli. Ternyata benar dia cuma pura-pura sayang.&lt;br /&gt;Aku sedih ya Tuhan… ternyata aku bodoh sekali. Ternyata… ternyata…&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-EbDTIp7Re7g/Twmaywd_mfI/AAAAAAAAAH8/-3IgvqacQPM/s1600/1234.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-EbDTIp7Re7g/Twmaywd_mfI/AAAAAAAAAH8/-3IgvqacQPM/s320/1234.jpg" width="314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Akhirnya…&lt;br /&gt;Tuhan pun bicara…&lt;br /&gt;Sekar, sebelum tangismu memecah dunia&lt;br /&gt;Sudah kupilihkan untukmu pendamping setia…&lt;br /&gt;Yang kan menjagamu sepanjang waktu&lt;br /&gt;Yang kan memimpinmu untuk menjaga kemuliaan dien-Ku&lt;br /&gt;Maka mengapa engkau rela masuk&lt;br /&gt;Ke dalam labirin cinta yang semu… dan&lt;br /&gt;Mengikrarkan cintamu pada seseorang yang tak kau tahu…&lt;br /&gt; Sekar…, saat kau merasa bahagia&lt;br /&gt; Atas cinta yang kau rasa, saat itu pula&lt;br /&gt; Tak tahukah engkau betapa KU tercabik-cabik,&lt;br /&gt; saat pikiranmu mengawang bersamanya?&lt;br /&gt; Padahal kau tahu aku dekat, lebih dekat&lt;br /&gt; Dari urat lehermu sendiri…&lt;br /&gt; Maka mengapa kau tak peduli?&lt;br /&gt;Sekar, saat kau merasa pijakanmu runtuh&lt;br /&gt;Ketika ia pergi, mengapa kau tak melihat&lt;br /&gt;Bahwa AKU selalu menemani?&lt;br /&gt;Mengapa kau terus menyiksa diri dengan sejuta&lt;br /&gt;Pertanyaan kenapa ia tak kembali…&lt;br /&gt; Sekar yang KUkasihi dan KUsayangi seperti hamba-hambaKU yang lain, &lt;br /&gt; kuberi engkau  Orang tua, saudara, dan sahabat&lt;br /&gt; Untuk bisa kau jaga…&lt;br /&gt; Untuk jadi teman tertawa, untuk menebar cinta&lt;br /&gt; Untuk membantumu menghapus lara… tapi mengapa kau&lt;br /&gt; Tak menyibukkan diri memikirkan mereka?&lt;br /&gt; Memikirkan orang-orang yang benar-benar mencintaimu…&lt;br /&gt; Memikirkan mereka yang sayangnya &lt;br /&gt; tak pernah luruh oleh waktu…&lt;br /&gt;Namun Cintaku, jika hati dan seluruh ragamu&lt;br /&gt;Ingin kembali ke cahyaKU…&lt;br /&gt; Maka tak pernah ada kata terlambat untukmu&lt;br /&gt;Dan para malaikat telah mencatat niat tulusmu itu di bukunya… &lt;br /&gt;dan saat itu pula kau kan melihatKu tersenyum bahagia…&lt;br /&gt; Karena apa pun keadaanmu,&lt;br /&gt; Kasih sayangKU tak kan pernah pudar&lt;br /&gt; KepedulianKU tak kan pernah mati&lt;br /&gt; RahmatKU tak kan pernah surut&lt;br /&gt; Hingga bumi mengeluarkan isi perutnya…&lt;br /&gt; Hingga semesta meruntuhkan langit terakhirnya…&lt;br /&gt; Ketahuilah, Cinta_KU… kasih_KU kan selalu ada&lt;br /&gt; Sampai perjalananmu nanti menuju surga.&lt;br /&gt;wallahualam…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;re-blog from &lt;a href="http://risaimroatussholihah.blogspot.com/"&gt;Nice Muslimah :)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-2260929182257482031?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2260929182257482031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2260929182257482031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/ketika-tuhan-bicara-ketika-kau-jatuh.html' title='Ketika Tuhan Bicara, Ketika kau jatuh cinta'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EbDTIp7Re7g/Twmaywd_mfI/AAAAAAAAAH8/-3IgvqacQPM/s72-c/1234.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5348096368629865034</id><published>2012-01-21T17:15:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T17:15:59.049-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curahan hati'/><title type='text'>KEEP IT COOL BEYBEEEH</title><content type='html'>L is all the way you look at me&lt;br /&gt;O is for the Only one I see&lt;br /&gt;V is Very Very extraordinary&lt;br /&gt;E is Even more than anyone that you adore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sepotong lirik dari lagu L.O.V.E, lagu ini mungkin bakal terasa indah bgt kalo didengerin pas lagi jatuh cinta. Tapi ketika lo ngerasa patah hati dikecewakan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah kau..&lt;br /&gt;Pergi dari hidupku&lt;br /&gt;Bawalah semua rasa bersalahmu&lt;br /&gt;Pergilah kau..&lt;br /&gt;Pergi dari hidupku&lt;br /&gt;Bawalah rahasisamu yang tak ingin ku ketahui..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lagu sherina di atas bakal terus ada di winamp playlist lo. hahahha.&lt;br /&gt;Sama sih gue juga gitu..&lt;br /&gt;Kadang, kalo udah kebawa perasaan bgt kita suka sinetron deh. alias suka lebay.&lt;br /&gt;gue sih gak aneh, secara yang namanya cinta itu bok emang secara ilmiah mempengaruhi pola fikir otak kita. ada hormon yang menghambat kinerja otak, sehingga ada tuh namanya sensasi ketika ketemu dengan orang yang kita suka, rasanya dunia ini di PAUSE. hahhaha. trus angin sepoi-sepoi gitu kayak di FTV. tau tau sutradara ngomong CUT! "wooyy mimpi kali looo"&lt;br /&gt;hahahha&lt;br /&gt;*sleketep banget deh book*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya, setelah pengalaman tahun lalu, gue udah menghindari banget yang namanya love affair. Terlebih ketika gue lagi ditugaskan dengan kesibukan yang cukup menyita waktu dan fikiran sehingga gak kepikiran lagi tuh yang kayak gitu2an. Hati manusia itu bisa berubah-ubah. Bisa aja.. waktu setahun yang lalu, lo ngerasa deg2an banget ketika ketemu sama seseorang, tau-tau, kemaren pas lo ngobrol sama dia, dia mengeluarkan senyuman dahsyat yang mungkin bisa bikin kelepek2.. eh lo ngerasa BIASA AJA. mungkin aja kok. Karena cinta itu, gimana langkah tegas yang mau kita ambil. Apalagi buat eluuuu eluuuu yang lagi patah hati, langkah terefektif itu adalah dengan LUPAIN semuanya.&lt;br /&gt;Gak usah tuh didramatisir..&lt;br /&gt;"Ya ampuuunnn.. gue kira dia itu sukaa sama gueee?? pengen seriusss samaa gueee... tapi kenapaaaa KENAPAAAA.. kok dia malah ngelaba sama cewek laiin. gue liat di facebook diaaaa....&lt;br /&gt;Kenapaaaaa"&lt;br /&gt;*nangis kijing makan jengkol* &amp;gt;&amp;gt; gayanya kayak yang di iklan telkomsel loh. haha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atauuu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadiiii apa maksud kelakuaaan dia ke gueee selamaaa iniiii???? apaaahhh??? gue kira gue orang yang special buat diaaaa,,, sampe akhirnyaaa, gue pun punya feeling ke diaaaa. tapi kenapa setelah gue mulai menyadariii perasaaan gueee.. dia malah pergi dengan ceweeek laiinnn"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NGOK&lt;br /&gt;sinetron abis&lt;br /&gt;hahhaa&lt;br /&gt;yaaaa gini deh kalo kebanyakan nonton ftv, curhat ke temen atau curhat ke diary aja sampe begitu. hmmmm&lt;br /&gt;memang sih gak salah, apalagi kalo cewek tuh kan kita lebih perasaaa.. Gak bisa menutup nutupi perasaan banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapii ya udah laaah yaaa.&amp;nbsp;&lt;em&gt;stay cool. keep calm&amp;nbsp;&lt;/em&gt;ajaaah.. hehe. dulu juga elu berhasil melakukan hal yang sama, emang butuh waktu. satu kuncinya sih, gak usah dibawa ribet kayak sinetron, lo mau sisinetronan juga siapa yang mau nonton. =,="&lt;br /&gt;Ini pesan buat temen-temen semuaaa yaa.. khususnya buat ciceweeek ciceweee.. kalo kira2 bisa diterapkan ke cowok yaaa manggaaa...&lt;br /&gt;Yang jelas udah tuh STOP GALAU-GALAUAN. cari aja hal yang lebih bermanfaat buat kita fikirin ketimbang orang yang gak jelas, yang belum tentu dia jodoh kita apa bukan. Kalo jodoh juga gak akan lari kemana koook.. jadi inget lagunya band siapa yaaa gue lupa. Ah . lupa pisaaan. hahaha.&lt;br /&gt;tau ah gak usah dibahas!. hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay.. see yaaa &amp;nbsp;in the next post guys..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babbaaayyy ^^&lt;br /&gt;X.O.X.O&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5348096368629865034?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5348096368629865034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5348096368629865034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/keep-it-cool-beybeeeh.html' title='KEEP IT COOL BEYBEEEH'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-2872982951284263113</id><published>2012-01-19T03:13:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T17:18:33.984-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='formspring'/><title type='text'>Formspring : Ask me Anything???</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: large;"&gt;If you could have a super power, what would it be?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;--&amp;gt; i want to be a red ranger!! ARRWWWW&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;What is your favorite breakfast food?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;--&amp;gt; ketoprak :)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;What was the best advice you've ever received?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;--&amp;gt;&amp;nbsp; Bila dirimu sekarang sedang menunggu seorang untuk dijadikan sahabat sejati dalam menjalani kehidupan menuju Ridho-NYA ,Bersabarlah dengan Keikhlasan ,Demi ALLAH, dia tidak datang karena ketampanan, kecantikkan, kepandaian atau kekayaan....&lt;br /&gt; Tapi, ALLAH lah yang menggerakkanya untukmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Janganlah engkau tergesa-gesa,untuk menyatakan ''Cinta'' sebelum diberi kemantapan hati oleh-NYA.Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu..Siapakah yg lebih mengetahui melainkan ALLAH.....???&lt;br /&gt; Segala daya hanya milik-NYA..ALLAH akan mengirimkan seorang yg tepat disaat yg tepat untukmu...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Chocolate or vanila ??&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;--&amp;gt; Chocolate&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.formspring.me/dewihardianti"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Formspring : Ask me anything&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-2872982951284263113?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2872982951284263113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2872982951284263113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/formspring-ask-me-anything.html' title='Formspring : Ask me Anything???'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-2163733248598649383</id><published>2012-01-19T02:59:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T02:59:16.011-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='formspring'/><title type='text'>Would you rather swim in a poll or ocean?</title><content type='html'>Pool. gue takut laut soalnya. hahaha :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.formspring.me/dewihardianti"&gt;ask me anything :)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-2163733248598649383?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2163733248598649383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2163733248598649383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/would-you-rather-swim-in-poll-or-ocean.html' title='Would you rather swim in a poll or ocean?'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5592636553398303766</id><published>2012-01-19T02:42:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T02:42:05.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='food place'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='love today'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='favorite'/><title type='text'>LOVE LOVE LOVE LOVE</title><content type='html'>hihihihi... pasti diantara kalian ada yang punya masakan kesukaan kaaaan??? misalnya semur jengkol, ayam goreng, sambel tempe, atau yang lainnya. Pastii lah. Begitu pun dengan gue, kalo lagi suntuk kadang gue suka banget makan yang kuah-kuah. Waktu kecil gue tergolong anak yang gak suka sayuran sama sambel sebenernya, dikasih sayuran berbagai macam rupa gue gak suka. Makanan kena sambel dikit aja gue gak mau nyenggol.&amp;nbsp; Sekarang pas gede,, ckckck. sambel terasi buatan emak gue pun kadang suka gue protes gara-gara menurut gue kurang pedes. Wajar sihh yaa. semenjak gue kuliah di bandung cemilan gue seblak basah, gehu jeletot sama pikset atau basreng ceu nono (nono tuh temen kuliah gue =__=")&lt;br /&gt;Dan setelah gue tumbuh besar, gue menyukai sebuah sayur, ecieeee.. gaya bet.&lt;br /&gt;Sayur sop namanya :) hohohoho. Gue gak tau semenjak kapan gue suka sama tuh sayur, gak tau karna apa gue jadi suka tu sayur, mungkin sama prinsipnya ketika lo jatuh cinta. asiiikk..&lt;br /&gt;Lo ga tau kenapa lo bisa suka sama dia, dan lo gak pernah nebak kaan kalo suatu saat lo bisa suka sama doi, bahkan bisa suka banget. hahaha. :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gue punya tips biar masakan sayur sop itu sedep bgt. "MASUKIN LADA YANG BANYAK dan REBUS PAKE KALDU DAGING ASLI"&lt;br /&gt;itu bakal muanteepp banget deh. hehehehe. emak gue udah mengakui kok masakan gue. wkwkwk :p&lt;br /&gt;Pokoknya Love banget deh sama sayur sop. hahahaha&lt;br /&gt;Dan love today nya, karena gue hari ini masak sayur sop dan dibawain kfc ama babeh, wkwkwk. Bahagiaaa nyaa setelah nafsu makan muncul kembaliiii :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5SElNDeXfHo/SmAyCcrq1dI/AAAAAAAAACg/Jjqn5YEj5e0/s400/3726243654_3ac2c16ed7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/_5SElNDeXfHo/SmAyCcrq1dI/AAAAAAAAACg/Jjqn5YEj5e0/s400/3726243654_3ac2c16ed7.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5592636553398303766?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5592636553398303766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5592636553398303766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/love-love-love-love.html' title='LOVE LOVE LOVE LOVE'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5SElNDeXfHo/SmAyCcrq1dI/AAAAAAAAACg/Jjqn5YEj5e0/s72-c/3726243654_3ac2c16ed7.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-4730064216152056281</id><published>2012-01-18T15:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T15:30:00.575-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i love Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>POETRY</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-x1UVzMElcz8/TxdVc2SeE8I/AAAAAAAAAoE/AetP-H91w48/s1600/tumblr_lvgwnou0tS1qhx4lmo1_400.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-x1UVzMElcz8/TxdVc2SeE8I/AAAAAAAAAoE/AetP-H91w48/s1600/tumblr_lvgwnou0tS1qhx4lmo1_400.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt; Saat aku menyukai seorang teman&lt;br /&gt; Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir&lt;br /&gt; Sehingga aku tetap bersama-Mu yang tak pernah berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah...&lt;br /&gt; Ketika aku merindukan seorang kekasih&lt;br /&gt; Rindukanlah aku kepada yang rindu cinta sejati-Mu&lt;br /&gt; Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah...&lt;br /&gt; Jika aku mesti mencintai seseorang&lt;br /&gt; Pertemukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu&lt;br /&gt; Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah ..&lt;br /&gt; Ketika aku sedang jatuh cinta&lt;br /&gt; Jagalah cinta itu&lt;br /&gt; Agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah ..&lt;br /&gt; Ketika aku berucap "aku cinta padamu"&lt;br /&gt; Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu&lt;br /&gt; Agar aku tak jatuh cinta dalam cinta yang bukan karena-Mu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagaimana orang bijak berucap..&lt;br /&gt; Mencintai seseorang bukanlah apa-apa&lt;br /&gt; Dicintai seseorang adalah sesuatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti&lt;br /&gt; Tapi...... dicintai oleh Sang Pencinta adalah SEGALANYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-G6X96_gC6ck/TxdVppIlfQI/AAAAAAAAAoM/xtERt4pncfc/s1600/up03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-G6X96_gC6ck/TxdVppIlfQI/AAAAAAAAAoM/xtERt4pncfc/s400/up03.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-4730064216152056281?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/4730064216152056281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/4730064216152056281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/poetry.html' title='POETRY'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-x1UVzMElcz8/TxdVc2SeE8I/AAAAAAAAAoE/AetP-H91w48/s72-c/tumblr_lvgwnou0tS1qhx4lmo1_400.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-2872531614081076017</id><published>2012-01-17T02:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T02:11:20.810-08:00</updated><title type='text'>IT'S CUTE WHEN...</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xXXdytLnhcA/TxVBuaFxmkI/AAAAAAAAAn8/eynkF52BD3Y/s1600/tumblr_lwqlxuDgup1qaos7ro1_500.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-xXXdytLnhcA/TxVBuaFxmkI/AAAAAAAAAn8/eynkF52BD3Y/s400/tumblr_lwqlxuDgup1qaos7ro1_500.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;foto tumblr ini bener2 yang mengena banget nih. hahahhaah.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Kalo memang bener ada orang yang kayak gini, berani langsung dateng ke bokap gue, weeehhh gue acungkan jempol deh.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Tapi belom tentu yaa diterima atau enggak, tapi yang jelas dia itu pria, dan calon suami yang baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Dapet juga dari Mario Teguh kalo mau cari lelaki yang baik lihatlah dari cara bagaimana dia memperlakukan:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;1. ORANG TUA.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;2. WANITA&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;3. ANAK KECIL&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;jangan sekali-kali berani mempertimbangkan atau berfikir dua kali deh buat cowok yang nggak hormat sama orang tuanya, suka ngebangkang, atau gak hormat dan gak sopan. LANGSUNG BLACKLIST aja coy.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;jangan sekali-kali berani mempertimbangkan atu berfikir dua kali buat cowok yang suka merendahkan cewek, contoh kecilnya aja, mereka suka ngegodain cewek seksi yang lagi lewat di depan mereka, itu namanya mereka nggak menghormati kita. diluar dari kelakuan wanita itu sendiri yang minta di godaa yaaa. kalo pria yang cenderung menghormati, mereka akan menundukkan pandangan dan nggak mengeluarkan kata-kata menghina atau meledek walaupun si wanita itu yang pamer sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;dan ini tips terakhir yang mau cari calon suami yang baik, lihat bagaimana mereka memperlakukan anak kecil, kalo ada anak kecil nakal, main jitak aja nggak, atau mereka penuh kasih sayang. hehehhe. ngajak main bareng gitu misalnya, kalo anak cowok yaa misalnya ngajak main bola bareng, atau gimana gitu. hehehehhe.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Waahhh.. bisa menemukan gak yaa lelaki yang seperti itu,, tentunya, temen-temen kalo kita mengharapkan pendamping yang seperti itu, kita pun berusaha untuk menjadi seperti itu. Hayoo semangat memperbaiki diri,, :))&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;oiya, ada tips juga nih dari seorang teteh, kata tetehnya, "kalau bisa, ketika mencari pendamping itu yang se-visi sama kita,"&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;apalagi, peran suami itu bagaikan seorang nahkoda, harus jelas kemana arah pernikahan ini akan dibawa, dan kita sebagai seorang istri, yang cewek-cewek tinggal mendampingi dan menemaninya bersama-sama untuk mencapai visinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Mungkin, itu pertanyaan pertama yang akan saya lontarkan ketika ada seorang yang datang untuk menyatakan niat menyempurnakan setengah agamanya, dan bagaimana pertanyaan itu dijawab, tentunya akan menjadi pertimbangan bagi saya untuk menerima atau menolak si pelamar. Allah pasti sudah menentukan yang terbaik, siapapun dia, walaupun sekarang ia berada entah dimana, insyaallah kami akan dipertemukan dalam sebuah ikatan suci untuk membangun pondasi-pondasi masyarakat muslim kembali dan membersarkan generasi-generasi muslim yang bisa membangun peradaban yang kuat. aamiin.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Saya yakin,setiap peristiwa yang saya alami saat ini, adalah proses pengkaderan khusus dari Allah SWT, bagi saya untuk bisa sejajar dengan sang pendamping yang insyaallah akan membawa saya ke jalan surga Allah SWT.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Impian saya, walaupun sederhana, dan mungkin sudah banyak yang bilang "basi" &amp;nbsp;atau "kolot" adalah menjadi seorang istri yang sholehah, yang berbakti pada suami, anak sholehah yang bisa mendoakan orang tuanya selalu, dan menjadi ibu yang bisa diteladani oleh anak-anak nya kelak. Ya Allah.. semoga Engkau meridhoi niatku, impianku ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Kutitipkan rasa cinta ini padaMu, Engkau yang mengetahui isi hati ini, dan bantulah aku untuk tetap menyimpannya rapat-rapat, hingga akan kuungkapkan disaat yang tepat. Sibukkanlah aku dengan hal-hal yang bermanfaat. sehingga tak ada celah bagi diri yang rapuh ini bagi syaitan untuk menggoda hamba.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Kutitipkan doaku untuknya yang berada disana, entah dimana,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Jika memang dia jodohku, pasti akan Engkau satukan kami. Dan selama masa penantian ini, jagalah hati ini, hatinya, agar jangan sampai cinta ini melebihi cintaku padaMu ya Rabb.. begitu pula dengan dirinya, Tetapi jika dia bukan jodohku, aku yakin, akan segera datang perstiwa yang mana akan mengubah pandangan, dan hati setiap manusia. karena sesungguhnya hati manusia itu selalu berubah-ubah, dan Engkaulah yang maha melembutkan hati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Ya Rabb. kuatkan hati ini, ketika nanti ternyata ada muslimah yang lebih baik dariku yang sudah menarik hatinya, dan ia pilih untuk mendampinginya. Aku yakin, jika memang itu yang terjadi, itulah yang terbaik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Jika nanti hatinya berubah, dan mengacuhkanku, kuterima semua, karena ini lah skenarioMu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-2872531614081076017?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2872531614081076017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/2872531614081076017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/its-cute-when.html' title='IT&apos;S CUTE WHEN...'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xXXdytLnhcA/TxVBuaFxmkI/AAAAAAAAAn8/eynkF52BD3Y/s72-c/tumblr_lwqlxuDgup1qaos7ro1_500.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-8793279968976475873</id><published>2012-01-14T21:18:00.001-08:00</published><updated>2012-01-14T21:18:30.022-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><title type='text'>Perjalanan Abadi. Beberapa kejadian besar yang dialami.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alam Kubur: &lt;br /&gt;Awal persinggahan menuju akhirat. Ia merupakan lubang neraka bagi orang kafir dan orang munafik, namun merupakan taman bagi orang mukmin. Ada siksa di dalam kubur atas beberapa maksiat, seperti tidak membersihkan diri dari air kencing, mengadu domba, berkhianat dalam hal rampasan perang, dusta, tidur melalaikan shalat, tidak membaca al Qur’an, berzina, homoseksual, riba tidak membayar hutang dan sebagainya. Yang dapat menyelamatkan dari siksa kubur adalah, mebaca surat Al Mulk dan sebagainya. Yang dilindungi dari siksa kubur adalah orang yang mati syahid, orang yang menjaga perbatasan dari musuh, orang yang meninggal pada hari Jum’at, orang yang meninggal karena menderita sakit perut, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiuapan Sangkakala:&lt;br /&gt;Ialah sangkakala besar yang dikulum oleh Israfil, menunggu kapan diperintahkan untuk meniupnya, yaitu tiupan faza’ (kematian), berdasarkan firman Allah: Dan ingatlah hari ketika ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah, ( An Naml: 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hancurlah alam semesta. Kemudian setelah empat puluh masa ditiuplah dengan tiupan ba’ts ( kebangkitan), berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). ( Az Zumar : 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kebangkitan:&lt;br /&gt;Kemudian Allah menurunkan hujan, maka tumbuhlah jasad-jasad (dari sebiji tulang pangka ekor) dan menjadi ciptaan baru yang tidak mati. Mereka dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki dan tidak berpakaian. Mereka dapat melihat para malaikat dan jin, dibangkitkan sesuai dengan amalan perbuatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang Mahsyar :&lt;br /&gt;Allah mengumpulkan semua makhluk untuk dihisab. Merek semua berada dalam kondisi ketakutan seperti orang mabuk, pada hari yang agung masanya setara dengan 50 ribu tahun. Seakan- akan dunia mereka hanyalah sesaat saja. Matahari menjadi dekat sejauh satu mil, dan manusia tenggelam dalam keringat mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka. Pada hari itu terjadi perseteruan antara orang-orang yang lemah dan para pembesar mereka (ketika di dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kafir berseteru dengan sesamanya, dengan setannya dan dengan anak buahnya, dan mereka saling melaknat. Orang yang zhalim akan mengigit kedua tangannya. Nereka Jahannampun didatangkan, ditarik dengan 70 ribu tali kekang , setiap tali kekang ditarik oleh 70 ribu malaikat. Jika orang kafir melihatnya, ia berharap menjadikan dirinya sebagai tebusan atau menjadi debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun para pelaku maksiat, maka orang yang tidak membayar zakat, hartanya dijadikan lempengan api lalu ia diseterika dengannya. Sedang orang-orang yang sombong dan angkuh, mereka dikumpulkan bagaikan semut. Para pelanggar janji, pengkhianat dan perampas harta orang lain akan diungkap kejahatannya, dan pencuri akan datang dengan membawa barang curiannya. Segala sesuatu yang tersembunyi akan ditampakkan. Adapun orang-orang yang bertakwa hal itu tidak menjadikan mereka takut, bahak hal itu berlalu bagaikan Shalat Zuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafa’at : &lt;br /&gt;Syafa'at Uzma (agung) khusus bagi nabi kita Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam untuk semua umat manusia pada hari mahsyar agar dibebaskan dari malapetaka yang hebat dan segera dihisab. Adapun Syafaat Ammah (umum) adalah bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau, seperti mengeluarkan orang-orang beriman dari neraka dan mengangkat derajat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisab (Perhitungan):&lt;br /&gt;Manusia dihadapkan kepada Rabb mereka dengan bersaf-saf. Kemudian diperlihatkan amal perbuatan mereka, dan mereka diminta pertanggung-jawabannya. Begitu pula tentang umur, masa muda, harta benda, ilmu, janji, kenikmatan, pendengaran, penglihatan dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kafir dan munafik akan dihisab di hadapan seluruh makhluk, untuk mempermalukan mereka dan menegakkan hujjah atas mereka; dan agar manusia, bumi, dari dan malam, harta benda, malaikat, dan seluruh anggota badan menjadi saksi atas diri mereka, sehingga terbuktilah dosa-dosa mereka dan merekapun mengakuinya. Sedangkan orang mukmin, Allah akan menghisabnya secara berduaan dengannya. Maka Allah akan memberitahukan kepadanya segala dosanya dan ia pun akan mengakuinya, sehingga ketika ia melihat dirinya pasti akan binasa, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepadanya: aku telah menutupi dosa-dosamu itu di dunia, dan Aku mengampuninya bagimu pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan hokum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Amal :&lt;br /&gt;Kemudian catatan amal perbuatan manusia pun dibagikan, maka mereka menerima suatu kitab yang: Tidak meninggalkan sesuatu kecil dan tidak (pula) sesuatu besar, melainkan ia mencatat semunya. ( Al Kahfi: 49) Orang mukmin menerimanya dengan tangan kanan, sedang orang kafir dan munafik menerimanya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizan (Neraca):&lt;br /&gt;Kemudian amal perbuatan semua makhluk ditimbang untuk diberikan kepada mereka balasannya, dengan timbangan yang hakiki dan teliti sekali. Neraca ini mempunyai dua piringan, menjadi berat dengan amal-amal perbuatan yang sesuai dengan syariat dan ikhlas karena Allah. Di antaranya yang memberatkan Neraca tersebut adalah ucapan: Laa ilaaha Illallah (tidak ada tuhan yang hak selain Allah), akhlak yang baik, dan dzikir, seperti bacaan: Al Hamdulillah, Subhanallah wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim ( Maha Suci Allah dan puji untuk-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung). Umat manusia menerima putusan sesuai dengan kebaikan dan kejelekan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haudh (Telaga) Kemudian orang-orang mukmin mendatangi haudh (telaga). Siapa meminum darinya maka tidak akan pernah merasa haus selamanya. Setiao nabi mempunyai haudh (telaga), yang paling agung adalah haudh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih wangi dari minyak kasturi. Bejananya terbuat dari emas dan perak, dan jumlahnya seperti bilangan bintang. Panjangnya lebih jauh dari jarak antara Kota Ailah di Yordania dan Kota Aden di Yaman. Airnya mengalir dari Sungai Al –Kautsar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Bagi Orang-orang yang Beriman: Pada hari akhir di padang Mashyar, orang-orang kafir mengikuti tuhan-tuhan mereka yang mereka sembah, lalu menghantarkan mereka ke neraka secara berbondong-bondong seperti kawanan binatang ternak, di atas kaki-kaki mereka atau di atas wajah-wajah mereka. Tidak ada yang tersisa kecuali orang-orang mukmin dan orang-orang munafik. Kemdian datanglah Allah kepada mereka dan berfirman: Apakah yang kalian tunggu? Mereka menjawab: Kami menunggu Rabb kami. Maka mereka mengetahui –Nya ketika betis-Nya disingkap, lalu mereka besimpuh sujud kecuali orang-orang munafik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini betis disingkpa dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa ( Al –Qalam: 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka mengikuti Rabb mereka, Dia pun membentangkan shirath (titian) untuk mereka lewati. Orang-orang mukmin pada saat itu diberi cahaya oleh-Nya, sedang cahaya orang-orang munafik dipadamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shirath (Titian) :&lt;br /&gt;Berupa jembatan yang membentang di atas nereka Jahanam untuk dilewati oleh orang-orang mukmin menuju ke surga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambarkan bahwa shirath itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Licin dan menggelincirkan, di sana terdapat kait-kait seperti duri Pohon Sa’dan, lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang) ( HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat inilah orang-orang mukmin diberikan cahaya sesuai dengan amala perbuatan mereka. Yang paling tinggi dari mereka besar cahayanya seperti gunung, dan yang paling rendah dari mereka cahayanya terdapat pada ujung jempol kakinya. Cahaya itu menyinari mereka sehingga mereka melewati shirath sesuai dengan amal perbuatan mereka. Ada orang mukmin yang melewati shiraht itu secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat burung, ada pula yang secepat kuda pilihan terbaik, dan secepat unta tunggangan. Ada yang selamat tanpa cacat, ada yang tergores akan tetapi selamat, dan ada pula yang terjatuh ke dalam neraka jahannam. ( Muttafaq Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang munafik, mereka tidak mendapatkan cahaya, maka mereka pun kembali, namun berdirilah pagar pemisah antara mereka dan orang-orang mukmin. Lalu mereka menyebrangi shiraht, maka satu persatu dari mereka berhjatuhan ke dalam api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka:&lt;br /&gt;Masuk kedalam neraka orang-orang kafir, kemudian orang-orang mukmin yang berdosa, kemudian orang –orang mukmin yang berdosa, kemudian orang-orang munafik. Dari setiap seribu orang yang masuk adalah 999 orang. Nereka mempunyai 7 pintu. Apionya lebih panas 70 x dari api dunia. Tubuh orang kafir di dalam neraka menjadi besar agar merasakan pedihnya siksaan. Maka jarak antara kedua pundaknya menjadi sejauh perjalanan tiga hari, gigi gerahamnya sebesar gunung uhud, kulitnya menjadi tebal, setiap kali kulit itu hangus diganti dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan siksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minuman mereka adalah air yang sangat panas dapat mencabik-cabik usus mereka. Makanan mereka dalah pohon Zaqqum (sejenis pohon yang tumbuh di neraka), Ghislin (darah dan nanah yang keluar dari daging penghuni neraka), dan Shalid (darah yang bercampur dengan nanah). Yang paling ringsan siksanya adalah orang yang kedua telapak kakinya beralaskan bara api sehingga otaknya mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam neraka terdapat pembakaran kulit, pelelehan, penghapusan, penyeretan, belenggu dan rantai. Nereka dasarnya sangat dalam sekali, sekiranya seorang anak yang baru lahir dilemparkan ke dalamnya., setelah 70 tahun baru mencapai dasar tersebut. Bahan bakarnya adalah orang-orang kafir dan batu, udaranya adalah angin yang sangat panas, naungannya adalah asap yang hitam pekat, pakaiannya api yang memakan segala sesuatu tanpa meninggalkan sisa . Ia mengeram, bergemertak, dan membakar kulit hingga sampai ke tulang dan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qantharah (Jembatan):&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang-orang mukmin selamat dari neraka, namun mereka ditahan di atas qantharah (jembatan) antara surga dan neraka, maka ada di antara mereka dipootng kebaikannya dan diberikan kepada orang lain karena kezhaliman yang pernah dilakukannya ketika di dunia. Setelah dibersihkan dan disucikan dari itu semua, merekapun diizinkan untuk masuk ke surga. Demi Allah yang jiwa Muahmmad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui rumahnya di surga daripada rumahnya ketika masih di dunia. ( HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga:&lt;br /&gt;Adalah tempat kediaman bagi orang-orang mukmin. Bangunannya terbuat dari perak dan emas, adukannya dari minyak kasturi, kerikilnya dari mutiara dan batu permata, dan debunya dari za’faran. Surga mempunyai delapan pintu tersebut penuh sesak. Di surga terdapat seratus tingkatan, jarak antara satu tingkatan dan tingkatan lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Tingkatan yang paling tinggi adalah Firdaus. Dari Firdaus inilah mengalir sungai-sungai surga. Atap dari Firdaus ini adalah Arsy Ar Rahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai-sungai surga adalah madu, susu, khamr dan air yang mengalir tanpa arus. Orang mukmin mengalirkannya sekehendak hatinya. Buahnya tiada henti, dapat dipetik dari dekat, dan mudah. Di dalam surga ada tenda berongga yang terbuat dari mutiara, lebarnya 60 mil. Pada setiap sudut ada penghuninya, mereka itu mulus tubuhnya, tidak berbulu dan tidak berkumis, dan mata mereka seakan –akan memakai celak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap terjaga kemudaan mereka, dan tidak binasa pakaian mereka. Mereka tidak buang air kecil maupun besar, dan juga tidak kotor. Sisir mereka terbuat dari emas , dan keringat mereka bagai minyak kasturi. Bidadari surga semuanya cantik jelita, perawan, penuh cinta kasih dan umur mereka sebaya. Yang pertama kali masuk surga adalah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi. Ahli surga yang paling rendah tingkatannya adalah orang yang berangan-angan sesuatu lalu diberi sepuluh kali darinya. Para pelayan surga adalah anak-anak muda yang tetap muda. Mereka bagaikan mutiara yang bertaburan. Adapun nikmat surga yang paling aguang adalah melihat Allah dan keridhaan-Nya, serta keabadian. Whallahu ‘alam.. ^__^*&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-8793279968976475873?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8793279968976475873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8793279968976475873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/perjalanan-abadi-beberapa-kejadian.html' title='Perjalanan Abadi. Beberapa kejadian besar yang dialami.'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-3179617968433252884</id><published>2012-01-10T18:22:00.000-08:00</published><updated>2012-01-10T18:22:52.503-08:00</updated><title type='text'>Curhat nih. hehe</title><content type='html'>Assalamualaikum rekan-rekan pembaca blog saya. hehe&lt;br /&gt;semoga keselamatan dan keberkahan selalu menyertai kalian semua &amp;nbsp;yang sudah membaca tulisan dari alunan keyboard laptop saya. hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, mau curhat dikit boleh?&lt;br /&gt;bukan tentang organisasi kok. haha. Alhamdulillah sebentar lagi saya akan turun, masa-masa setahun ini memang dirasa begitu cepat. Akhirnya, saya bisa mengakhiri masa-masa yang mungkin menambah dosa dan pahala saya. Tapi saya berharap masa-masa itu bisa bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman,&lt;br /&gt;tau kan makhluk yang namanya lelaki. hahaha.&lt;br /&gt;mereka itu punya hak untuk memilih calon pasangannya.&lt;br /&gt;sedangkan wanita punya hak untuk menerima atau menolak.&lt;br /&gt;tau apa artinya?&lt;br /&gt;berarti wanita akan cenderung menunggu kedatangan si lelaki dulu baru bisa memutuskan.&lt;br /&gt;selama si lelaki belum berani untuk memilih rumah mana yang akan disinggahi untuk niatan menyempurnakan setengah dien-nya, maka, wanita pun belum memiliki hak untuk menerima atau menolak.&lt;br /&gt;Ada kelebihan ada kekuranganya.&lt;br /&gt;Kelebihannya, hal itu menunjukkan bahwa kita kaum wanita sangat terhormat, sehingga orang yang memang benar-benar ingin serius lah yang akan kita beri kesempatan.&lt;br /&gt;Kekurangannya, jika kita terlanjur mencintai seseorang, dan begitu berharap bahwa dia yang akan menjadi imam keluarga kita nanti, tetapi, sang lelaki ternyata memiliki pilihan yang lebih baik lagi, padahal ia sudah mengatakan kepada kita bahwa ia ingin serius, kita tidak bisa berbuat apa-apa. karena itu memang hak mereka. Kita gak bisa menuntut ke dia. apalagi datengin ke dia dan ngomong " Eh, elu kan dulu udah bilang mau serius ama gue, kok sekarang tau-tau lo malah sama orang lain sih? plin plan deh lo!"&lt;br /&gt;terus si lelaki tinggal jawab dong, "Yaaa.. saya menemukan yang lebih baik daripada kamu."&lt;br /&gt;JLEB banget kalo kayak gitu.&lt;br /&gt;hahahahha&lt;br /&gt;tapi, ada loh satu &amp;nbsp;kasus yang memang dialami oleh Ummi kita, Ibunda Khadijah ra. Ibunda memiliki keinginan untuk bisa menjadi istri dari Rasulullah, dan pada saat itu pun, ibunda Khadijah memang sudah mampu secara mental dan fisik untuk menikah, Ibunda Khadijah akhirnya menyampaikan keinginannnya tersebut kepada sahabatnya, dan sahabatnya menyampaikannya kepada pamannya Rasulullah, yaitu Abu Thalib. Dan paman Rasulullah menyampaikannya kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;Dan itu mengartikan, bahwa dibolehkan kok kalo memang si wanita meminta si lelaki untuk menikahinya, tetapi tentunya dengan cara yang baik, gak boleh memaksa,&lt;br /&gt;Dan kita boleh kok kalo memiliki kecenderungan untuk memilih seseorang, karena Rasulullah pun memerintahkan ketika ingin melamar seorang wanita, si lelaki baiknya melihat dulu bagaimana si wanita itu, secara fisik, agar ada kecenderungan dalam hati si lelaki. tetapi tetap jaga pandangan masbroh. hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sah, ketika saat ini kamu memiliki kecenderungan terhadap seorang laki-laki yang kamu anggap ia bisa menjadi suami kamu kelak. INGAT! SAY NO TO PACARAN. tetap jaga izzah masing-masing, dan tetap jaga pandangan masing-masing. hati juga. Sebutkan namanya di setiap doa mu, mudah2an Allah memang menetapkan dia sebagai imam-mu kelak. dan ingat, kalau mau dikabulkan oleh Allah, kita harus ikut perintah Allah, jangan pake cara-cara yang gak disukai Allah.&lt;br /&gt;Kayak, berdoa supaya si pacar bisa jadi suami kita, padahal tiap malem minggu jalan2 naik motor keliling kampung, pelukan di motor, terus mojok di bunderan komplek. aduuhhh itu mah salah mas,,, mbak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya mengapa saya ingin membangun sebuah keluarga adalah karena ingin melahirkan generasi-generasi penerus yang bisa menerangi hidup saya, dan menerangi dunia dengan kesempurnaan akhlaknya, Ya Rabb. semoga Engkau meridhoi saya untuk bisa melahirkan orang-orang yang luar biasa nantinya, dan bisa mendidik anak-anak nantinya menjadi anak-anak yang bermanfaat bagi agama, bagi jalanMu. dan tentu saja, saya membutuhkan dia, sang pujaan hati, yang saya tidak tahu kini ia berada dimana.&lt;br /&gt;Jika memang, saat ini belum bisa dipertemukan dengan ikatan suci, pastilah saat ini dia sedang membenahi dirinya, dan kewajiban saya adalah membenahi diri saya juga. agar saya siap disandingkan dengan siapapun Allah sandingkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruntuknya yang ada di hati ini. Ketika saya yakin dengan anda, ketika anda pun yakin dengan saya, maka datanglah ke orang tua saya, kapanpun anda siap. Karena jika memang kita berjodoh, saya akan menunggu anda dan mengatakan "Saya bersedia" di saat yang tepat. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-3179617968433252884?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3179617968433252884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3179617968433252884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/curhat-nih-hehe.html' title='Curhat nih. hehe'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6449505865099411430</id><published>2012-01-05T16:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T16:45:43.383-08:00</updated><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (TAMAT)</title><content type='html'>Dua hari setelah hari itu, sepulang dari kantor aku memutuskan untuk menjenguk Alifa di Rumah Sakit Pasar Rebo. Keadaan Alifa belum sempat aku beri tahukan pada Mas Yusuf. Setelah turun dari angkot berwarna merah, aku langsung masuk kedalam rumah sakit. Menaiki lift dan menuju lantai lima ruang melati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di kamar 603 aku dapati seorang ibu paruh baya tengah duduk di sebelah seorang perempuan berwajah manis yang sangat ku kenal, Alifa. Mungkin ibu itu adalah ibu ndanya. Sambil tertunduk dia membaca surat Yasin dengan suara pelan. Aku memasuki kamar itu sambil mengucapkan salam dengan pelan. Ibu paruh baya itu mengangkat kepalanya kemudian berdiri menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kucium tangannya sambil berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ibu, saya Dinda, sahabatnya Alifa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh..iya, iya. Terima kasih sudah mau datang menjenguk Alifa” Sahut ibu paruh baya itu dengan suara agak sedikit serak. Di matanya terdapat butiran-butiran kecil air mata. Mungkin dia habis menangis. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejurus kemudian aku mengalihkan pandanganku pada Alifa. Gadis cantik nan ayu itu kini terbaring lemah tak berdaya di kasur rumah sakit. Wajah terlihat pucat dan tubuhnya tampak begitu kurus yang di tutupi dengan selimut tebal. Jilbabnya kini agak sedikit pendek dari biasanya. Namun dia tetap terlihat cantik bagi siapa saja yang memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah menatap Alifa yang hanya bisa memejamkan matanya, aku mulai bertanya pada ibu paruh baya yang tak lain adalah ibunda Alifa. Dia bernama Bu Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sejak kapan Alifa masuk rumah sakit Bu?” Tanyaku sambil terus berdiri di samping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sejak keadaannya semakin parah Nak. Ya...sekitar dua minggu yang lalu. Awal masuk kesini sih masih bisa makan, minum, shalat, bicara juga masih bisa sedikit-sedikit. Tapi makin kesini, kondisinya semakin....” Bu Ratih memutuskan kata-katanya. Air mata yang berusaha ditahannya kini tak dapat lagi terbendung. Aku langsung mengeluarkan tisu dan kuberikan padanya sambil mengelus-elus bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sabar ya Bu?” Ucapku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bu Ratih hanya mengangguk sambil menghapus air matanya. Tanpa terasa kedua mataku basah. Sejurus kemudian timbul perasaan yang tiba-tiba saja menyusup ke dalam sukmaku. Aku begitu sedih melihat Alifa terbaring koma. Sesaat lamanya aku berada disana, tiba-tiba ada seorang dokter cantik yang datang untuk memeriksakan keadaan Alifa. Dia bernama dokter Melisa. Dokter itu bersama dua orang perawatnya. Yang satu mengenakan kerudung dan yang satu lagi tidak. Suster yang mengenakan kerudung memeriksa denyut nadi Alifa lalu menuliskan sesuatu pada kertas yang dibawanya. Sedangkan suster yang satu lagi hanya berdiri sambil membawa beberapa obat-obatan di meja dorongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dokter Melisa memeriksa mata Alifa dengan senter kecil. Dan sesekali dia mengecek selang infus yang yang menghubungkan cairan infus ke tubuh Alifa. Cairannya sudah hampir habis dan dia menyuruh suster yang tidak mengenakan kerudung untuk mengganti cairan infus yang sudah habis dengan cairan infus yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah memeriksa keadaan Alifa, dokter Melisa berbincang sedikit dengan Bu Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bagaimana dok keadaanya? Apa ada kemajuan?” Tanya Bu Ratih penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dokter cantik itu menggeleng.”Belum ada perubahan apa-apa. Bahkan keadaannya semakin menurun kalau tidak secepatnya dilakukan tindakan” Jawab dokter itu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tindakan apa dok?” Tanyaku menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tindakan untuk mencarikan seseorang yang mau berpura-pura menjadi suaminya. Saat ini dia memerlukan belaian lembut dan kasih sayang dari seorang suami. Maklumlah, Ibu Alifa ini baru seminggu menikah bukan? Masa-masa itu adalah masa-masa dimana pasangan pengantin baru sedang mesra-mesranya. Makanya wajar jika dia stres kemudian sakit seperti ini. Selain kondisi fisiknya yang lemah, batinnya juga sangat terguncang tatkala dia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya yang baru seminggu dinikahinya harus pergi dengan kondisi yang sangat tragis” Jelas dokter Melisa sangat detail. Aku mendengarkannya dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lalu bagaimana dengan kandungannya dok?” Tanya Bu Ratih yang tiba-tiba saja mengejutkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kandungan? Jadi...saat ini Alifa sedang hamil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya” Sahut dokter melisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Usia kandungannya baru dua bulan. Alhamdulillah janin yang ada dalam kandungannya tidak mengalami penurunan. Tapi kalau dibiarkan terus seperti ini, saya tidak bisa menjamin kalau usia kandungannya bisa bertahan lama. Maka dari itu, harus ada yang mau berpura-pura atau mungkin ada seorang laki-laki yang berkenan menikahinya dan bersedia menjadi suami keduanya menggantikan suami pertamanya yang meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sehingga Ibu Alifa bisa merasakan kembali kasih sayang dari seorang suami yang memang seharusnya ia dapatkan sejak pertama pernikahannya” Jelas Dokter Melisa kembali. Aku hanya terdiam tak berbicara apa-apa. Aku dan Bu Ratih mengucapkan terima kasih tatkala dokter Melisa dan dua perawatnya pergi meninggalkan kami. Aku teringat ucapan dokter Melisa barusan, ”Tapi kalau dibiarkan terus seperti ini, saya tidak bisa menjamin kalau usia kandungannya bisa bertahan lama. Maka dari itu, harus ada yang mau berpura-pura atau mungkin ada seorang laki-laki yang berkenan menikahinya dan bersedia menjadi suami keduanya menggantikan suami pertamanya yang meninggal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku juga teringat perkataan dokter Melisa yang terus terngiang dalam ingatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sehingga Ibu Alifa bisa merasakan kembali kasih sayang dari seorang suami yang memang seharusnya ia dapatkan sejak pertama pernikahannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alifa memang seharusnya mendapatkan kasih sayang itu, tapi Allah telah mengambil suaminya dari sisinya. Sedangkan aku? Nasibku sungguh kontras sekali dengan kehidupan Alifa. Sudah hampir setahun aku menikah namun sampai detik ini aku belum juga mendapatkan kasih sayang itu. Kasih sayang yang memang seharusnya aku dapatkan dari seorang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bu Ratih mengejutkanku dengan tegurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nak Dinda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Eh...Ya Bu?” Sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa melamun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menggeleng. ”Tidak Bu. Ehm..kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Bu? Saya do’akan semoga Alifa bisa secepatnya melalui ujian ini dan semoga Alifa bisa lekas sembuh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Terima kasih ya Nak?’ Ucap Bu Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum pulang aku sempatkan menyentuh tangan Alifa yang kurus dan pucat itu. Dalam hati aku berucap padanya, ”Aku akan membantumu, Alifa. Insya Allah” Setelah berucap sedikit pada Alifa, aku segera pulang dengan terlebih dahulu berpamitan pada Bu Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Yang tabah ya Bu? Saya yakin, Allah pasti akan memberikan jalan keluar atas semua ujian ini. Dan saya pun akan membantu Alifa sebisa saya mampu. Insya Allah. Assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumusslam. Terima kasih ya Nak Dinda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tersenyum padanya kemudian keluar menuju lift. Setelah keluar dari rumah sakit, di dalam angkot merah yang aku tumpangi, tiba-tiba aku mempunyai sebuah rencana yang mungkin bisa membuat Alifa tersadar dari komanya. Sebuah rencana yang akan aku jalankan untuk membantu Alifa dan bayi yang tengah dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah sampai dirumah, tak kutemukan Mas Yusuf di setiap sudut rumah. Mungkin dia masih mengajar di sekolah. Aku beristirahat sejenak kemudian mandi dan shalat maghrib. Selesai itu aku sedikit tilawah sebentar sebelum tiba-tiba saja rasa cemas itu menyusup ke dalam dada. Kemana Mas Yusuf sampai petang begini belum pulang? Tak biasanya dia pulang mengajar sampai malam seperti ini. Tak memberi kabar atau pun sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kusudahi tilawahku yang baru beberapa lembar. Kuraih ponselku yang tergeletak diatas tempat tidur lalu kuhubungi Mas Yusuf. Tak ada nada sambung dari ponselnya. Kemana dia? Sekali lagi aku hubungi dia dan yang menjawab hanya suara operator telepon seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada berikut....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku coba berkali-kali tetap tidak bisa. Kuputuskan untuk mengiriminya sms. Semoga saja ketika ponselnya sudah aktif, dia segera membaca pesanku dan langsung membalasnya. Sungguh, malam ini aku tak bisa tidur dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awalnya aku ingin menanyakan keberadaan Mas Yusuf pada mertuaku, tapi kuurungkan. Aku tak ingin mereka cemas lalu memikirkan hal ini. Aku juga tidak mempunyai nomor telepon teman-temannya kecuali Mas Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya, aku akan coba menghubungi Mas Bambang dan kutanyakan keberadaan Mas Yusuf padanya. ”Halo...” Ucap Mas Bambang dari sebrang sana. Aku menjawabnya dan segera saja aku bertanya padanya perihal Mas Yusuf. Tapi lagi-lagi aku harus memendam harapku. Mas Bambang sendiri tidak tahu dimana Mas Yusuf sekarang. Yang dia tahu sepulang dari mengajar pukul dua siang, dan Mas Yusuf langsung pulang dengan tergesa-gesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas Bambang, aku segera menutup teleponnya. Yang menjadi pikiranku, mengapa Mas Yusuf pulang dengan tergesa-gesa? Apakah jangan-jangan, dia sudah mengetahui kondisi Alifa sekarang dan dia pergi menjengknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah! Aku tak mau memikirkan hal itu. Biarlah waktu saja yang menunjukkan segalanya. Dan saat ini, sebaiknya aku ingin tidur dan mengistirahatkan tubuh ini yang sudah seharian beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pukul satu malam aku terbangun. Ada kehausan yang teramat sangat ketika aku merasakan sadar dari tidurku. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke dapur. Setelah minum untuk menghilangkan dahagaku, aku kembali ke kamar. Duduk di tepi tempat tidur sambil termenung sendirian. Aku masih memikirkan dimana Mas Yusuf malam ini. Aku takut terjadi apa-apa padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sambil menatap photo pernikahanku yang dipajang di meja kecil disamping tempat tidurku, tiba-tiba aku menangis. Entah apa yang membuatku menangis. Aku ingin shalat tahajud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah mengambil air wudhu aku langsung melaksanakan shalat tahajud dan bermunajat padaNya untuk keselamatan Mas Yusuf dimana pun dia berada. Lalu aku lanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an beberapa lembar. Setelah itu aku menutupnya dengan shalat witir tiga rakaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kulepas mukenaku dan ku ganti dengan jilbab hitam. Aku berdiri di depan jendela kamarku sambil membuka sedikit gorden yang menutupinya. Di luar gelap. Jalanan hanya di terangi dengan beberapa lampu neon yang tersambung oleh rumah warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ku putar kembali ingatanku satu tahun yang lalu. Ingatanku ketika keluarga Mas Yusuf datang kerumah untuk melamarku, lalu surat dari Mas Yusuf yang kukira surat cinta ternyata surat yang amat menyakitkanku, dan berbagai sikap-sikap Mas Yusuf yang sampai sekarang tidak bisa aku mengerti kenapa dia belum bisa menerimaku sebagai seorang istri. Semua ingatan-ingatan itu membuat mataku basah dan akhirnya aku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku melangkah ke meja kerjaku. Sambil mendudukan tubuhku di kursinya, kuambil kembali buku harianku. Tiba-tiba aku melihat sebuah tape recorder yang sudah sejak lama kutaruh di laci. Didalamnya terdapat sebuah kaset kosong yang aku ingat, kaset itu pernah aku gunakan untuk mewawancarai seorang narasumber untuk keperluan majalah di tempatku bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuurungkan niatku untuk menulis di buku harian dan aku putuskan untuk merekam suaraku di tape recorder itu. Akan kukeluarkan seluruh perasaanku selama ini tentang hatiku, tentang Mas Yusuf, dan tentang Alifa. Tape recorder aku nyalakan dan aku mulai bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tuhanku, Hanya Engkau sajalah yang mengetahui isi hatiku. Hanya Engkau sajalah yang menjaga hati dan perasaanku sehingga aku bisa kuat dan tegar sampai saat ini. Tuhanku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sudah tak tahu lagi bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Hatiku telah membeku. Satu tahun sudah aku hidup sebagai seorang istri. Hidup tanpa kasih sayang dan perhatian dari seorang suami yang aku kasihi. Hidup penuh kegamangan dan kepasrahan dalam menanti cintanya untukku. Rabbi, Sungguh aku sangat mencintainya. Sungguh aku sangat menyayanginya. Tapi kenapa sampai saat ini tak sedikit pun rasa cinta itu ia berikan padaku? Apakah ada yang kurang dalam pengabdianku padanya selama ini? Apakah ada yang tak diinginkannya dariku sebagai seorang istri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah cukup sabar rasanya aku menahan semua ini. Menahan rasa cinta yang tak kunjung terbalas olehnya. Katakan padaku Ya Allah, kapan sekiranya dia mau membukakan pintu hatinya untukku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam ini aku sendiri. Dan lagi-lagi aku harus mengeluarkan air mataku untuknya yang sekarang entah berada dimana. Aku lelah Ya Allah. Bahkan untuk tetap mencintainya saja, kurasa aku sudah tak sanggup lagi. Tapi tak sedikit pun aku berniat menghilangkan dia dari ingatanku. Biarlah aku menanggung derita ini diatas rasa cinta yang kuusahakan untuk tetap bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah, Aku sudah memaafkan segala sikapnya selama ini padaku. Tapi aku mohon, janganlah Engkau mencatat segala perbuatannya itu sebagai sebuah kezhaliman. Sungguh, aku sudah memaafkannya dan aku ikhlas dengan semua keadaan ini. Aku hanya ingin Kau menempatkan dia di tempat yang layak di sisiMu. Aku mohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah, Selama aku menjadi istrinya, mungkin banyak kekurangan yang hadir pada diriku yang tidak ia sukai. Aku mohon, bantulah aku memperbaiki semuanya. Bantulah aku membahagiakan dirinya, meskipun hal itu amat sangat menyakitkan untukku. Sekiranya Engkau mengizinkan, biarkanlah aku berbagi cinta pada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Biarkanlah aku berbagi hidup pada hambaMu yang lain, yang namanya sudah sejak lama bertahta di kedalaman relung hatinya. Tegarkanlah hatiku ketika aku harus menyaksikan waktu membawa suamiku pergi pada bunga yang lain. Kuatkanlah imanku ketika aku harus berbagi suami pada yang lain, pada Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku hanya berharap satu pahala dariMu. Karena aku tahu, Alifa membutuhkan seorang suami dan bayi yang ada dalam kandungannya butuh seorang ayah. Jika sosok itu adalah suamiku, maka dengan segenap hati dan jiwa, aku bersedia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seusai merekam suaraku dalam tape recorder sambil terisak, kusimpan kaset rekaman dan tape recordernya di dalam laci mejaku. Kuseka air mataku dan aku kembali tidur dengan perasaan yang masih gundah memikirkan Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi hari ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.00, pintu rumah ada yang membuka. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melangkah ke ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dari mana Mas?” Tanyaku pada seseorang yang ternyata adalah Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia hanya diam sambil membuka kaos kakinya di kursi. Tanpa menjawab pertanyaanku dia malah berjalan ke kamar. Aku mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mas, kamu dari mana aku tanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sudahlah!” Bentak Mas Yusuf mengejutkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kamu selalu mau tahu saja urusanku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku benar-benar kaget mendengar bentakan Mas Yusuf yang bagai anak panah menikam jantungku. Aku masih terdiam sementara Mas Yusuf kembali bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Yang pasti aku tidak berselingkuh karena hal itu tidak mungkin aku lakukan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya aku tahu hal itu” Sahutku berusaha untuk tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lagipula tak pernah sedikit pun aku berpikir kalau kamu selingkuh. Kita sama-sama orang yang beriman.Aku hanya ingin tahu dari mana saja kamu semalam sampai tidak pulang? Tidak kasih kabar atau pun sms. Aku telepon hand phone mu tidak aktif. Akhirnya aku kirim sms. Apa telah kau baca?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lagi-lagi dia hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lalu kenapa tidak kau balas untuk memberitahukan dimana kamu berada? Sungguh aku khawatir dengan keadaanmu. Ingat Mas, walau pun kamu tidak mencintaiku, tapi biar gimana pun aku ini istri kamu. Jadi wajar jika kamu tidak pulang semalaman tanpa kabar, akan ada seorang wanita yang membasahi bantalnya dengan air mata dan itu adalah aku. Katakan Mas, dari mana kamu semalam dan kenapa tidak membalas sms ku?” Mas Yusuf terdiam sesaat lalu menjawab dengan ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku...aku habis dari rumah Bule Rinta...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bule Rinta?!” Putusku dengan penuh tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada apa dengan Bule Rinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kemarin, dirumahnya ada acara....selametan anaknya yang mau di khitan..” Jawab Mas Yusuf tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Selametan? Dirumah Bule Rinta ada selametan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Yusuf mengangguk pelan sambil mengganti pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau dirumah Bule Rinta ada selametan? Kalau aku tahu kan aku bisa datang. Kenapa kamu tidak memberi tahu aku Mas? Kenapa kamu pergi sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya...ya, karena acara kemarin baru hanya selametan. Nanti kalau acara khitanannya akan dilaksanakan baru aku kasih tahu” Jawab Mas Yusuf seolah tak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kamu terlalu Mas” Ucapku sambil menahan tangisku di tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kamu anggap apa aku? Apa kata keluarga kamu ketika mereka melihat kamu datang sendiri? Apa kamu juga ingin membuat mereka jadi membenci aku? Ingat Mas, mereka tahunya kita saling mencintai. Dan kamu juga harus ingat, aku ini istri kamu. Wanita yang sudah sah kamu nikahi setahun yang lalu. Aku harap kamu tidak melupakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tolonglah Mas. Untuk urusan keluargamu janganlah tertutup padaku. Setahun Mas, sudah setahun kita menikah. Tapi sejujurnya, aku tidak pernah merasakan bahagianya menjadi seorang istri. Katakan padaku Mas, apakah ini kesalahanku jika kau tidak mencintaiku? Apakah ini kesalahanku jika kau menikahiku? Dimana letak kesalahanku sehingga kau tega menghukumku seberat ini? Dimana Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak terasa air mataku jatuh menetes. Aku tak kuat lagi menahan air mata ini. Aku menunduk sementara Mas Yusuf hanya diam di tempatnya berdiri kini. ”Mungkin sudah saatnya aku mengatakan hal ini” Ucapku dengan penuh ketegasan. Ku seka air mataku. Mas Yusuf terlihat penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Di dalam biduk rumah tangga kita memang tidak pernah ada cinta yang menghiasi. Tapi aku berharap tidak pernah ada pula kata perceraian di antara kita. Karena Allah sangat membenci hal itu. Tapi kalau hal ini dibiarkan, aku tahu hatimu akan sakit selamanya. Jadi aku mempunyai saran untukmu agar kau bisa hidup bahagia tanpa harus menceraikan aku karena aku tidak ingin kau menceraikanku.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa maksudmu?” Tanya Mas Yusuf penasaran. Aku terdiam sejenak sambil menghela nafasku. Kutatap kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nikahi Alifa......”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa?! Apa maksud perkataanmu?” Tanya Mas Yusuf menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nikahi Alifa karena kini dia sudah menjadi seorang janda...” Ucapku menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Janda?! Alifa sudah menjadi janda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya. Sudah tiga bulan Alifa menjadi seorang janda. Seminggu setelah pernikahannya suaminya meninggal akibat kecelakaan kereta api. Sekarang kondisi Alifa menurun dan kini dia dirawat dirumah sakit”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Menurun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya. Kondisi itu disebabkan karena dia tidak bisa menahan stres dan tekanan batin atas kepergian suaminya. Dan satu-satunya jalan agar dapat menolong Alifa dari koma, adalah mencarikan seorang suami untuknya yang dapat menggantikan kasih sayang suaminya yang seharusnya ia dapatkan sejak pertama ia menikah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”A, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Alifa butuh kamu untuk dapat mengembalikan semangat hidupnya. Dan bayi yang ada dalam kandungannya butuh seorang ayah. Waktunya tidak banyak lagi. Kalau terlambat, maka dokter pun tidak bisa menjamin kalau Alifa bisa selamat dan bayi dalam kandungannya juga akan bertahan lama” Mas Yusuf terlihat cemas sekali. Mungkin dia tidak mengira kalau Alifa akan bernasib seperti ini. Dia tak bisa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku mohon Mas. Terimalah tawaranku ini. Jika kau melakukan hal ini, maka akan banyak jiwa yang kamu tolong. Kau menolong Alifa dari status jandanya, kau menolong bayi yang ada dalam kandungannya dari status yatim, kau menolong hatimu dari kekosongan cinta akan seorang istri, dan kau pun menolongku untuk membahagiakan suamiku, kamu. Aku mohon” Ucapku dengan penuh harap padanya. Mas Yusuf melangkahkan kakinya keluar kamar. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Dia duduk di ruang tamu sambil termenung. Raut wajahnya tampak cemas dan bingung. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tapi tidak semudah itu untuk berpoligami. Lagi pula tidak pernah terpikir sedikit pun dalam benakku kalau aku ingin menikah lagi. Hanya kamu istriku dan satu-satunya istriku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Istri yang tidak pernah diperlakukan seperti seorang istri? Istri yang tidak pernah merasa bahwa dirinya itu seorang istri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Yusuf terdiam menatapku. Kulangkahkan kakiku menghampirinya. ”Aku hanya ingin kamu bahagia. Kamu memang tidak bisa menemukan kebahagiaan itu denganku, tapi kamu masih punya kesempatan untuk bisa hidup bahagia dengan Alifa. Selain itu kamu juga bisa memberikan kebahagiaan pada Alifa dan bayi yang dikandungnya. Kamu mengerti kan Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku rasakan mataku basah. Setetes bening tiba-tiba saja mengaliri pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku harap kamu bisa mempertimbangkan saranku. Ini demi kebaikan kita semua. Aku yakin jika orang tua kita mengetahui hal ini, mereka pasti akan mengerti. Sepulang kerja nanti, aku tunggu jawabanmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah itu aku masuk ke dalam kamar sambil mengunci pintunya. Aku tak kuat menahan sesak ini. Di balik pintu aku menangis. Aku begitu sedih. Semua perasaan bercampur menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Rabbi....kuatkan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu berjalan begitu cepat rasanya. Aku masih ingat betul seperti apa raut wajah Mas Yusuf ketika dia mengetahui keadaan Alifa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari kantor aku langsung pergi kerumah sakit untuk menjenguk Alifa. Kondisinya tidak begitu baik dari waktu aku menjenguknya pertama kali. Tak lama aku disana. Namun kali ini aku bertemu dengan mertua Alifa dan beberapa anggota keluarganya. Satu informasi lagi, sampai sekarang belum ada seorang laki-laki pun yang mau menikahi Alifa. Aku hanya bisa mengelus dada dan berucap dalam hati, kalau saja mereka tahu siapa yang nantinya hendak menikahi Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah dari rumah sakit aku langsung pulang kerumah. Jujur, aku sudah tidak sabar mendengar jawaban Mas Yusuf. Tapi sampai maghrib menjelang, Mas Yusuf belum juga pulang. Aku coba menghubunginya lewat hand phone tapi tidak aktif. Mungkin dia pergi lagi kerumah Bule Rinta, atau mungkin, dia pergi menjenguk Alifa di rumah sakit? Entahlah, aku sudah mulai cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba hand phone-ku berdering. Kulihat satu nomor yang tidak kukenal. Kuangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumussalam. Apa benar ini Ibu Dinda?” Suara seorang laki-laki tak kukenal menjawab salamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya benar, saya Dinda. Maaf ini siapa ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saya Pak Azril, petugas kepolisian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Petugas kepolisian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya. Saya ingin memberitahukan bahwa suami ibu yang bernama Yusuf saat ini ada di rumah sakit...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Di rumah sakit? A, ada apa dengannya Pak?” Tanyaku dengan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tadi siang suami ibu kecelakaan. Motor yang dikendarainya menabrak pembatas jalan dan akhirnya dia terpental sejauh lima belas meter dari lokasi kejadian. Kondisinya saat ini sangat kritis dan dia belum sadarkan diri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suara petugas kepolisian itu bagaikan sebuah petir yang menyambar tubuhku. Aku bingung harus berbuat apa. Setelah polisi itu memberitahukan dimana Mas Yusuf dirawat sekarang, aku langsung bergegas pergi kesana. Tiba-tiba aku teringat. Mas Yusuf dirawat di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit dimana Alifa dirawat. Apa mungkin Mas Yusuf berniat menjenguk Alifa disana dan akhirnya dia kecelakaan di tempat yang tak jauh dari rumah sakit? Belum sempat aku menemukan jawaban itu, aku langsung pergi ke Pasar Rebo untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; mengetahui kondisi Mas Yusuf sekarang. Di dalam taxi aku tak bisa berhenti menangis. Mungkin supir taxi yang membawaku ke rumah sakit melihatku dengan heraan, kenapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dari tadi aku menangis? Diapun tak berani menanyakan perihal itu padaku. Setelah aku membayar ongkos taxinya aku langsung berlari ke ruang UGD (18) untuk mencari suamiku, Mas Yusuf. Kupandangi semua pasien yang ada di ruang itu, dan...ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di pojok ruangan aku melihat Mas Yusuf tengah terbaring tak berdaya bersama dua orang polisi yang kini menemaninya. Segera saja aku menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Permisi Pak. Saya Dinda, istrinya Yusuf” Ucapku pada dua orang polisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh, anda yang bernama Dinda. Silahkan, ini suamimu” Sahut seorang polisi yang mengenakan jaket tebal dan berkumis. Aku mengangguk pelan dan segera mengalihkan pandanganku pada Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di keningnya terdapat perban yang membalut lukanya. Di tangan kanannya pun terdapat sebuah jarum yang ditusukkan untuk mengaliri cairan infus kedalam tubuhnya. Wajahnya penuh luka memar. Mungkin saat kecelakaan, wajahnya terhantam benda keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bagaimana keadannya Pak?” Tanyaku pada salah satu polisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Coba Mbak tanyakan saja keadaan suami Mbak pada dokter atau suster yang ada disana”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jawab polisi itu sambil menunjuk kearah seorang dokter dan dua orang perawatnya. Aku mengangguk dan menghampiri dokter itu. Setelah dokter itu memberitahukan kondisi Mas Yusuf sekarang, aku langsung disuruh mengurus administrasi agar Mas Yusuf bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menurut saja. Karena aku tidak membawa uang banyak di tas, aku mengambil tabunganku di ATM. Setelah urusan administrasi selesai, Mas Yusuf segera dipindahkan ke ruang rawat inap kelas satu. Aku hanya ingin Mas Yusuf mendapat perawatan yang benar-benar intensif agar dia bisa cepat sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Air mataku tidak bisa berhenti sampai Mas Yusuf di pindahkan ke ruang rawat inap. Aku teringat Alifa. Sebelumnya aku sempat bertanya pada polisi yang tadi menemani Mas Yusuf, dimana lokasi kecelakaan itu. Dan polisi itu mengatakan bahwa lokasi kejadian itu tak jauh dari Rumah Sakit Pasar Rebo. Maka dari itu Mas Yusuf dibawa kesini. Aku sempat mengaitkan kejadian itu dengan keadaan Alifa saat ini. Mungkin saja Mas Yusuf telat pulang kerumah karena hendak menjenguk Alifa. Aku pun menyempatkan diri menjenguk Alifa yang berada satu lantai dibawah lantai Mas Yusuf dirawat kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kondisinya masih belum menunjukkan perubahan. Sampai sekarang belum ada satu orang pun yang mau menikahinya. Kalau saja orang tua Alifa tahu siapa yang sebenarnya hendak menikahi putrinya itu, mereka pasti akan terkejut. Tapi sayang, kondisi Mas Yusuf pun tak jauh berbeda dengan kondisi Alifa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali lagi ke kamar Mas Yusuf. Aku duduk disampingnya sambil memandangi wajahnya yang pucat. Tanpa terasa air mataku jatuh menetes. Di sela-sela waktu itu aku teringat, aku belum shalat Isya. Kuputuskan untuk mencari masjid terdekat. Setelah shalat Isya, aku berdiam diri sejenak di masjid. Merenungi segala kejadian yang baru saja aku alami. Tiba-tiba aku teringat, aku belum memberi kabar pada orang tua dan mertuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kupencet nomor telepon orang tuaku dan kuberitahukan keadaan Mas Yusuf saat ini. Mereka benar-benar tidak menyangka akan hal ini dan mereka berniat menjenguk Mas Yusuf malam ini juga. Tapi aku bilang bahwa mereka tidak usah menjenguk Mas Yusuf sekarang karena hari juga sudah larut. Mereka memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah menghubungi orang tuaku, aku langsung menghubungi mertuaku. Mereka tidak bisa menahan tangis haru saat aku beri tahu bahwa Mas Yusuf kecelakaan. Sama seperti orang tuaku, mereka ingin menjenguk Mas Yusuf sekarang tapi aku juga melarang mereka dengan alasan hari sudah semakin malam. Tapi ibu mertuaku bersi keras dan ingin tetap menjenguk Mas Yusuf malam ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku pun hanya bisa menangis saat ibu mertuaku menyuruhku untuk tabah. Malam ini adalah malam yang sangat menyedihkan untukku. Kuputuskan untuk kembali ke kamar dan menemani Mas Yusuf disana. Aku ingin memberikan seluruh kasih sayangku padanya sampai dia tahu kalau aku benar-benar mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari-hari aku lalui dengan kesabaran dan keikhlasan. Sudah dua hari Mas Yusuf dirawat dan sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Dokter bilang ini disebabkan oleh reaksi obat yang masuk kedalam tubuhnya. Mungkin beberapa jam lagi dia akan sadar kembali. Tapi aku tidak bisa menahan rasa cemasku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di setiap shalatku, selalu aku menyebut namanya di akhir do’aku agar Allah berkenan menyembuhkannya. Aku tak kuasa menahan air mataku kala aku menatap wajahnya. Sudah dua hari ini aku menemani Mas Yusuf. Aku sudah meminta izin cuti pada pihak kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alhamdulullah mereka mengizinkan. Semalam dari pihak penerbit yang hendak menerbitkan novelku juga kembali menghubungi karena aku lupa memberikan prakata ucapan terima kasih pada mereka. Aku sampaikan alasanku kenapa aku sampai lupa. Alhamdulullah juga mereka mengerti dan berencana mengundurkan proses penerbitan novelku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selama aku menemani Mas Yusuf, aku selalu menyempatkan diri menjenguk Alifa juga dikamarnya. Masih tak ada perubahan. Terakhir aku menemuinya, aku diberi tahu oleh pihak keluarganya bahwa ada seorang laki-laki yang datang menjenguk Alifa membawa serta kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Laki-laki yang datang itu hendak meminang Alifa sebagai istrinya. Dia bersedia membantu Alifa mempertahankan hidupnya. Tapi ketika kutanya siapa laki-laki itu, pihak keluarga Alifa tidak bisa memberi tahu siapa dia. Semua itu mereka lakukan atas permintaan laki-laki itu. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali ke kamar. Tak terasa matahari sudah menyembunyikan dirinya di peraduannya. Tadi siang ayah dan ibu mertuaku datang menjenguk Mas Yusuf. Selepas Ashar, mereka pulang. Dan tinggal aku sendiri di dalam kamar menemani Mas Yusuf yang belum juga sadar sampai detik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selama dia tak sadarkan diri, aku yang membasuh tubuhnya dengan handuk kecil basah. Aku tak kuasa melihat tubuhnya yang penuh luka akibat kecelakaan itu. Dokte bilang memang tidak ada yang serius tapi aku sebagai istrinya benar-benar khawatir akan keadaannya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari luar, terdengar azan Maghrib berkumandang. Aku lansung bergegas mengambil air wudhu dan langsung menunaikan shalat Maghrib di samping tempat tidur Mas Yusuf. Selesai shalat, aku bermunajat pada Tuhan semesta alam. Ku adukan semua gundah gulanaku saat ini. Sambil ditemani air mata yang terus mengalir dari ujung mataku, aku berdo’a untuk kesembuhan Mas Yusuf. Dan tak lupa juga kebaikan atas pernikahanku. Aku mengharapkan yang terbaik dari keputusan yang nantinya akan Mas Yusuf berikan padaku. Apakah dia bersedia menikahi Alifa atau tidak. Aku juga masih memikirkan siapa laki-laki yang datang dan hendak meminang Alifa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sudah merelakan sepenuhnya hatiku pada Rabb penggenggam hati seluruh makhluk di dunia ini, Allah Swt. Aku benar-benar ikhlas kalau nantinya Mas Yusuf sadar dan dia memutuskan untuk berkenan menikahi Alifa. Semuanya aku ucapkan dengan penuh pengharapan bahwa Allah berkenen memberikan yang terbaik untukku, Mas Yusuf, dan Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kusudahi doa panjangku. Kulanjutkan dengan membaca Al Ma’tsurat dan tilawah Qur’an beberapa lembar. Selesai itu, kulipat sajadah dan kuletakan di pinggir kursi. Dengan masih mengenakan mukena, kuhampiri Mas Yusuf dengan mata yang sedikit memerah akibat menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuseret kursi yang ada dan kududukkan tubuhku disana. Kubetulkan selimut yang menutupi tubuhnya. Sesaat kutatap wajahnya yang begitu putih dan bersih. Perlahan kuberanikan diri menyentuh tangannya. Kugenggam dengan erat seperti tak ingin melepasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inilah untuk yang pertama kalinya aku menggenggam tangan suamiku setelah setahun pernikahan. Kuciumi tangannya sambil berucap kata-kata mesara untuknya. Sekali lagi aku tak kuasa menahan tangisku. Tangis yang begitu menyedihkan untukku. Sedih karena Mas Yusuf belum juga sadar dan sedih karena sampai saat ini, Mas Yusuf belum juga bisa menerimaku sebagai istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saya terima nikahnya dan kawinnya, Alifa binti Sukirman dengan mas kawin tersebut. Tunai” Ucap Mas Yusuf dengan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah. Diantara semua tamu yang hadir, mungkin hanya aku saja yang merasakan kepedihan dalam dada. Aku menatap Mas Yusuf dan Alifa dengan perasaan hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah akad nikah, Alifa membawa Mas Yusuf pergi meninggalkan aku sendiri. Aku duduk terdiam tanpa menghalangi mereka pergi. Mataku menangkap wajah Mas Yusuf tidak memancarkan kebahagiaan. Sedangkan Alifa, dia amat bahagia membawa Mas Ysuf pergi dari hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menangis atas ketidak berdayaanku mencegah Alifa pergi membawa Mas Yusuf. Tiba-tiba, aku terbangun dari tidurku. Astaghfirullah! Ternyata semua hanya mimpi. Aku tertidur di tepi tempat tidur. Kuingat kembali mimpiku barusan. Mimpi tentang pernikahan Mas Yusuf dengan Alifa. Aku masih belum memikirkan bagaimana jadinya kalau hal itu sampai terjadi. Tapi yang aku herankan, kenapa dalam mimpi itu, Mas Yusuf terlihat tidak bahagia? Kembali kupandangi wajah Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuseka air mataku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tegar. Kuletakkan tangannya di tempat tidur. Kembali kutatap wajahnya. Sejurus kemudian, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dan....Subhanallah. Aku menciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mencium bibirnya. Dan ini juga untuk yang pertama kalinya aku menciumnya setelah setahun pernikahan. Aku mencium bibirnya yang hangat. Ada perasaan bahagia, senang, cemas, dan takut. Seketika jantungku berdegup kencang. Ingin rasanya sekali lagi aku menciumnya tapi aku takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku takut kalau dia sampai tidak ridho dengan apa yang barusan aku lakukan padanya, Allah pasti akan murka terhadapku. Karena Ridho Allah adalah ridho suami. Bila suami tidak ridho, maka Allah pun tidak ridho pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba ada perasaan berdosa yang seketika menyusup kedalam hatiku. Apakah aku berdosa bila menciumnya tanpa seizinnya? Rabbi maafkan aku. Perlahan kumundurkan kakiku sambil menggeleng. ”Maafkan aku Mas, maafkan aku”Ucapku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berbalik dan duduk di sofa yang tersedia disana. Sambil termenung, aku membuka mukenaku dan menggantinya dengan jilbab coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku melihat Mas Yusuf menggerakkan jarinya. Oh Tuhan, apa dia sudah sadar? Aku hampiri dirinya sambil menggenggam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mas Yusuf? Mas sudah sadar?” Tanyaku dengan perasaan senang bercampur cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perlahan kulihat kedua matanya terbuka sedikit demi sedikit. Dan...Alhamdulillah, dia bangun. Aku berucap syukur pada Allah Swt karena telah menyadarkan Mas Yusuf. Air mata begitu saja mengalir dari mataku. Aku melihat Mas Yusuf menggerakan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”D..Dinda. A, aku ha..us” Ucap Mas Yusuf lirih sambil terbata-bata. Aku segera mengambilkan air putih yang ada di samping tempat tidurnya dan membantunya minum melalui sedotan. Setelah minum, dia menatapku dengan tatapan hampa. Tak ada senyuman atau pun ekspresi wajah yang lain. Aku takut dia sadar ketika aku menciumnya tadi. Aku sungguh takut. Tapi sejurus kemudian, aku berpikir untuk memberi tahu dokter bahwa Mas Yusuf sudah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku melangkah keluar untuk memanggil dokter dan meninggalkan Mas Yusuf di kamar. Namun baru beberapa langkah aku keluar kamar, tiba-tiba aku melihat semua benda yang ada dihadapanku seolah berputar. Kurasakan mual yang teramat sangat diperutku. Seketika kepalaku pusing dan tubuhku lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika kupaksakan diriku untuk terus melangkah, tiba-tiba kurasakan tubuhku melayang dan terjatuh di lantai. Kulihat semua gelap. Samar-samar kulihat ada beberapa orang suster berlari mengahmpiriku. Tapi aku sudah tak kuat lagi bangun. Kurasakan tubuhku diangkat. Makin lama aku tak tahu apa yang terjadi kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perlahan kubuka mataku yang tadinya sulit untuk kubuka. Namun kupaksakan karena memang aku ingin bangun dari tidurku. Awalnya gelap, lalu perlahan cahaya itu mulai masuk dan menembus kornea mataku. Aku merasakan kehangatan di keningku. Sebuah kecupan hangat tengah mendarat disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yang aku dapati, seorang laki-laki tengah mencium keningku. Samar-samar aku melihatnya. Setelah aku perhatikan dengan seksama, aku menyadari ternyata laki-laki itu adalah suamiku. Ya, dia adalah Mas Yusufku. Oh Tuhan, kekasihku tengah mencium keningku. Apakah ini nyata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku hanya terdiam merasakan kecupan bibir Mas Yusuf di keningku. Lalu kemudian dia menatap wajahku lekat-lekat. ”kamu sudah sadar?” Tanyanya lembut. Aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya” Suaraku terdenganr begitu lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia tersenyum. Kulanjutkan perkataanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau menciumku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Yusuf mengangguk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Karena kau adalah istriku.” Jawabnya dengan nada yang sangat menyenangkan hatiku. Tapi aku masih belum mengerti apa maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bukankah....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sstt!” Mas Yusuf segera menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. Aku melihat ada yang berbeda dari kedua matanya. Di dalamnya terpancar sebuah seuatu yang aku tidak mengerti apa sesuatu itu. Mas Yusuf kembali berucap, ”Sudah dua hari kamu pingsan dan tidak sadarkan diri. Kamu ingat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berusaha mengingatnya kemudian mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya aku ingat. Waktu itu aku ingat kamu sadar dari koma, dan aku langsung memanggil dokter untuk segera memeriksamu. Namun kemudian, tiba-tiba saja aku merasakan mual di perutku. Kepalaku pusing dan tubuhku lemas. Seketika aku merasakan tubuhku melayang dan terjatuh di lantai. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi yang pasti aku ingat, aku belum shalat Isya” Jelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya, kamu pingsan karena terlalu lelah menjagaku setiap hari. Dokter dan perawatnya segera membawamu untuk diperiksa” Ucap Mas Yusuf yang wajahnya hampir mendekati wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maafkan aku Mas...” Lirihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Untuk apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kemarin saat kamu tidak sadarkan diri, aku...aku sempat menciummu. Aku harap kau tidak marah padaku. Dan semoga kau ridho atas perbuatanku itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Yusuf terdiam menatap wajahku. Aku semakin takut. Namun tiba-tiba dia tersenyum dan berkata dengan manis padaku. ”Kenapa aku harus marah padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ja, jadi kamu nggak marah sama aku?” Tanyaku yang kemudian disusul dengan gelengan kepala dan senyuman Mas Yusuf. Aku tersenyum senang. Hatiku lega setelah mendapat pengakuan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku adalah suamimu dan kau adalah istriku. Tidak perlu merasa takut atas perbuatanmu. Insya Allah, Allah akan meridhoinya. Justru aku yang harusnya minta maaf padamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Untuk apa?” Tanyaku pura-pura tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maaf jika selama ini aku tidak sepenuhnya menjadi suami yang bertanggung jawab, jika aku sering menyakiti hatimu sehingga sering membuatmu menangis di tengah malam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hah!! Aku terkejut. Dari mana Mas Yusuf tahu kalau aku sering menangis di tengah malam? Aku masih bingung dengan pernyataan Mas Yusuf sementara dia terus melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maafkan jika selama ini aku selalu membuat kamu terbangub sebelum fajar untuk makan sahur, karena aku tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami untuk memuaskanmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku semakin terkejut. Mengapa Mas Yusuf tahu hal itu? Aku tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun. Tapi, kenapa Mas Yusuf tahu? ”Sekali lagi maaf, karena aku pernah berbohong padamu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Berbohong apa Mas?” Tanyaku tidak mengerti. Mas Yusuf coba menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tempo hari, sewaktu ada munashoroh Palestine di Monas, aku bilang padamu kalau aku ada urusan di sekolah sehingga tidak bisa pergi kesana bersamamu. Aku memang ada urusan, namun setelah itu aku pergi kesana bersama teman-temanku. Dan aku tahu, kau melihatku disana kan? Tapi karena kau tidak mau aku melihatmu yang memergoki aku, makanya kamu segera mengajak temanmu untuk pergi dari sana. Iya kan? Aku benar-benar minta maaf atas hal itu. Aku sungguh menyesal” Jelas mas Yusuf dengan nada penuh penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dan air mataku mengalir begitu saja bagaikan anak sungai. Aku lihat Mas Yusuf menunduk sambil menangis. Aku menghapus air matanya dengan tanganku. Dia meraihnya dan menciumnya. Aku jadi terharu. Lantas, segera saja aku menanyakan dari mana dia bisa tahu semua hal itu, dan dia menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Buku harianmu. Aku sudah membca semua tulisanmu yang ada disana. Juga kaset rekaman itu. Aku sudah mendengarnya. Aku mohon segala maafmu atas kesalahanku selama ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pintanya sambil terisak dan terus menciumi tanganku. Aku pun semakin sedih dan ikut terisak juga. Sesaat lamanya kami terdiam dalam lautan kesedihan. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mas, apa...apa semua itu berarti, kau sudah bisa menerimaku sebagai istrimu?” Perlahan kutatap kedua mata Mas Yusuf. Butir-butir cinta itu masih tersisa disana. Aku perhatikan dan dia mengangguk. Ya Rabbi, kekasihku mencintaiku. Dan itu berarti, cintaku terbalas. Ini untuk yang pertama kalinya aku merasakan cinta yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cinta seorang suami kepada istrinya. Aku merasa menjadi wanita yang paling berbahagia. Aku tersenyum dan Mas Yusuf pun tersenyum. Bahkan lebih manis dari biasanya. Kupandang lekat-lekat wajah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa yang akhirnya membuatmu bisa mencintaiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Karena kau adalah anugrah terindah yang pernah Allah berikan untukku. Kau jiwaku, kau nafasku, kau nadiku, dan kau adalah hidupku. Betapa bodohnya aku yang telah membiarkan kau menderita selama ini. Aku baru menyadari, kalau aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu dalam hatiku. Tidak akan ada”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Termasuk Alifa?” Tanyaku dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya. Termasuk Alifa.” Jawab Mas Yusuf tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lalu apa keputusanmu mengenai Alifa? Saat ini dia membutuhkanmu Mas...” Mas Yusuf terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sebelum aku menjawabnya, izinkan aku berterima kasih padamu. Terima kasih atas kesabaranmu selama ini padaku. Terima kasih karena kau telah mencurahkan seluruh cintamu padaku. Teriam kasih karena kau tak henti-hentinya menemaniku dan mendo’akanku selama aku tak sadarkan diri. Dan terima kasih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sstt!” Sahutku menyela perkataannya. Kucoba menempelkan jariku di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau sudah terlalu banyak mengucapkan terima kasih padaku. Hanya dengan rasa cintamu padaku pun, itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada rasa tidak enak dalam hal percintaan. Aku benar-benar mencintaimu Mas...” Ucapku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Terima kasih sekali lagi, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah...” Ucapnya senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku terdiam mendengar ucapan Mas Yusuf barusan. Aku tak sanggup berucap satu katapun. Yang ada malah lelehan air mata yang mengalir di wajahku lalu menyerap ke jilbab yang aku kenakan sekarang. Aku benar-benar terkejut mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kamu hamil, sayang....” Ucap Mas Yusuf lagi dengan penuh kemesraan. Air mataku kembali mengalir membasahi jilbabku dan kini semakin deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau tidak membohongiku?” Tanyaku seolah ingin penegasan. Mas Yusuf menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku tidak bohong. Kau sungguh-sungguh hamil. Saat ini kau tengah mengandung anakku. Anak kita. Buah cinta kita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuberikan senyumanku pada Mas yusuf. Aku hamil. Aku benar-benar hamil. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Oh Tuhan, terima kasih. Kau telah memberikan kebahagiaan ini padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kemarin kamu pingsan karena terlalu letih. Dan setelah diperiksa oleh dokter, ternyata kamu tengah mengandung. Usia kandunganmu baru dua bulan. Kamu harus jaga kesehatan ya?’ Pinta Mas Yusuf padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengangguk dengan air mata yang terus meleleh. Mas Yusuf menghapusnya dengan sentuhan hangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun tiba-tiba aku tersadar. Kebahagiaanku belum sepenuhnya menjadi milikku. Masih ada satu yang mengganjal. Tentang Alifa. Kejadian yang baru saja aku alami memang suatu kebahagiaan yang sangat aku impikan. Kebahagiaan karena akhirnya Mas Yusuf bisa mnerimaku dan mencintaiku, dan kebahagiaan karena aku hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi biar bagamanapun, aku harus bertanggung jawab atas permohonanku pada Mas Yusuf yang memintanya untuk menikahi Alifa. Aku harus siap dengan segala konsekwensinya. Aku benar-benar ikhlas kalau saat ini Mas Yusuf menyatakan kesediaannya untuk menikahi Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku terdiam dari tangisku dan mulai bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mas...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hm?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuhela nafasku sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mencintaimu adalah suatu hal yang sangat membahagiaakan untukku. Apalagi ketika kau sudah bisa menerimaku sebagai istrimu. Jelas kebahagiaanku semakin lengkap, apalagi sebentar lagi kita akan menjadi orang tua bagi anak kita. Tapi aku tidak mau egois. Saat ini, aku ingin mendengar keputusanmu tentang penawaranku untuk kau menikahi Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Biar bagaimanapun, dia membutuhkanmu. Dan bayi yang tengah dikandungnya, juga butuh seorang ayah. Aku harap kau bisa memberikan keputusan yang terbaik. Aku hanya ingin membagi kebahagiaanku pada Alifa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kulihat Mas Yusuf menundukkan kepalanya. Perlahan dia berdiri dari duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau tunggulah disini sebentar. Aku akan keluar untuk memberikan jawaban dan keputusanku terhadap penawaranmu” Ucap Mas Yusuf pelan lalu pergi keluar kamar sambil menyisakan rasa penasaran untukku. Apa yang hendak suamiku lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit, aku menunggu Mas Yusuf datang dengan membawa jawaban dan keputusannya. Sungguh, saat ini aku begitu resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba Mas Yusuf datang. Aku menoleh kearahnya. Tak ada yang berubah darinya. Juga tak ada yang dibawanya. Kuperhatikan wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa keputusanmu Mas?” Tanyaku dengan serak menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia menghampiriku tanpa menjawab. Dia memandang keluar kamar dengan wajah berseri-seri. Aku tambah tak mengerti. Akupun ikut memandang keluar kamar. Masih dalam kondisi berbaring di tempat tidur, perlahan aku melihat sebuah bayangan datang menghampiri kamarku. Bayangan siapa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba, aku melihat sosok yang sangat aku kenal muncul dihadapanku dengan menggunakan kursi roda. Dan orang yang mendorong kursi rodanya juga adalah orang yang sangat aku kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia Alifa dan Randi. Alifa duduk di kursi roda berbalut ghamis coklat dan jilbab hitam, dan yang mendorongnya adalah Randi. Orang yang kukenal sebagai sahabat Mas Yusuf. Orang yang dulu kutahu menyuruh Mas Yusuf untuk segera menikahi Alifa. Orang yang dulu sempat menegurku pada saat acara di Bumiwiyata, Depok. Kenapa mereka datang bersamaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Alifa?! Randi?! Kalian....” Ucapku tergagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya. Alifa sudah menikah dengan Randi” Sahut Mas Yusuf mengejutkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya Dinda. Aku sudah menikah dengan Randi. Dia telah membantuku untuk tetap hidup. Dia juga sudah membuatku menjadi seperti ini. Alhamdulillah, Randi sudah berkenan menjadi suamiku” Ucap Alifa sambil Randi mendorong kursi rodanya mendekatiku. Mas Yusuf dan Randi pergi keluar kamar meninggalkan aku dan Alifa berdua. Sambil menggenggam tanganku, Alifa berkata, ”Aku tahu kamu wanita yang sangat mulia hatinya. Aku sudah dengar semua dari Yusuf. Kamu menyuruhnya untuk menikahiku bukan? Niat baikmu untuk menjadikanku sebagai istri kedua Yusuf sangat aku hargai. Jujur, sebenarnya kalau aku tahu yang hendak menikahiku adalah Yusuf, aku tidak akan menerimanya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Karena aku tidak mau melihat kamu bersedih. Aku yakin hatimu pasti hancur ketika Yusuf sampai menikahiku. Untung saja sebelum Yusuf memberikan keputusannya karena dia mengalami kecelakaan dan koma, Randi datang dengan sebongkah rasa kasihan dan cintanya untukku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa seperti ini. Kepergian Mas Guntur memang menyisakan luka yang mendalam untukku. Sampai aku harus dirawat di rumah sakit dan mengalami koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dokter bilang, penyakitku ini disebabkan karena aku mengalami tekanan batin yang begitu mendalam sehingga harus ada yang mau menikahiku dan bersedia menjadi suami keduaku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu. Tapi memang, setelah Randi menikahiku dan dia mulai membisikkan kata-kata mesranya untukku, seolah ada setetes embun pagi yang mengaliri tubuhku. Aku mulai bereaksi. Ketika Randi menyentuh tanganku dan membelaiku, perlahan aku seperti menemukan kembali semangat hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memang aku sempat terkejut ketika kubuka mata, yang kulihat bukanlah Mas Guntur, tapi Randi. Sahabatku sendiri yang kini telah menjadi suamiku. Awalnya aku sempat drop lagi tapi dokter segera memberikan obat untukku. Dan akhirnya aku sudah bisa menerima semua kenyataan ini, kalau Mas Guntur sudah tiada dan yang menggantikannya adalah Randi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terima kasih ya? Karena biar bagaimanapun, kau sudah berniat baik padaku dengan menyuruh Yusuf agar mau menikahiku dan berkenan menjadi ayah bagi anak yang tengah kukandung ini. Dan selamat ya? Akhirnya kau juga akan menjadi seorang ibu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alifa menjelaskan semuanya dengan tenang. Aku tersenyum padanya. Aku baru ingat, ternyata laki-laki yang dimaksudkan keluarga Alifa yang hendak menikahi Alifa adalah Randi. Seseorang yang tanpa sengaja telah menyelamatkan hati dan cintaku ternyata adalah Randi. Karena dia, akhirnya aku tidak jadi menjadi istri tua. Terima kasih Randi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kapan kamu menikah dengannya?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kemarin. Bahkan Yusuflah yang menjadi saksi pernikahan kami”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diam-diam ada perasaan syukur yang menyusup kedalam diriku. Tak berapa lama, Mas Yusuf dan Randi masuk lagi ke kamar. Aku tersenyum pada mereka dan kuucapkan selamat pada Randi. Kami pun berbincang bersama di kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penuh keceriaan dan tawa yang kami ciptakan saat itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah dokter mengatakan kondisiku sudah cukup pulih, akhirnya dia mengizinkanku untuk segera pulang. Begitu juga Mas Yusuf. Beberapa luka di bagian kepala dan lengannya juga sudah mulai mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami melewati hari-hari baru kami sebagai suami istri. Lebih tepatnya lagi suami istri yang baru menemukan mahligai cintanya. Aku sangat bersyukur sekali karena kesabaranku dalam mencintai Mas Yusuf akhirnya menemukan buahnya. Kini aku sudah memetik buah itu. Cinta itu, kini sudah menemukan peraduannya. Tak henti-hentinya aku berucap syukur pada Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini, tak ada lagi sorot kebencian pada mata Mas Yusuf. Kini tak ada lagi sosok seorang suami pengecut dalam kehidupanku. Yang ada hanyalah seorang pahlawan sejati yang siap menemaniku kemanapun kakiku melangkah. Terima kasih, Ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam ini, aku dan Mas Yusuf sudah berada di sebuah beranda di salah satu kamar hotel yang dulu pernah kami jadikan sebagai tempat malam pertama kami satu tahun yang lalu. Dengan ditemani sinaran bintang-bintang, kami memulai kembali kisah cinta kami yang sempat tertunda karena sebuah keegoisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam ini, kami serasa seperti kembali menjadi sepasang pengantin baru. Saat Mas Yusuf menatapku penuh mesra, rasa berdebar-debar itu tiba-tiba muncul dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi inilah cinta. Aku sangat menikmati debar-debar itu. Tatapannya, belaiannya, dan kecupannya, ini adalah untuk yang pertama kalinya dia melakukannya dengan penuh keikhlasan hati dan kerelaan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam semakin larut dan dia mulai mengajakku kembali ke kamar. Entah mengapa, keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Aku ikuti langkahnya. Kini, dia menuntunku untuk sampai di tempat tidur. Aku tersenyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan ditemani temaram lampu kamar dan indahnya sinaran bulan sabit di langit luar sana, Mas Yusuf kembali membuktikan bahwa dia bukan laki-laki pengecut. Dia bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Dan itu ia lakukan tanpa menunggu subuh datang terlebih dahulu. Aku merasakan menjadi makhluk Tuhan yang paling dikasihi. Ditengah ibadah berdua kami, tiba-tiba dering hand phone ku berbunyi. Sambil terus melakukan ibadah itu, kuraih hand phone ku dan kulihat sekilas. Dari pihak penerbit. Aku tak berniat mengangkatnya dan segera ku matikan dengan me-non aktifkan-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Peluh kami kembali bersatu lagi. Merembas ke dalam seprei biru yang kini menutupi tempat tidur kami. Inilah kesucian cinta yang telah tertanam sejak lama yang kurawat dengan air kesabaran. Inilah buah yang kupetik hasilnya ketika cintaku pada Mas Yusuf harus bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini, lagi-lagi aku harus bersabar untuk menanti datangnya bidadari kecil yang beberapa bulan lagi akan hadir ke duani ini untuk menemani kehidupan kami sebagai Abi dan Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bulan dan bintang memantulkan sinar gemerlapnya pada diri dua insan yang tengah dimabuk cinta. Semoga ibadah ini bisa memberikan keberkahan pada kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Yusuf nantinya. Rabb, Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ALHAMDULILLAH TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6449505865099411430?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6449505865099411430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6449505865099411430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/ketika-cinta-harus-bersabar-tamat.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (TAMAT)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-8049215264834556731</id><published>2012-01-05T16:38:00.001-08:00</published><updated>2012-01-05T16:38:26.036-08:00</updated><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (PART 9)</title><content type='html'>”Assalamu’alaikum” Ucapnya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumussalam” Jawabku sambil melemparkan senyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Afwan kamu Dinda kan, istrinya Yusuf?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya. Kamu pasti Alifa” Jawabku menimpalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya aku Alifa. Kamu masih ingat aku? Bukankah kita belum pernah berkenalan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bagaimana mungkin aku lupa. Suamiku kan pernah menyebut namamu ketika kamu datang ke pernikahanku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh, syukurlah kalau kamu masih ingat. Aku pikir kau tak akan mengenaliku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tenang saja. Aku selalu berusaha untuk mengingat orang-orang yang pernah aku kenal. Oh iya, kamu ikut acara ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya. Kamu sendirian? Yusufnya mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mungkin sebentar lagi akan sampai. Tadi kami janjian untuk bertemu disini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh begitu” Sahut Alifa datar. Aku mengangguk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh iya hampir lupa” Tukasnya padaku. Dia mengambil sesuatu dari tasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ini” Ucapnya sambil memberikan sebuah undangan pernikahan berwarna biru tua padaku. Aku menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ini undangan pernikahanku. Datang ya?” Sambungnya. Aku menatapnya sesaat lalu kubuka undangan itu. Disitu tertera nama Alifa Oktaviana menikah dengan Guntur Maulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Selamat ya?” Ucapku padanya. Dia mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kalau begitu aku ke dalam dulu ya? Jangan lupa datang bersama suamimu di hari pernikahanku nanti” Ucapnya sebelum pergi meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Insya Allah nanti aku sampaikan” Sahutku. Alifa tersenyum dan pergi dari hadapanku. Kulihat lagi jam tanganku. Sudah pukul 17 lewat 30 menit tapi Mas Yusuf belum juga datang. Kemana dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak lama berselang aku mendapati seorang ikhwan yang dulu pernah aku lihat di book fair. Dia temannya Mas Yusuf yang pernah berbincang dengannya. Aku melihatnya tepat ketika dia melihat kearahku. Dia mengangguk dan menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Assalamu’alaikum. Yusufnya kemana ukh ?” Tanyanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menggeleng, ”Wa’alaikumusslam. Belum datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh...Bukannya bareng?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menggeleng lagi sambil mengarahkan pandanganku kearah jalan. Siapa tahu Mas Yusuf sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tadi sih ana ketemu dia di sekolah terus dia bilang mau pergi jenguk Mas Bambang yang lagi sakit. Tapi dia nggak bilang mau datang kesini” Jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Memang Mas Bambang sakit apa? Antum tahu kapan dia pergi jenguk Mas Bambang?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tadi pagi kakinya Mas Bambang tersiram air panas, jadi tadi dia tidak mengajar. Kayaknya abis Ashar tadi deh Yusuf jalan. Soalnya dia bilang, pulang dari rumah Mas Bambang dia mau langsung kerumah ibunya. Mau nginep katanya. Tapi nggak tahu juga sih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Randi!! Ayo!” Teriak salah seorang memanggil ikhwan yang kini ada di hadapanku yang kutahu bernama Randi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Afwan. Ana duluan. Asslamu’alaikum” Ucapnya lalu melangkah menghampiri seseorang yang tadi memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumussalam” Sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pikiranku semakin kacau. Apa Mas Yusuf lupa dengan janjinya? Apa Mas Yusuf lupa kalau aku sekarang tengah menantinya disini? Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Engkau mendatangkan Randi kesini untuk memberikan kabar yang membuatku bimbang? Sesaat lamanya aku terdiam sampai akhirnya aku menyadari kalau rintik-rintik hujan telah membasahi pakaianku. Segera saja aku ambil payung dari dalam tas dan kubuka untuk melindungi tubuhku dari hujan. Kalau saja Mas Yusuf tidak menyuruhku menunggunya disini, pasti aku sudah masuk kedalam lebih dulu. Dan kalau saja aku tidak berjanji untuk menunggunya sampai ia datang, pasti saat ini aku sudah berada di dalam tanpa harus berdiri disini ditemani hujan yang turun semakin deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Langit sudah semakin mendung dan azan Maghrib pun berkumandang. Dengan berucap bismillah aku melangkahkan kakiku kedalam diiringi niat kalau aku hendak menunaikan shalat Maghrib dan bukan bermaksud untuk mengingkari janjiku pada Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah shalat Maghrib, aku kembali lagi kedepan. Dengan harapan Mas Yusuf pasti datang. Hujan sudah mulai reda, namun masih ada sisa-sisa gerimisnya yang membasahi jilbabku. Aku sudah mulai letih. Aku berniat menghubungi Mas Yusuf kembali. Tapi kuurungkan. Akhirnya aku putuskan untuk mengiriminya pesan yang isinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas, bkn mksudku ingin mengingkari janjiku u/ menunggumu disini smp kau dtg. Tp sungguh, aku sdh tk kuat lagi berdiri disini u/ menunggumu. Jd aku hrp, kau mau mengizinkanku u/ plg skrg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kukirim segera. Alhamdulillah pengiriman berhasil. Allah selalu ada bagi hambahambaNya yang bersabar. Tak lama kemudian satu pesan aku terima. Dari Mas Yusuf. Ternyata Isinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku segera kesana. Kau jgn kmn2. Kali ini aku janji. Afwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba air mataku jatuh membasahi ponsel yang kupegang. Aku berusaha untuk meluruskan pikiranku. Aku berusaha untuk tetap memikirkan hal-hal baik tentang Mas Yusuf, tapi kenapa air mata ini masih saja membasahi wajahku? Sekuat tenaga aku yakinkan diriku kalau Mas Yusuf hanya terlupa. Dan bukan karena dia tidak mencintaiku makanya dia lupa pada janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperempat jam aku menunggunya akhirnya dia datang juga. Entah bagaimana lagi raut wajahku saat ini. Yang pasti aku berusaha untuk tetap tersenyum melihat kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maaf ya, maaf banget. Tadi aku lupa kasih tahu kamu kalau Mas Bambang itu sakit. Tadi pagi kakinya tersiram air panas waktu mau menyeduh kopi, jadi tadi dia tidak mengajar. Lalu guru-guru yang lain mengjak aku untuk menjenguknya. Kamu tidak marah kan?” Cerocosnya begitu dia sampai di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku memandanginya lekat-lekat tanpa bisa menjawab sedikitpun. Aku bingung harus menjawab apa. Aku memang marah dan kesal padanya, tapi aku juga tidak mau dia tahu kalau aku marah padanya. Aku putuskan untuk menggeleng sambil berucap, ”Iya” ”Maksudnya?” Tanyanya tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Coba kamu pikirkan kembali apa jawabanku barusan. Kalau kau mengerti, pasti kau tahu apa maksud dari jawabanku” Sahutku dengan nada datar. Aku sudah lelah. Dia terdiam. Acara di Bumiwiyata sudah selesai. Orang-orang sudah berhamburan keluar. Aku teringat Alifa yang memberikan undangan pernikahnnya padaku. Aku segera mengambilnya dari dalam tas dan memberikannya pada Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nih” Ucapku sambil menyodorkan undangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa ini?” Tanyanya sambil meraih undangannya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Undangan pernikahan Alifa” Jawabku. Dia membukanya dan membacanya. Tak lama dia berucap datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mungkin inilah yang terbaik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku hanya diam. Dia mengembalikan undangannya padaku dan menyuruhku naik ke motornya. Sambil naik aku berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sebaiknya kita tidak usah kerumah ibu. Tidak enak rasanya datang kesana dengan pakaianku yang basah. Lebih baik besok saja kita kesananya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Baiklah” Sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Motor yang kami tumpangi segera berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Sepanjang jalan kami hanya diam sambil mengintrospeksi diri masing-masing. Adakah surga yang tadi aku impi-impikan bisa aku cium baunya? Adakah surga yang telah Allah janjikan itu, bisa juga kami rasakan? Entahlah. Hanya waktu yang dapat menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanya kesabaran dan kekuatan yang dapat menunjukkan segalanya dengan jelas. Aku hanya bisa berdo’a dalam diamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari pernikahan Alifa tiba. Aku dan Mas Yusuf pergi kesana bersama-sama. Setelah kemarin aku menyerahkan revisi novelku yang ketiga pada pihak penerbit, aku langsung membeli kado pernikahan untuk Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Yusuf terlihat murung. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Apa mungkin dia masih menyimpan nama Alifa dalam hatinya? Entahlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Didepan sebuah rumah berbentuk seerhana, Mas Yusuf menaruh motornya dengan beberapa motor lainnya yang sudah terparkir lebih dulu disana. Setelah menulis nama kami di buku tamu dan memberikan bingkisanku pada dua orang wanita berjilbab ayu yang duduk disana, kami masuk kedalam menemui Alifa dan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Senyuman penuh kehangatan terpancar di wajah cantik nan menawan Alifa. Dia benarbenar tidak bisa memungkiri kalau hari ini dia begitu bahagia. Bahagia karena hari ini dia sudah resmi menjadi seorang istri, bahagia karena hari ini adalah hari pernikahannya, dan bahagia karena dia dan suaminya, saling mencintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi Alifa tidak sadar dan tidak menyadari, kalau ada seseorang yang hatinya begitu hancur melihat dia bersanding dengan orang lain. Dia adalah suamiku sendiri. Sebagai seseorang yang sudah hidup bersamanya selama lima bulan lebih, aku sudah bisa melihat ada kemurungan lain yang aku tangkap di wajahnya yang sendu. Mungkin dia berpikir, ’seharusnya aku yang ada di pelaminan itu dan bukan lelaki yang bernama Guntur itu’. Astaghfirullah!! Aku tak mau su’udzan pada suamiku. Kembali kuluruskan niatku. Aku memasuki halaman rumahnya yang sudah di penuhi oleh para tamu. Undangan laki-laki dan undangan wanita di pisah oleh hijab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku bersalaman dengan Alifa dan memeluknya dengan erat seraya mengucapkan kalimat yang sama seperti yang pernah ia ucapkan padaku saat menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Barakallah ya Alifa? Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Syukran ya?” Ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengangguk dan tersenyum. Mas Yusuf hanya bersalaman pada Guntur tanpa berucap sepatah katapun padanya. Aku mengerti perasaannya. Sebelum kami beranjak pergi, Alifa meminta kami untuk berfoto bersama. Aku berdiri disamping Alifa dan Mas Yusuf berdiri di samping Guntur. Tinggi badanku hampir sama dengan Alifa dan sepertinya tinggi badan Mas Yusuf pun tak jauh beda dengan Guntur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah berfoto, aku dan Mas Yusuf meminta diri. Aku mengambil hidangan di tempat akhwat dan Mas Yusuf mengambil hidangan di tempat ikhwan. Setelah menghabiskan makanan kami, Mas Yusuf memberikan isyarat matanya padaku sambil mengangguk pelan. Menandakan bahwa dia ingin segera pulang. Aku pun menurutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum pulang, sekali lagi kami berpamitan pada Alifa dan Guntur. Dia menyayangkan kami yang terkesan buru-buru sekali. Tapi apa boleh buat, Mas Yusuf sudah mengajakku pulang. Setelah berpamitan, kami pulang dengan perasaan kami masing-masing. Menatap kembali senyum Alifa yang terlihat begitu bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiga bulan telah berlalu dari hari itu. Dan malam ini, aku kembali meneteskan air mataku. Suami yang aku bangga-banggakan selama ini ternyata berbohong padaku. Kenapa seseoang yang taat beragama,rajin beribadah dan membaca Al-Qur’an, serta seorang yang terbiyah seperti dia bisa membohongiku? Aku tak pernah habis pikir. Tadi pagi dia mengatakan padaku bahwa dia tidak bisa ikut hadir dalam acara munasoroh Palestine di Monas. Tapi ternyata, diantara ribuan, bahkan puluhan ribu ikhwan yang datang pada acara itu, kedua mataku menangkap sosok seorang ikhwan yang sudah lebih dari 8 bulan ini hidup bersamaku. Aku melihat suamiku tengah mengibarkan bendera Palestina, lengkap dengan topi dan ikat kepalanya yang bertuliskan ’Save Palestine’. Dia mengibarkan bendera itu dengan penuh semangat dan ghirah yang selalu membakar jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Entah mengapa Allah swt menampakkannya di penglihatanku di tengah kerumunan orangorang itu. Remuk redam rasanya jiwa ini ketika aku sadar dia membohongiku. Berkali-kali aku yakinkan diriku bahwa orang yang aku lihat itu bukan suamiku. Tetapi ketika kutatap sekali lagi wajahnya yang samar-samar kulihat dari kejauhan dan dari kerumunan orang, aku mantapkan hati bahwa dia memang suamiku. Ikhwan itu memang benar-benar Mas Yusufku. Melihat hal itu, langsung saja aku palingkan wajahku dan mengajak Nadia, sahabatku untuk beranjak pergi dari awal tempatku berdiri. Aku tidak mau Nadia sampai tahu kalau ternyata Mas Yusuf menjadi salah satu pengibar bendera Palestina disana. Sebab dari awal aku sudah terlanjur bilang padanya bahwa Mas Yusuf tidak bisa hadir karena ada urusan di sekolahnya. Nadia pun percaya. Dan aku tidak ingin kepercayaan Nadia itu berubah menjadi ketidakpercayaan padaku atau pun suami, karena dia telah melihat Mas Yusuf disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan gontai kulangkahkan kakiku keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang bersemangat itu. Kuajak serta Nadia dari sana dengan alasan aku lelah dan ingin mencari minum pelepas dahaga. Dan kebetulan saja, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, menandakan bahwa sebentar lagi azan zuhur akan berkumandang. Segera saja kuajak Nadia untuk pergi dari Monas menuju masjid terdekat, Masjid Istiqlal. Disana sudah banyak ikhwan / akhwat yang berpeluh dan berkeringat tengah membanjiri Masjid Istiqlal untuk melaksanakan shalat Zuhur. Aku dan Nadia mencari tempat wudhu wanita dan mengambil wudhu disana. Cukup mengantri memang, tapi akhirnya aku dan Nadia bisa mengambil air wudhu sebelum azan Zuhur berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuselonjorkan kakiku dan kusandarkan punggungku kesalah satu tiang masjid ketika aku dan Nadia sudah mendapatkan posisi yang cukup nyaman untuk shalat. Sambil menunggu azan berkumandang, kunikmati sebotol air mineral yang tadi aku beli sambari angin sepoi-sepoi dan semriwing membelai-belai wajahku. Diwaktu yang sama, kulihat Nadia juga melakukan hal yang sama sepertiku. Kulemparkan senyum padanya lalu kuarahkan kembali pandanganku lurus kedepan. Angin sepoi-sepoi terus saja membelai lembut wajahku ketika tiba-tiba saja kedua mataku basah dengan air mata. Aku teringat kembali dengan Mas Yusuf. Kenapa dia berbohong padaku? Apa dia tidak mau pergi keacara itu bersamaku sehingga dia harus berdusta? Atau apa? Sekuat tenaga kuluruskan pikiranku dan sebenarnya aku tak ingin bersu’udzan padanya. Tapi..... Seketika air mataku jatuh membasahi wajahku. Aku tersadar. Ternyata azan Zuhur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; tengah berkumandang. Aku segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat Zuhur bersama Nadia dengan terlebih dahulu melaksanakan sunnah rawatib 2 rakaat. Nadia menjadi imam dan aku menjadi makmum. Setelah shalat Zuhur kami melaksanakan shalat sunnah rawatib lagi 2 rakaat lalu kembali istirahat sebentar. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, kami memutuskan untuk pulang. Diperjalanan Nadia banyak sekali bercerita tentang hal-hal yang lucu. Aku ingin sekali tertawa tapi tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bayangbayangku tentang Mas Yusuf kembali mengusik pikiranku. Hal itu mengalahkan semua rasa dan pemikiranku yang kala itu tengah mendengarkan cerita Nadia. Aku hanya bisa tersenyum kecil tanpa bisa berkomentar apa-apa. Dan ketika Nadia bertanya padaku tentang sikapku, aku hanya menggeleng dan menjawab, ”Nggak. Aku enggak kenapa-kenapa. Terus bagaimana kelanjutannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu Nadia pun melanjutkan ceritanya. Aku hanya mendengarkannya dengan pikiran yang entah kemana perginya. Nadia mengajakku mampir sebentar ke warung somay yang ada di Stasiun Gondangdia. Aku menurutinya. Aku memesan satu porsi tapi tidak habis.Nadia membayarnya dan aku pun memberikan uang sepuluh ribuan padanya. Awalnya dia menolak tapi kupaksa dan akhirnya dia menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami naik keatas dan membeli tiket. Nadia yang membelinya. Jurusan Lenteng Agung dan Pasar Minggu. Di Stasiun Gondangdia sudah banyak sekali orang yang beratribut Palestina. Entah bajunya, kerudungnya, atau topi dan pin yang mereka kenakan. Memang, semangat saudara-saudara kita di Palestina tidak pernah surut untuk melawan penjajah Israel, sampai mereka takluk dan menyatakan menyerah pada rakyat Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya...memang masa-masa itu belum tahu kapan tapi yang pasti saat-saat itu akan ada masanya. Dan aku yakin Allah pasti akan menepati janjiNya. Sebagaimana dijelaskan dalam wahyuNya, surat Al-Baqarah ayat 85-86.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan dari kamu kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan perbuatan dosa dan permusuhan, tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orangorang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari jarak beberapa meter aku melihat seorang akhwat yang sepertinya aku kenal. Dia sedang berbincang dengan beberapa teman akhwatnya sesama aktivis. Aku berusaha mengingatnya sekuat tenaga. Tapi siapa dia? Alhamdulillah setelah berpikir keras, aku mengingatnya. Dia adalah sahabatnya Alifa. Dia pernah datang bersama Alifa ke pesta pernikahanku. Ingin sekali rasanya aku mendekatinya dan menanyakan kabar Alifa padanya. Dengan langkah yang pasti, aku mengajak Nadia untuk menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Assalamu’alaikum” Ucapku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikummussalam” Sahutnya bersama dengan beberapa temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Afwan, ana mau tanya, apa anti temannya Alifa?” Tanyaku sambil mengarahkan pandanganku pada orang yang kumaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh, iya ana temannya Alifa. Ana Ririn. Afwan, anti istrinya akh Yusuf kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya. Ehm, ana mau tanya, bagaimana kabar Alifa sekarang? Apa dia tidak ikut munasoroh? Atau mungkin dia pergi dengan suaminya ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wajah ukhti yang ada dihadapanku terlihat muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada apa ya Rin?” Tanyaku langsung padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ehm...keadaan Alifa sekarang tidak begitu baik” Jawabnya dengan nada sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Memang dia kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ririn mulai menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Seminggu setelah pernikahannya, suaminya meninggal akibat kecelakaan kereta api. Mobil yang dikendarainya mogok dan terjebak di rel kereta api. Dan pada saat yang bersamaan, kereta datang melintas dan Guntur....” Ririn memutus perkataannya. Aku hanya bisa diam sambil meringis mendengarnya. Dalam hati aku terus beristighfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lalu keadaan Alifa sekarang bagaimana?” Tanyaku setelah tadi aku sempat terkejut mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Keadaan terakhir yang aku tahu, dia kini terbaring di rumah sakit karena stres. Awalnya dia bisa menerima kenyataan ini, tapi makin kesini, kondisinya semakin parah. Dia tidak mau makan dan minum, sampai akhirnya sakit. Dia terus memikirkan kematian suaminya yang sangat tragis. Dan pada akhirnya dia harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya semakin lemah dan parah” Jelas Ririn. Aku diam sejenak lalu bertanya di rumah sakit mana Alifa dirawat. Setelah Ririn memberitahukan dimana Alifa dirawat, aku segera meminta diri untuk beranjak dari tempatku berdiri kini. Nadia bertanya padaku siapa Alifa. Aku menjelaskan padanya tentang Alifa. Sekedarnya tanpa menceritakan padanya kalau Alifa itulah yang sebenarnya menjadi impian Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanpa terasa kereta yang kami tunggu-tunggu sudah datang. Segera saja aku dan Nadia menjejalkan diri masuk kedalamnya. Alhamdulillah bisa masuk dengan selamat. Di sekeliling kami hampir semua berjilbab putih. Sangat bisa ditebak bahwa kami habis melakukan aksi munaoroh Palestine di Monas. Aku tak peduli dengan tatapan orang-orang lain pada kami. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai dirumah dan merebahkan tubuh ini diatas tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Biasanya sepulang aksi-aksi seperti ini, ada semangat baru yang terpatri dalam diriku untuk kembali bangkit merencanakan hari esok. Tapi sekarang, entah mengapa tiba-tiba semangat itu seakan pudar. Terhapus oleh bayang-bayang Mas Yusuf yang tadi aku lihat dan juga bayang-bayang Alifa yang kini mungkin tengah terbaring tak berdaya dirumah sakit. Tapi aku berharap Alifa pun sudah sembuh dan bisa bangkit merajut hari-hari barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menuju stasiun Tebet, alhamdulillah ada dua orang perempuan yang bangkit dari duduknya dan segera saja aku gantikan tempat duduknya bersama Nadia. Kulihat kesekeliling tidak ada orang yang mungkin lebih pantas mendapatkan tempat duduk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengucap syukur karena akhirnya bisa duduk. Beberapa menit kemudian datang kehadapanku seorang perempuan tua yang mengais rezeki dengan cara menyapu lantai kereta dengan sapu kecilnya. Pakaiannya compang camping namun tetap berkerudung, menandakan bahwa dia seorang muslim. Di pinggangnya terdapat sebuah tas untuk menaruh uang hasil menyapu yang dengan ikhlas diberikan oleh penumpang kereta. Dia menadahkan tangan kanannya padaku. Hatiku tersentuh dan langsung ku keluarkan uang lima ribu rupiah dan kuberikan padanya. Nadia pun ikut mengeluarkan uang seribu rupiahnya untuk diberikan pada ibu itu. Wajahnya begitu berseri-seri saat menerima uang dariku dan Nadia. Dia pun mengucapkan terima kasih dan kembali menyapu bagian yang lain dari lantai kereta. Nadia mungkin heran melihatku memberikan ibu tadi uang lima ribu rupiah. Dia lantas menanyakan perihal tersebut padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kamu memberikannya uang lima ribu Nda?” Tanyanya dengan memanggilku dengan sebutan ’Nda’. Ya, memang hanya Nadia yang memanggilku dengan kosakata terakhir dari namaku, ’Nda’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa menurutmu, uang lima ribu rupiah itu besar?” Tanyaku balik padanya. Nadia mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Menurutku itu terlalu besar Nda. Apa tidak ada uang kecil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada. Tapi bagiku, uang lima ribu itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan semua nikmat yang telah Allah berikan padaku. Uang lima ribu itu hanya sebagai ungkapan rasa syukurku saja pada Allah swt karena paling tidak, Dia masih berkenan mengizinkan aku untuk dapat hidup enak dan nikmat tanpa harus bekerja keras seperti yang ibu tadi lakukan. Aku hanya ingin membagi rasa syukurku ini pada orang-orang yang memang pantas untuk menerimanya. Lagi pula dia bukan hanya mengemis, tapi juga secara tidak langsung dia sudah membantu kita dengan membersihkan lantai kereta ini. Benar kan Nad?” Jelasku pada Nadia. Nadia mengangguk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesaat lamanya kami diliputi kebisuan. Hanya angin yang berhembus dari jendela kereta yang berbisik-bisik membelai wajah kami. Tepat di Stasiun Tebet banyak penumpang yang turun, namun hanya sedikit orang yang naik. Alhasil kereta menjadi agak sedikit lengang. Banyak penumpang yang tadinya berdiri kini mendapat tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mataku menangkap jelas dua orang laki-laki berpakaian rapi yang sepertinya tidak ada kerutan sedikitpun di baju dan jas mereka. Dengan masing-masing membawa tas agak besar mereka berdiri tak jauh dari pintu masuk kereta. Mereka terus berbincang-bincang sampai kereta mulai berjalan kembali. Namun kemudian mereka masuk agak kedalam sehingga tak terlihat lagi oleh pandanganku. Beberapa menit setelah kereta melaju di rel-nya, tiba-tiba terdengar suara bentakan hebat yang dilayangkan oleh seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hei! Perempuan tua jalang! Berani-beraninya kau mengotori sepatuku dengan sampah busukmu itu. Pantaslah tanganmu itu kuinjak karena kau telah mengganggu kami dengan sapu bututmu itu. Enyahlah kau dari hadapanku, dasar perempuan tak tahu diri!” Bentak salah seorang dari penumpang yang aku tidak tahu siapa dia. Aku bangkit dari dudukku sesaat untuk mengetahui siapa yang berani berbuat kurang ajar pada seorang perempuan yang dibilang jalang olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ternyata yang berbuat hal yang memalukan itu adalah salah seorang dari dua orang penumpang laki-laki yang berpakaian rapi dengan membawa tas agak besar yang tadi sempat aku perhatikan. Dan perempuan tua yang dihina olehnya adalah ibu tua yang tadi menadahkan tangannya padaku dan Nadia. Ibu tua itu duduk menangis sambil mengusapusap tangannya yang katanya terinjak oleh orang yang menghinanya tadi. Aku sungguh tak tega melihatnya.Orang yang berpakaian rapi yang satunya lagi mengusap-usap bahu temannya itu. Aku harap dia bisa menyadarkan temannya itu yang sudah berbuat kurang ajar pada ibu tua itu. Tapi ternyata dugaanku salah. Dengan setali tiga uang, orang yang satunya lagi malah ikut-ikutan mencaci ibu tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hei! Pergi kau dari sini. Seperak pun tak akan aku berikan uangku untukmu. Pergi kau! Dasar perempuan tua tak tahu diuntung. Mengganggu saja! Pergi kau!!” Ucapnya dengan nada yang lebih tinggi dari orang yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua penumpang yang ada di dalam kereta mengarahkan pandangannya pada dua orang laki-laki dan ibu tua itu. Sungguh, aku jadi naik pitam. Aku sungguh tak tega melihat dua orang itu menghina ibu tua itu. Aku harus bertindak. Tapi apa? Semua orang yang ada dalam kereta tidak berani bertindak. Ini sudah keterlaluan. Ini sudah termasuk perbuatan zalim. Dan kezaliman harus segera di musnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah kurasa tak ada yang cukup berani meluruskan kesalahan dua orang itu, akhirnya aku putuskan untuk membela ibu tua itu yang aku rasa dia tidak bersalah. ”Cukup-cukup!!” Teriakku sambil berjalan kearah ibu tua itu. Aku rasa semua yang ada disana sedang memperhatikanku. Sebenarnya aku sangat takut dan gemetar, tapi aku yakin aku bertindak yang memang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang melihat kemungkaran dan kezaliman. Dua laki-laki itu mengarahkan tatapan sinis padaku. Jujur, pada saat itu aku hanya bisa pasrah pada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tidak sepantasnya kalian sebagai seorang yang berpendidikan, berperilaku seperti itu. Saya yakin kalian ini pasti seorang yang berpendidikan bukan? Apakah pantas kalian berdua menghina ibu ini dengan hinaan yang sebenarnya sangat tidak patut keluar dari mulut kalian sebagai seorang yang berpendidikan? Apakah hanya karena sepatu bagus kalian yang mengkilap, kalian merasa pantas menghina ibu ini? Apakah hanya karena kemeja dan celana kalian yang licin, lalu kalian merasa benar untuk mencaci makinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau hanya karena itu semua kalian merasa benar melakukan hal itu, maka sebenarnya yang hina bukan ibu ini, melainkan kalian” Ucapku dengan tegas sambil membantu ibu tua itu untuk berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa maksud perkataanmu hei?” Tanya salah seorang dari dua laki-laki itu yang mengenakan kemeja berwarna biru tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa kurang jelas apa yang saya ucapkan tadi? Kalau kalian merasa benar melakukan hal itu, maka kalian pun tak lebih tinggi dari seorang pecundang. Kalian menghina seorang ibu yang sudah tua renta ini tanpa sebuah rasa tak tega sedikitpun. Hanya karena dia tak sengaja mengotori sepatu kalian, lantas kalian menghinanya. Apakah harga diri kalian hanya sebatas sepatu kalian yang mengkilap itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hei! Tutup mulutmu perempuan berjilbab. Tahu apa kau tentang harga diri. Hah?” Kali ini laki-laki yang mengenakan kemeja merah marun yang bertanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apakah kalian tidak pernah berpikir sedikitpun tentang kehidupannya ketika mata kalian melihat dia mencari sesuap nasi dengan membersihkan gerbong kereta ini? Kemana hati nurani kalian tatkala tangan tua rentanya menyingkirkan sampah-sampah yang kita buang sembarangan disini? Saya tanya, apakah pekerjaannya itu mengganggu kalian? Apakah pekerjaannya itu menyusahkan kalian sehingga kalian harus marah padanya? Apakah kalian bisa menjawabnya? Hah?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dua lelaki itu diam seribu bahasa sambil saling bertatap-tatapan. Aku masih terus saja merangkul ibu tua itu tanpa sedikitpun rasa geli dalam diriku karena pakaian yang dikenakannya sangat kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa yang dilakukannya itu adalah sebuah perbuatan yang terpuji. Kita yang membuang sampah sembarangan lalu dia yang membersihkannya, apa kita tidak malu? Sebagai seorang yang berpendidikan dan beragama, apakah pantas kalian menghina seseorang yang justru telah mengajarkan kita akan pentingnya kebersihan? Coba kalian pikir, kata-kata yang kalian lontarkan tadi bisa jadi sangat menyakitkan hatinya. Coba kalian perhatikan air mata yang mengalir di wajahnya. Itu menandakan bahwa hatinya sangat perih. Demi mendapatkan sesuap nasi untuk mengganjal perutnya hari ini, dia sampai rela menahan rasa sakit di hatinya karena ucapan kalian. Belum lagi tangannya yang terinjak oleh salah satu diantara kalian. Dia telah berjasa membersihkan tempat ini agar kita nyaman berada di dalamnya, tapi apa yang kalian berikan padanya? Sebuah cacian dan hinaan. Bahkan untuk mengeluarkan uang seribu dua ribu saja kalian tidak bersedia, kalian malah menghujaninya dengan cacian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah ucapan yang aku lontarkan pada dua lelaki yang kini hanya bisa diam mematung sambil menatap wajahku dan ibu tua yang kini ada di sampingku. Aku yakin semua orang tengah memandangi kami berempat. Aku kembali berkata pada dua lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saya yakin kalian seorang muslim. Terlihat dari gantungan tas kalian yang berlambangkan Allah. Apakah kalian tidak menyadari bahwa iman kalian belum sempurna?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hei, jangan bicara sembarangan. Kami orang yang beriman dan hanya Allah Tuhan kami” Sahut lelaki berkemeja merah marun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kalau kalian merasa benar-benar beriman, seharusnya kalian bisa lebih mencintai saudara kalian sesama muslim. Rasulullah bersabda, Belum sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Kalau memang kalian mencintai diri kalian, seharusnya kalian juga bisa mencintai saudara kalian sesama muslim sehingga kalian benar-benar bisa merasakan manisnya kesempurnaan iman itu. Saya yakin kalian pasti tidak mau memikul kebohongan dan dosa yang nyata bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa maksudmu dengan kebohongan dan dosa yang nyata?” Kali ini laki-laki berkemeja biru tua yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Allah berfirman dalam Qur’anNya, Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata . Saya harap, kalian bisa memahami ayat itu. Dalam ayat yang lain, Allah juga mengingatkan kita agar jangan mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi, mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari pada mereka yang mengolok-olok. Mohon diingat akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saya hanya ingin mengingatkan kalian agar tidak sombong. Apa yang kalian lakukan itu adalah perbuatan yang sombong dan tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Coba sedikit saja tundukkan hati kalian dan sedikit berpikir, bagaimana kalau semuanya berbalik dan kalian atau keluarga kalian yang sekarang ada di posisi ibu ini. Apa perasaan kalian saat ini? Saya yakin kalian tidak bisa menjawabnya karena jawaban itu sudah kalian telan mentah-mentah bersama hinaan-hinaan kaliantadi. Harusnya kalian bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan pada kalian untuk hidup enak sehingga kalian tidak perlu susah-susah mencari uang seperti yang ibu ini lakukan. Tolong kalian buang kesombongan kalian itu. Allah bisa marah karena pakaianNya kalian pakai. Kesombongan adalah dosa besar yang menyebabkan iblis di usir dari surga. Rasulullah bersabda, Orangorang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat bagaikan semut kecil dalam wujud manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mereka dikepung oleh kehinaan dari seluruh arah. Mereka digiring ke sebuah penjara dalam neraka Jahanam . Mereka ditutupi oleh api paling panas dan diberi minuman dari nanah penduduk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Jadi sekali lagi saya mohon, buanglah rasa angkuh kalian. Jangan sampai jabatan dan kedudukan kalian saat ini membuat kalian gelap mata dan akhirnya terjebak dalam bayangbayang neraka jahannam yang tengah menanti orang-orang yang sombong. Saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; melakukan hal ini, karena saya tidak tega melihat ibu ini dicaci dan dihina. Sepatutnyalah kalian menghormatinya karena biar bagaimanapun, dialah yang lebih dulu menempati dunia ini dibanding kita. Ibu ini telah mengajarkan kita akan banyak hal. Tentang kebersihan, kesabaran dalam menghadapi hidup, dan sebuah usaha dan kerja keras yang juga di iringi dengan ikhtiar, tawakal, dan rasa syukur. Betapa hidup ini harus dijalani tanpa mengenal kata putus asa. Itulah muslim sejati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dua lelaki berkemeja licin itu tampak berkaca-kaca. Raut wajahnya terlihat sekali kalau mereka sangat menyesal. Mereka saling bertatap-tatapan kemudian mereka mengaku sangat menyesal dengan tindakannya terhadap ibu tua itu. Setelah mengucapkan terima kasih padaku, mereka menyalami ibu tua yang kini ada disampingku sambil meminta maaf padanya dan memberinya dua lembar uang seratus ribuan. Ibu tua itu menghapus air matanya. Dia tersenyum padaku dan mengucapkan terima kasih. Aku balik tersenyum padanya dan terdengar tepukan tangan yang diiringi dengan pekikan takbir dari penumpang kereta yang hampir seluruhnya adalah mereka yang mengikuti aksi munashoroh Palestine di Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tepat di stasiun Pasar Minggu baru ibu tua itu turun. Aku kembali lagi pada Nadia. Ada beberapa orang mengucapkan selamat padaku. Nadia menyampaikan rasa salut dan kagumnya padaku. Aku sampaikan padanya bahwa sungguh saat aku mengucapkan katakata itu, yang terbersit dalam pikiranku adalah bagaimana caranya agar dua lelaki itu bisa mengerti arti kehidupan ini. Dan sejujurnya aku katakan bahwa sampai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; saat ini hatiku masih berdegup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di stasiun Pasar Minggu Nadia turun. Aku hanya mengucapkan terima kasih dan tersenyum padanya. Kereta terus melaju dan terus membawaku beserta orang-orang yang ada dalam kereta menuju stasiun yang satu ke stasiun yang lain. Banyak yang turun namun tak sedikit pula yang terus memadati sesaknya kereta. Stasiun Lenteng Agung sebentar lagi. Aku bersiap-siap untuk turun. Setelah sampai aku pun turun. Aku keluar satsiun dan menghentikan angkot berwarna coklat. Tepat di sebuah sekolah rumah makan padang aku turun dan membayar angkotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dirumah kontrakanku yang mungil, aku mencurahkan segalanya. Teringat kembali semua kejadian yang aku alami hari ini. Aku yang melihat Mas Yusuf di Monas, pertemuanku dengan sahabatnya Alifa dan mengabarkan aku kalau Alifa saat ini tengah dirawat di rumah sakit karena suaminya meninggal, juga kejadian di kereta tadi yang membuatku semakin mengerti arti hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah istirahat sejenak, aku mandi dan shalat Ashar. Mas Yusuf belum juga pulang. Aku menyempatkan diri memasak sayur sawi dan menggoreng telur untuk makan malam Mas Yusuf. Tapi sampai Maghrib tiba, dia belum pulang-pulang juga. Masakanku sudah dingin. Sebenarnya aku ingin menghubunginya tapi aku khawatir dia akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang tidak semestinya. Akhirnya kuurungkan niatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kulihat jam dan azan Isya berkumandang. Aku putuskan untuk segera shalat dan mengadu PadaNya. Aku ingin sekali menangis. Menangis dengan sungguh-sungguh di hadapan Rabbku. Menangis dengan air mata yang sejak tadi siang kutahan. Aku tak pernah sesedih ini. Rasanya sakit seperti teriris-iris pisau sembilu. Aku kecewa padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kucurahkan semua perasaanku dalam buku harianku. Diatas buku itu kugoreskan tinta hitamku. Berharap agar perasaanku yang kini gundah dapat berubah menjadi lebih tenang. Hanya buku harianku yang selama ini selalu menemaniku melewati hari-hari yang baru aku jalani bersama Mas Yusuf. Suamiku yang aku tahu tidak pernah mencintaiku. Suamiku yang aku tahu berbohong padaku tadi siang. Remuk rasanya jiwa ini. Sejadi-jadinya aku menangis sambil terus mencurahkan perasaanku di dalam buku harianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kurasa mataku bengkak. Aku sudah mulai mengantuk tapi Mas Yusuf belum juga pulang. Tidak menelepon ataupun mengirimkan sms sekedar memberitahukan dimana dia sekarang. Kuseka air mataku dan aku beranjak mengunci pintu depan. Mas Yusuf membawa kunci rumah yang satu lagi. Aku melihat kembali makanan yang tadi aku masak. Sudah sangat dingin. Aku masukkan sayur kedalam penghangat nasi dan telurnya kubiarkan diatas meja makan yang kututup dengan tudung saji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali lagi kekamar dan bersiap untuk tidur. Namun baru sekitar 15 menit aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara pintu rumah dibuka. Aku yakin itu Mas Yusuf. Kudengar dia melangkah masuk kedalam kamar. Aku masih memejamkan mata sambil memiringkan tubuhku membelakanginya. Aku putuskan untuk tidak bangun dan menyambut kedatangannya. Aku kahawatir dia melihat mataku yang bengkak lalu dia menanyakan alasannya. Kumantapkan hati untuk tidur malam ini. Dan Mas Yusuf? Biarlah dia makan sendiri malam ini. Toh, nasi, sayur, dan telurnya sudah aku siapkan di meja makan. Biar bagaimana pun, aku hanya ingin menjadi istri yang baik dan berbakti pada suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun hatiku sakit. Tapi untuk malam ini, maafkan aku Mas jika kamu makan sendiri. Aku tak sanggup melihat wajahmu. Di luar, hujan turun secara perlahan mengantarkan deras yang tiada terkira. Dalam pejam malamku aku berdo’a,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku dan dosa-dosa suamiku. Berikanlah kami kekuatan untuk bisa tetap bertahan di jalan IstiqomahMu. Aamiin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sisa-sisa hujan masih terus saja mengguyur kota Jakarta. Dan pagi ini pun hujan masih terus turun dengan derasnya. Sebagian kota Jakarta sudah ada yang tergenang banjir. Aku lihat di berita pagi yang menyebutkan bahwa sebagian kawasan di Jakarta sudah terendam oleh banjir setinggi 1-2 meter. Kebetulan hari ini adalah hari ahad, jadi tidak ada kegiatan yang mengharuskan aku keluar rumah. Dan aku putuskan untuk tetap dirumah dan kembali duduk di depan komputer untuk meneruskan tulisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Kulihat Mas Yusuf sedang menonton televisi. Aku sedang memasak nasi goreng untuk sarapan paginya. Setelah itu kami sarapan bersama tanpa perbincangan yang berarti. Hanya suara penyiar berita di televisi yang mengisi kebisuan kami. Selesai sarapan aku memasak tumis kangkung dan menggoreng tempe. Tak lupa sambal goreng yang menjadi pelengkap menu masakan hari ini. Selesai masak pukul 08.45. Aku bergegas membersihkan tubuhku dari sisa asap masakan. Aku berencana meneruskan tulisanku setelah shalat dhuha nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hujan belum juga reda sementara petir terus saja bersahut-sahutan di langit sana. Aku masuk ke kamar dengan sebelumnya menatap Mas Yusuf yang tengah membaca koran di ruang tamu. Televisinya dimatikan, mungkin karena takut tersambar petir. Aku shalat dhuha di kamar, bermunajat sebentar, kemudian langsung menghidupkan komputerku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mulai terhanyut dalam lautan kata-kata sebelum Mas Yusuf memanggilku karena ada telepon dari pihak penerbit. Aku keluar dan menerima telepon itu. Tak berapa lama, aku menyudahinya. Dari pihak penerbit memintaku untuk membuat ucapan terima kasih karena novel ketigaku akan segera diterbitkan. Hatiku senang tiada terkira. Berkali-kali kuucap rasa syukur yang teramat dalam pada Allah swt. Di tengah derasnya hujan yang belum juga berhenti, aku mendapatkan berita yang menyejukkan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali ke kamar untuk meneruskan tulisanku. Kulihat kini Mas Yusuf tengah meringkuk di atas tempat tidur membelakangi diriku. Kuposisikan diriku di depan layar komputer. Baru beberapa baris aku mengetik, Mas Yusuf membalikkan tubuhnya dan bertanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada apa dari pihak penerbit menelepon?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Memberi tahu kalau novelku yang ketiga akan segera di proses” Jawabku singkat tanpa memalingkan wajahku dari layar komputer. Tiba-tiba aku berinisiatif membuatkan susu hangat untuk Mas Yusuf. Aku menoleh sesaat ke arahnya yang tengah bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca buku. Aku beranjak keluar kamar untuk membuat susu hangat kemudian ku berikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nih Mas. Susu hangat untuk menghangatkan tubuh” Kataku sambil menyodorkan segelas susu padanya. Dia menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit. Aku masih duduk di pinggir tempat tidur sambil menatapnya. Aku begitu mencintainya. Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? Kutepis segera pemikiranku. Aku kembali tertuju pada komputerku sebelum Mas Yusuf menggamit tanganku dan menyuruhku untuk tetap duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak tahu apa yang hendak dia lakukan. Dia beranjak dari tempat tidur lalu mematikan lampu yang ada di kamar dan menutup semua gorden di jendela kamar. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Apa yang hendak ia lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia berjalan ke arahku dan pada saat yang sama, dia mengajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; bercinta. Yang aku ingat, terakhir kami memadu kasih.....3 minggu yang lalu. Hatiku kembali berdebar. Mataku menatap penuh tajam ke arah matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di tengah derasnya hujan, Mas Yusuf membawaku ke taman surga. Di pojok kamar sana, komputer belum sempat aku matikan. Aku masih belum mengerti kenapa Mas Yusuf mengajakku bercinta. Jujur, ini adalah kado terindah untuk novelku yang ketiga. Atau mungkin, ini adalah penebus rasa bersalahnya karena kemarin dia telah berbohong padaku. Entahlah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-8049215264834556731?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8049215264834556731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8049215264834556731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/ketika-cinta-harus-bersabar-part-9.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (PART 9)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5014931918600705007</id><published>2012-01-05T16:34:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T16:34:00.512-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar PART 8</title><content type='html'>Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Tak terasa sudah lima bulan lamanya aku hidup sebagai seorang istri. Menjalani hidup ini dengan seorang suami yang sampai sekarang belum bisa menerimaku sebagai istrinya. Sampai sekarang pula tak pernah sedikitpun aku lihat sebuah kilatan cinta dimatanya untukku. Tak pernah ada tatapan mesra penuh kehangatan yang dia berikan padaku ketika dia pulang dari kerjanya ataupun ketika aku pulang dari kewajibanku bekerja di sebuah perusahaan majalah Islam. Karena hal ini juga, novel ketigaku yang harusnya sudah rampung beberapa bulan yang lalu, kini harus rela tertunda karena masalah hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suasana di rumah dan di kantor sangat berbeda sekali. Di rumah tak bisa aku temukan kemesraan seikitpun dari suamiku, Yusuf. Tetapi dikantor, aku justru menemui Arini dan Fauzi yang kian hari kulihat kian mesra. Tak jarang aku mendengar cerita Arini tentang Fauzi, suaminya, yang menurutnya sangat lembut dan mesra sekali pada dirinya. Aku semakin iri dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Andai saja Arini tahu apa yang aku alami selama hidup berumah tangga, aku yakin Arinipun akan menangis dibuatnya. Dia adalah tipe perempuan yang mudah sekali menangis bila melihat atau mendengar kabar atau berita yang menyedihkan. Saat ini dia tengah mengandung dua bulan, hasil buah cintanya dengan Fauzi. Aku hanya bisa tersenyum kecil kala mendengar ceritanya tentang pengalamannya selama dia mengandung. Tak jarang aku dibuatnya kebingungan tatkala dia menanyaiku kapan aku mau menyusulnya. Aku kembali tersenyum dan hanya menjawab, ”Do’akan saja ya Rin? Mudah-mudahan Allah berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku dan suami”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aamiin”, Sahut Arini mengamini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengingat hal itu, aku jadi teringat akan bulan maduku bersama Yusuf di hotel Maharani lima bulan yang lalu. Aku ingat betul, sejak kejadian itu sampai sekarang, kami baru melakukannya lima kali. Ya, bisa diperhitungkan dalam sebulan itu hanya sekali kami melakukannya. Maka tak jarang, sebelum subuh aku terbangun untuk makan sahur agar keesokannya aku kuat melakukan shaum .Hal itu sengaja aku lakukan untuk menahan keinginan biologisku yang tak tersalurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terkadang pula sebelum aku makan sahur, aku terlebih dulu melaksanakan shalat tahajud dan sedikit bermunajat pada Sang Maha Pencipta. Meminta kekuatan untuk bisa menjalani hidup ini, meminta kesabaran agar aku bisa lebih tabah menerima keadaan suamiku, dan tak lupa, meminta kepada Sang Maha Pemberi nikmat agar berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku. Bidadari kecil yang sudah lama aku nantikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bidadari mungil yang sebenarnya sudah aku impikan sebelum aku menikah. Bidadari cantik yang sesungguhnya menjadi harapanku ketika kelak aku hidup bersama seorang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bidadari yang mungkin kini akan lama hadir dalam kehidupanku. Ditengah munajatku kepadaNya, tak jarang air mataku jatuh membasahi putihnya warna mukena yang kukenakan. Selesai bermunajat, aku tutup tahajudku dengan shalat witir 3 rakaat lalu kemudian aku makan sahur. Seadanya saja. Biasanya setelah sahur, aku mengambil buku harianku dan kutuliskan semua keadaan hatiku disana. Tentang Yusuf suamiku, tentang alasanku melakukan puasa sunnah, dan tentang harapan-harapanku di masa depan.Terkadang ayah dan ibu mertuaku bertanya padaku kenapa sering sekali melakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; puasa sunnah. Aku hanya menjawab, ”Ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah” Biasanya ayah dan ibu mertuaku hanya mengangguk-angguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku juga sering mandi sebelum subuh. Hal itu aku lakukan agar mereka tak menaruh curiga padaku. Mereka pasti akan berpikir kalau aku mandi sebelum subuh, itu artinya semalam aku dan Yusuf baru memadu kasih. Aku hanya ingin mereka berpikiran yang baik-baik terhadap aku dan Yusuf. Itulah hal-hal yang sering aku lakukan ketika aku masih tinggal dirumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi kini, hal itu tak perlu lagi aku lakukan. Beberapa hari yang lalu aku dan Yusuf memutuskan untuk mengontrak rumah di darerah Lenteng Agung. Tak besar memang, tapi aku rasa inilah yang terbaik yang harus kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tempat tidur, lemari pakaian, komputer, bufet, televisi, kursi, dan meja, semuanya telah tertata dengan rapi dirumah kontrakan baruku. Mama, Papa, Ayah, dan Ibu mertuaku turut membantuku merapikan rumah. Mereka benar-benar mengira kalau kehidupanku dan Yusuf amatlah bahagia, sampai-sampai kami memilih untuk mengontrak rumah karena ingin belajar hidup mandiri. Aku hanya bisa meminta do’a restu mereka agar aku dan Yusuf memang benar-benar Bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dirumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam ini Yusuf tengah bergelut dengan laptopnya. Aku sendiri tak tahu apa yang sedari tadi dikerjakannya. Selepas Maghrib tadi dia sudah mulai duduk di depan laptop sambil mengetik beberapa tulisan yang ada dihadapannya. Beberapa lembar kertas berserakan di meja dan itu membuatnya tampak sangat sibuk. Sepertinya tak ada jeda untuk dia melakukan aktivitas lain. Dia menjeda kegiatannya tatkala azan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah baru kami. Masjid Al Mustofa namanya. Kali ini dia memilih untuk shalat Isya dirumah ketimbang di masjid. Alasannya kalau di masjid, selesai shalat tidak Bisa langsung pulang karena bapak-bapak disana sering mengajaknya berbincang-bincang terlebih dahulu. Kalau itu sampai terjadi, maka malam ini dia harus ekstra lembur karena banyak sekali ketikan yang yang harus diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selesai shalat Isya, dia kembali lagi bergelut dengan laptopnya di ruang tamu. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya sambil membawakan segelas wedang jahe untuknya agar tidak masuk angin, karena malam ini ia harus lembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ngetik apa sih Mas, dari tadi? Sepertinya kelihatan sibuk sekali?” Tanyaku sambil memanggilnya dengan sebutan ’Mas’. Ya, memang semenjak aku menikah dengannya, aku memanggilnya dengan sebutan ’Mas’. Diapun tidak keberatan aku memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mendengar pertanyaanku tadi, dia sepertinya agak kesal. Wajahnya tak tampak seguratpun senyuman. Mungkin karena dia yang sudah sibuk, ditambah lagi dengan pertanyaanku yang sebenarnya tidak Bisa membantunya. Mungkin. Itu hanya sebuah kemungkinan saja dariku. Dia menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ngetik soal buat UTS besok” Jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Memang sebanyak itu?” Tanyaku lagi. Dia hanya mengangguk. Aku terdiam sesaat lalu beranjak pergi dari hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Jangan tidur terlalu malam ya? Khawatir besoknya kurang fit malah tidak Bisa ngajar. Wedang jahenya jangan lupa diminum, biar kamu tidak masuk angin. Aku tidur duluan ya?” Ucapku sebelum beranjak pergi ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lagi-lagi dia hanya mengangguk lirih. Aku jadi merasa kasihan padanya. Ketika aku hendak membuka pintu kamar, dia bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Terima kasih ya? Dinda” Ucapnya sambil memandang kearahku. Spontan akupun menoleh padanya dan memberikannya senyuman. Diapun tersenyum kecil dan kembali lagi mengetik. Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan bahagia. Entah mengapa mendengar dia memanggil namaku seolah mendadak berubah menjadi panggilan sayang untukku. Dinda. Ya, nama itu seolah menjelma menjadi panggilan, ’Dindaku sayang’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah, andai saja itu benar-benar terjadi, pasti saat ini aku tengah berbahagia dengan kehidupan baruku. Tapi paling tidak, mendengar dia memanggil namaku saja aku sudah sangat senang. Malam ini, aku Bisa tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Terima kasih ya? Dinda” Suaranya terus menggema di telingaku, sampai aku memejamkan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di tengah pejam malamku, tiba-tiba aku terbangun. Aku merasakan haus yang tak tertahankan. Akhirnya aku bangkit dari tidurku dan melangkah keluar kamar. Betapa terkejutnya aku melihat suamiku tengah tertidur di depan laptopnya. Kulirik jam dinding. Pukul sebelas malam. Aku terenyuh melihatnya. Kuhampiri dia. Wajahnya begitu lelah terlihat. Wedang jahe yang tadi aku buatkan untuknya juga sudah habis diminumnya. Aku juga melihat ketikan di komputernya. Masih banyak yang belum ia selesaikan. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejenak aku berpikir. Tiba-tiba aku mempunyai ide untuk menghubungi Mas Bambang, temannya Mas Yusuf di tempatnya mengajar, untuk mencari tahu tentang soalsoal yang tengah diselesaikannya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Bambang itu mengajar pelajaran matematika.Tapi, apa tidak terlalu Malam untuk menghubunginya? Apa tidak mengganggunya? Ah, ini kan untuk kebaikan juga. Kalau sampai soal-soal ini tidak selesai malam ini juga, maka besok tidak ada soal fisika yang bisa dikerjakan. Aku putuskan untuk menghubungi Mas Bambang melalui ponsel Mas Yusuf yang tergeletak di meja dekat laptopnya. Kucari nama Mas Bambang lalu kupanggil. Busmillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesaat lamanya yang kudengar hanya nada sambung. Kuulangi lagi. Alhamdulillah diangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada apa Suf? Malam-malam kok mengganggu saja” Ucap Mas Bambang dengan nada kesal. Terdengar sekali suaranya yang baru saja terbangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maaf Mas, saya Dinda, istrinya Mas Yusuf” Tukasku agak pelan. Takut Mas Yusuf terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh, maaf...maaf. Saya pikir Yusuf. Ada apa ya, menelepon malam-malam?” Tanya Mas Bambang terdengar kaget ketika dia tahu yang meneleponnya adalah istrinya Yusuf, bukan Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maaf ya Mas, sebelumnya. Saya hanya ingin tahu mengenai UTS besok. Apa mata pelajaran Mas Yusuf itu akan diujikan besok pagi, Mas ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh...iya. Pelajaran fisika itu akan diujikan besok bersama pelajaran Bahasa Indonesia. Ada apa rupanya ya?” Tanya Mas Bambang ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tidak Mas, tidak ada apa-apa. Ehm...setiap soal pelajaran itu mendapat jatah berapa nomor ya Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Setiap soal pelajaran itu mendapat jatah 50 nomor, kecuali matematika, hanya 40 nomor” Jelas Mas Bambang singkat. Kulirikkan mataku ke layar laptop. Soal yang diselesaikan Mas Yusuf baru 27 nomor. Berarti kurang 23 nomor. Jumlah yang cukup besar bila harus diselesaikan malam ini juga. Mengingat waktu terus berputar dan malam semakin larut menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya sudah Mas, terima kasih kalau begitu. Maaf ya mengganggu malam-malam” Ucapku masih dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya...ya, tidak apa-apa” Sahut Mas Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Makasih sekali lagi Mas, ya. Assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumussalam” Jawabnya menutup pembicaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku langsung bergerak cepat. Kuputar laptop kearahku. Kubaca dengan seksama konsep soal-soal fisika yang ada dihadapanku. Setelah cukup, aku mulai mengetiknya dengan melanjutkan soal yang ada. Dengan teliti aku membacanya dan mengetiknya. Agak sulit juga rupanya karena banyak istilah-istilah fisika yang masih sangat asing bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun karena niatku ingin membantu suamiku, maka aku harus benar-benar berusaha untuk menyelesaikan soal-soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu terus bergulir hingga jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam lewat lima belas detik. Alhamdulillah semuanya sudah selesai. Setelah kuteliti ulang dan kurasa benar, soal-soal itu kumasukkan kedalam flash disk, lalu kuprint semuanya di komputerku yang ada di di dalam kamar. Alhamdulillah wa syukurillah, lima lembar soal dengan kertas ukuran folio, huruf times new roman dengan ukuran 12 font, telah selesai aku ketik. Lega rasanya hati ini karena akhirnya soal-soal ini sudah selesai. Aku tersenyum bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuletakkan lima lembar soal itu di atas meja. Kubereskan semua kertas-kertas yang ada disana dan kumatikan laptopnya. Setelah semua beres, aku berniat melaksanakan shalat tahajud. Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan mataku menatap wajah Mas Yusuf. Begitu bersih dan bersahaja. Tapi sayang, tak pernah kutemukan pancaran cinta yang dia berikan untukku. Oh, ingin sekali rasanya aku menyentuh wajahnya, membelai rambutnya, dan...mencium pipinya. Ya, menciumnya. Aku ingin sekali menciumnya. Sampai sekarang belum pernah aku merasakan ciuman hangat darinya. Tapi, ah, kuurungkan saja niatku untuk menciumnya diam-diam. Aku tak ingin menciumnya karena terpaksa. Biarlah. Jika memang seumur hidup aku tidak akan pernah mendapatkan ciuman itu, aku akan berusaha untuk ikhlas. Hanya dengan keikhlasan dan kesabaran, aku akan menjalani hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dinda, apa semua ini kamu yang mengerjakan?” Tanya Mas Yusuf ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya. Aku melongok keruang tamu dari balik dinding dapur dan balik bertanya padanya seolah-olah tidak mengerti apa yang ditanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mengerjakan apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Soal-soal UTS ini?” Jawabnya dengan raut wajah yang tampak bingung sambil membaca dengan seksama kertas-kertas soal yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh! Iya, itu aku yang mengerjakan. Kenapa, ada yang salah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mas Yusuf terdiam sejenak. Dia mengerutkan keningnya. Kedua alisnya hampir saja bertemu ketika membaca soal-soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ehm....Tidak, tidak ada yang salah fatal. Hanya saja ada beberapa kata yang salah penulisannya” Jawabnya sambil memandang kearahku kemudian menunduk lagi memeriksa soal-soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Syukurlah kalau begitu” Sahutku sambil meneruskan aktivitasku memasak nasi goreng dan telur dadar. Aku kembali berkata pada Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hari semakin siang, Mas. Kau belum shalat Subuh” Ucapku lagi pada Mas Yusuf. Sekedar mengingatkan kalau dia memang belum shalat Subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Astaghfirullahal’adzim” Ucapnya terdengar di telingaku. Tak lama kemudian dia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk. Dia melewatiku dengan terburuburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nasi goreng yang kubuat sudah matang. Kuangkat dan kusajikan menjadi dua piring. Telur dadarnya pun senantiasa menghiasinya. Kusajikan semuanya di atas meja makan. Dari kamar mandi terdengar Mas Yusuf sedang mandi. Sepertinya dia lupa kalau dia tidak membawa handuk. Mungkin awalnya dia hanya berniat untuk mengambil air wudhu. Tapi karena sudah terlanjur di kamar mandi, ya sekalian saja dia mandi. Tanpa ingat kalau dia lupa membawa handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan, aku bergegas mengambil handuk dan menyerahkannya pada MasYusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mas, ini handuknya!” Ucapku dari luar kamar mandi sambil mengetuk pintunya. Tak lama dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya seraya mengambil handuk yang aku berikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Terima kasih” Ucapnya pelan sambil menutup pintu kamar mandi. Aku kembali lagi ke meja makan dan menatanya dengan rapi. Setelah kurasa beres semua, aku beranjak ke kamar untuk menyiapkan pakaian Mas Yusuf yang akan dia kenakan untuk berangkat mengajar. Kemudian aku merapikan diriku untuk segera bersiap-siap pergi ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah keluar dari kamar mandi, Mas Yusuf langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Aku sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan. Tak lama kemudian dia keluar kamar dengan mengenakan pakaian yang tadi sudah aku siapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sudah shalat Mas?” Tanyaku ketika dia baru saja keluar dari kamar. Dia hanya mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sebelahku. Di hadapannya sudah ada sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan ketimun serta tomatnya yang kuiris tipis-tipis. Di sebelah nasi gorengnya sudah aku siapkan segelas the manis hangat untuk menghangatkan perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia melahapnya dengan terlebih dahulu membaca Bismillah. Akupun menemaninya makan. Tak ada perbincangan yang berarti ketika kami sedang makan. Entahlah. Mungkin sampai detik ini, perasaannya terhadapku belum berubah. Masih dingin dan acuh. Padahal sebenarnya, aku ingin sekali mendengarkan dia berucap sepatah kata saja padaku. Kata apa saja itu. Yang penting aku mendengar dia memanggil namaku seperti semalam. Rasanya indah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh lima menit. Mas Yusuf menyudahi makannya dengan menenggak teh manis hangat buatanku. Setelah itu dia beranjak mengambil sepatunya dan memakainya di ruang tamu. Semua kertas soal yang aku ketik semalam sudah dia masukkan ke dalam tasnya. Setelah semuanya dirasa cukup dan dirasa tidak ada yang tertinggal, dia bangkit sambil membawa tasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengiringi langkahnya dari belakang. Setelah di depan pintu dia berbalik kearahku. Aku mencium tangannya dengan penuh ketulusan. Dia menatap wajahku dengan biasa-biasa saja. Aku menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut” Pesanku sebelum dia berangkat. Lagi-lagi dia hanya mengangguk pelan tanpa menyahut sedikitpun. Dia melangkah kearah motornya sambil mengucapkan salam. Aku pun menjawabnya. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada apa lagi? Ada yang tertinggal?” Tanyaku dengan penuh kebingungan. Dia menggeleng kemudian bersuara, ”Tidak ada yang tertinggal namun ada yang terlupa...” Jawabnya membuat aku tambah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Apa yang terlupa? Biar aku ambilkan” Ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tidak usah kau ambilkan. Aku hanya lupa mengucapkan terima kasih padamu atas bantuanmu menyelesaikan soal-soal UTS ini. Sungguh, kalau tak ada dirimu, mungkin pagi ini aku akan kuwalahan menyelesaikan soal-soal ini sendirian sambil di kejar-kejar waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terima kasih ya karena sudah meluangkan waktu malammu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Suatu saat, pasti akan kubalas” Ucapnya panjang lebar membuat aku terhenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tidak perlu seperti itu. Memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang istri untuk membantu suaminya” Sahutku menimpalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia mengangguk pelan dan kembali berkata, ”Ya. Kalau begitu aku berangkat. Assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumussalam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia pun menaiki motornya dan sejurus kemudian dia menyusuri jalanan dan menghilang dari pandanganku. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang merasuki jiwaku. Sesuatu yang menetes di kedalaman hatiku yang kemudian membuatnya menjadi segar kembali.Entah apa itu. Aku yakin, itulah cinta. Cintaku yang kian hari kian mendalam pada sosok suamiku. Cinta yang bisa menguatkanku dalam keberadaanku bersamanya. Aku pun masuk kedalam dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ponselku berdering ketika aku tengah sibuk dengan pekerjaanku di kantor. Awalnya aku kurang menghiraukannya karena memang pekerjaanku benar-benar menumpuk. Tapi ponsel itu terus berdering mengeluarkan ringtone ’Merah Saga’nya Shoutul Harokah, nasyid kegemaranku. Kuangkat. Ternyata dari Mas Yusuf. Pikiranku tiba-tiba teralih sejenak pada Mas Yusuf yang kini tengah menanti jawaban telepon dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Assalamu’alaikum. Ada apa Mas?” Tanyaku segera tanpa basa-basi. ”Wa’alaikumussalam. Nanti sore ada acara di Bumiwiyata Depok. Kita ketemu disana jam 5 ya? Malamnya kita menginap di rumah Ibu” Jawabnya singkat dengan cepat. Ibu yang dimaksud adalah ibunya. Aku baru menyadari, dia tak sedikitpun menyebut namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Acara apa memangnya Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Acara bedah buku bersama Penerbit Al Kautsar. Bintang tamunya ada Shoutul Harokah dan Izzatul Islam. Sekalian aku mau cari-cari buku disana” Sahutnya datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh. Ya sudah kalau begitu, kita ketemu disana jam 5 ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya. Assalamu’alaikum” Ucapnya mengakhiri pembicaraan. Diapun langsung menutup teleponnya tanpa mendengar dulu jawaban salamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa’alaikumussalam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku terdiam sejenak sesaat sambil memikirkan apa yang baru saja aku alami tadi. Mas Yusuf meneleponku. Dia mengajakku pergi bersama ke sebuah acara. Inilah untuk yang pertama kalinya selama lima bulan aku menikah dengan Mas Yusuf, dia mengajakku pergi bersama. Suatu hal yang sebenarnya sudah lama sekali aku impi-impikan. Pergi ke sebuah acara bersama seorang suami yang Bisa menggandengku dan menuntunku. Seperti apa yang sering aku lihat. Tapi apakah nanti dia mau menggandeng dan menuntunku seperti apa yang aku impi-impikan selama ini? Entahlah. Aku tidak mau terlalu berharap banyak padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuselesaikan kembali pekerjaanku. Tak lama kemudian ponselku berdering lagi. Kali ini satu pesan diterima. Kubuka. Ternyata dari Mas Yusuf lagi. Bibirku tersenyum kecil sambil membaca isi pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tunggu sj di dpn pintu msk dan jgn kmn2 smp aku dtg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku membalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baiklah. Aku janji tak akan kmn2 smp kau dtg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku bahagia sekali. Mudah-mudahan saja ini langkah awal untuk memperbaiki hubunganku dengan Mas Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu berlalu begitu cepat. Pekerjaanku sudah selesai. Selepas shalat Ashar aku langsung bergegas pergi menuju Bumiwiyata Depok. Jarak antara kantorku ke Depok lumayan jauh, jadi aku putuskan untuk berangkat selepas shalat Ashar agar Mas Yusuf tak terlalu lama menungguku. Dari arah Rawamangun aku naik mobil angkot jurusan Pasar Minggu. Setelah sampai di Pasar Minggu, aku turun dan menyambung lagi dengan Bus jurusan Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alhamdulillah aku mendapat satu kursi pertama di dekat pintu. Di daerah Poltangan, banyak penumpang yang turun, namun tak sedikit pula orang yang berebut untuk naik. Disaat yang bersamaan aku melihat ada seorang ibu tua yang naik dengan membawa beberapa kantong plastik yang aku perkirakan isinya sangat banyak karena cara ibu tua itu membawanya sangat berat. Dia memutarkan pandangannya kesemua tempat duduk yang ada. Penuh. Semua kursi terisi. Ada satu yang kosong di dekat supir. Ibu itu hendak menghampirinya sebelum akhirnya seorang pemuda naik ke dalam Bus dan mendudukkan dirinya disana terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ibu itu sudah di dera keletihan yang teramat sangat. Peluh di wajahnya menggambarkan sekali kalau dia benar-benar letih dan memerlukan tempat duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah tua. Aku mengalihkan pandanganku ke semua penjuru Bus. Tak ada yang mau peduli pada ibu itu. Ada seorang perempuan muda yang asik menelepon sambil tertawa-tawa, ada juga kulihat seorang lelaki yang usianya aku perkirakan baru 30 tahunan sedang membolak balikan koran yang tengah dibacanya sambil sesekali melirikkan kedua matanya ke arah ibu tadi lalu pura-pura kembali membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bangkit dari dudukku dan kupersilahkan ibu itu untuk duduk di kursi yang tadi aku tempati. Aku menemukan kebahagiaan yang tiada terkira terpancar di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Terima kasih ya Nak?” Ucapnya pelan sambil menata barang bawaannya di pangkuannya. Aku mengangguk pelan dan tersenyum padanya. Bus melaju kencang di jalan raya. Terus berjalan menyisiri belahan kota Jakarta. Sejenak aku berpikir tentang semua orang yang ada didalam bus. Kenapa mereka begitu tega melihat seorang ibu yang sudah tua ini berdiri sambil menahan letih dan peluhnya sambil menunggu ada yang mau bangkit dan memberikan tempat duduknya untuknya, sementara banyak dari mereka yang masih sangat muda dan masih gagah, duduk dengan nyamannya sambil memperhatikan ibu itu dengan tatapan biasa-biasa saja. Tak ada sedikitpun dari mereka yang merasa kasihan melihat ibu itu dan tersentuh hatinya lalu bangkit dan memberikan tempat duduknya untuknya. Apa mereka tak menyadari berapa banyak pahala yang tengah Allah siapkan bagi mereka kalau saja mereka mau sedikit saja berbagi pada orang lain yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba aku teringat akan sebuah hadits Rasulullah yang pernah murabbiku sampaikan, tentang ’amal kebaikan’ di halaqah pekan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dari Abu Hurairah ra. berkata, Nabi saw. Bersabda, Barang siapa yang melepaskan seorang mukmin dari kesusahan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan kepadanya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambaNya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk memperoleh ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah (masjid); membaca kitab Allah, dan mempelajarinya bersam-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketentraman, rahmat Allah akan menyelimuti mereka, para malaikat berkerumun di sekelilingnya, dan Allah akan memuji mereka di depan (para malaikat) yang berada di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), maka nasabnya tidak akan dapat menyempurnakannya ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku ingin sekali mencium bau surga itu. Aku ingin sekali melihat indahnya surga yang Allah janjikan itu. Aku ingin sekali. Apakah mereka-mereka yang tengah terduduk itu tidak menginginkan surga itu? Aku yakin mereka pasti menginginkannya. Tapi aku lebih yakin lagi, meskipun mereka mengetahui berapa besar balasan yang akan Allah berikan, mereka akan memilih untuk tetap duduk daripada harus berpanas-panasan sambil berdiri sementara mereka sudah mendapatkan tempat duduk yang enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurutku, mereka itu sombong. Mereka menganggap pahala mereka sudah banyak jadi tak perlu lagi memberikan tempat duduk pada ibu tua tadi demi mendapatkan sebuah pahala. Dan lebih celakanya lagi, pemikiran seperti itulah yang kini sudah tersetting di pikiran mereka masing-masing. Dan mereka juga beranggapan bahwa ibu tua tadi pasti juga akan mengerti kalau mereka tidak berkenan bangkit, itu karena mereka juga samasama lelah. Tapi menurutku, kadar kelelahan mereka berbeda. Mereka bisa menahan rasa lelah mereka, tapi kalau ibu tua tadi? Bisa-bisa dia pingsan kalau terlalu lelah berdiri. Hah, aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; hanya bisa berdo’a agar mereka semua bisa lebih mengerti pada jalan dan tujuan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jalanan tidak terlalu macet untuk di lalui kendaraan. Ya memang kadang-kadang mobil yang aku tumpangi berhenti sejenak tapi itu tidak lama. Meskipun misalnya mobil yang aku tumpangi terjebak macet, aku berusaha untuk tetap sabar. Aku tak ingin menyalahkan siapapun atas kemacetan yang terjadi. Macet ya macet. Hanya kadang banyak orang yang mempunyai persepsi yang berbeda-beda mengenai macet itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada yang menyalahi pemerintah karena kurang bijak dalam mengatasi masalah kemacetan, atau malah justru menyalahi pengguna jalan dan kendaraan yang kurang Bisa bertanggung jawab dalam menggunakan jalan. Entahlah. Semua itu hanya pendapat dari masing-masing orang. Yang pasti untukku, macet ya macet. Biar bagaimana pun kita berkeluh kesah tentang kemacetan, semua itu tidak akan menyelesaikan masalah. Malah justru Bisa membuat masalah baru pada diri kita yang menggerutu tanpa tujuan yang jelas kepada siapa keluhan itu ditujukan. Lebih baik bersabar dan bertawakal karena hal itu Bisa membawa kita pada dua keuntungan. Keuntungan yang pertama, kita Bisa memperoleh pahala atas kesabaran kita, dan keuntungan yang kedua, kita akan awet muda jika kita selalu berpikiran positif pada segala hal, termasuk kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bumiwiyata sudah di depan mata. Aku turun dari bus dengan perasaan senang. Aku menyeberang jalan dan sampai di depan Bumiwiyata. Disana sudah banyak akhwat yang berjilbab lebar dan ikhwan dengan celananya yang semata kaki dan dagunya yang berjenggot tipis. Aku teringat pesan dari Mas Yusuf agar aku menunggunya di depan pintu masuk sampai dia datang. Aku pun menunggunya.Banyak yang datang namun tak sedikit pula yang keluar. Aku memandangi mereka dengan biasa saja. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17 lewat 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sudah mulai gelisah. Kuputuskan untuk menelepon Mas Yusuf di menit ke 25. Tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Telepon yang anda tuju, untuk sementara tidak dapat di hubungi. Cobalah beberapa saat lagi, atau tinggalkan pesan setelah nada berikut”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah jawaban yang aku dengar berkali-kali dari operator telepon. Ada apa dengan Mas Yusuf? Aku benar-benar gelisah. Tiba-tiba ada seorang akhwat yang sangat aku kenal sekali wajahnya, bahkan tak pernah bisa aku lupa, menghampiriku sambil tersenyum,,ALIFA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5014931918600705007?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5014931918600705007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5014931918600705007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2012/01/ketika-cinta-harus-bersabar-part-8.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar PART 8'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-981924040007957436</id><published>2011-12-31T19:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-31T19:54:33.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (part 7)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga hari kami berada di hotel. Tak banyak waktu yang kami gunakan untuk melakukan segala aktivitas yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang sedang berbulan madu pada umumnya. Jalan-jalan bersama, melihat pemandangan suasana malam di beranda kamar hotel, atau sekedar sarapan bersama sambil bercerita hal-hal yang indah yang Bisa membangkitkan keromantisan dalam berumah tangga. Semua itu hanya impian belaka bagi kehidupanku yang sekarang. Selepas shalat Subuh, Yusuf pergi keluar dan baru akan kembali setelah waktu dhuha sudah hampir hilang. Sedangkan aku, kuhabiskan waktuku sendirian di dalam kamar sambil membaca buku atau tilawah qur’an sambil sedikit menghafalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tadi pagi Yusuf tak pergi kemana-mana. Dia bilang tugasnya disekolah sudah menumpuk. Dia tak ingin tidak masuk mengajar lebih lama lagi karena kasihan muridmuridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya, Yusuf memang seorang guru fisika di Sekolah Menengah Pertama Labschool di kawasan Kebayoran. Dari sekolahnya sebenarnya mengizinkan dia untuk libur sampai lima hari, tapi dengan alasan banyak kerjaan yang tertunda kalau dia libur sampai lima hari, akhirnya dia memutuskan untuk pulang hari ini. Akupun menerima keputusannya dan berusaha menerima alasannya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua barang sudah dikemas dengan rapi. Tak banyak barang yang kami bawa sebab kami datang kesini langsung dari pesta walimatul ursy. Hari ini kami sepakat untuk pulang kerumah orang tua Yusuf yang terletak di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Setelah dirasa cukup, kamipun pulang meninggalkan hotel. Tak banyak yang kami perbincangkan selama dalam perjalanan pulang, bahkan seolah tak ada topik yang enak untuk dibahas bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suasana didalam taksi benar-benar hening, sunyi, dan senyap. Sesekali supir taksi yang kuketahui bernama Pah Burhan, berseloroh mengenai cerita-cerita lucu. Aku dan Yusuf hanya tersenyum kecil lalu kembali diam. Kadang-kadang Yusuf menimpali dan menyahuti celotehan Pak Burhan itu. Aku jadi tak berselera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sekitar kawasan Jalan MT. Haryono taksi yang kami tumpangi berhenti. Bukan karena mogok atau kehabisan bensin, tapi karena macet tengah menghadang kami. Cukup lama taksi terjebak oleh kemacetan itu. Ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, tiba-tiba saja Pak Burhan mengeluarkan pertanyaan yang membuatku dan Yusuf saling bertatap muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh iya, kalian ini suami istri kan?” Tanyanya sambil melihat kaca spion yang ada di atas kepalanya. Aku dan Yusuf mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa memang Pak?” Tanya Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ah tidak. Saya takut saja kalau kalian ini bukan suami istri tapi kok keluar dari hotel. Ternyata kalian memang benar-benar suami istri. Syukurlah” Ucap Pak Burhan sambil sesekali membasuh peluh yang mengalir di pelipisnya. Suaranya menunjukkan sekali keciri khasannya bahwa dia ini orang Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” Tanyaku tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Habis saya perhatikan dari tadi, kalian ini kok hanya diam-diaman saja tanpa berbicara sedikitpun. Kenapa rupanya kalau saya boleh tahu?” Tukas Pak Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku dan Yusuf terdiam. Aku mengalihkan pandanganku kearahnya dan diapun begitu. Lalu kami mengembalikan pandangan kami ke luar. Aku tak tahu jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan Pak Burhan yang sebenarnya bisa aku jawab dengan jawaban, ”Kami seperti ini karena suami saya tidak mencintai saya Pak”. Tapi aku hanya bergumam dalam hati. Pak Burhan kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Waduh!! kalian ini kenapa malah diam lagi? Kalau memang saya tidak boleh tahu, ya tidak apa-apa. Tapi kalau saya boleh saran, janganlah suami istri itu saling diam dan acuh tak acuh. Tidak baik itu. Kalian itu dipertemukan oleh Allah dan sepatutnyalah kalian bersyukur akan hal itu. Kalau memang kalin punya masalah, maka selesaikanlah secara baik-baik. Dibicarakan apa permasalahannya lalu carilah jalan keluarnya secara bersamasama. Dan semua itu butuh komunikasi yang kuat. Tidak diam-diaman seperti ini. Macam mana pula kalian ini. Saya ini hidup berkeluarga itu sudah hampir 36 tahun, tapi keadaan rumah tangga saya dan istri baik-baik saja, karena kami selalu membicarakan apapun yang menurut kami mengganjal dihati. Seperti itulah kalian berdua.” Jelas Pak Burhan panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku yang mendengarnya benar-benar tersentuh. Memang benar apa yang di katakan Pak Burhan. Segala sesuatunya itu memang harus dibicarakan agar tidak ada kesalah pahaman. Tapi apa yang mau dibicarakan kalau semuanya sudah jelas kalau keadaan seperti ini disebabkan oleh ketidak mampuan suamiku untuk mencintaiku. Aku perhatikan Yusuf hanya terdiam. Mungkin diapun tengah memikirkan perkataan Pak Burhan barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kalau saya boleh tahu lagi, sudah berapa lama kalian ini menikah?” Tanya Pak Burhan lagi mengejutkanku. Kuarahkan pandanganku padanya. Kali ini Yusuf menjawab, ”Baru tiga hari Pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wah! Wah! Wah! Baru tiga hari rupanya. Pengantin barulah kailan. Kuucapkan selamat ya? Berarti, ke hotel kemarin itu untuk bulan madu ya? Wah! Bergembiralah kalian. Berapa ronde sudah kalian mainkan?” Tanya Pak Burhan membuatku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Berapa ronde apanya Pak?” Yusuf balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ah! Masa kalian tidak mengerti. Itu, ronde kalian bermain cinta. Masa tidak mengerti. Kaulah anak muda. Pura-pura saja kau tidak mengerti. Tapi maklumlah aku, namanya juga pengantin baru. Jadi masih perlu banyak belajar” Tukas Pak Burhan santai. Aku dan Yusuf saling berpandangan sesaat lalu kembali terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Taksi sudah mulai berjalan. Kamipun terlepas dari jebakan macet. Yusuf lebih memilih diam tanpa mau menjawab pertanyaan Pak Burhan tadi. Aku sendiri memikirkan perkataan Pak Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Namanya juga pengantin baru, jadi masih perlu banyak belajar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya, aku dan Yusuf memang masih harus banyak belajar. Belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi kenyataan hidup, belajar untuk lebih bisa menerima keadaan kami satu sama lain, belajar untuk bisa lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, dan belajar untuk lebih bisa menghargai dalam mencintai. Belajar, belajar, dan belajar. Itulah yang sekarang sedang aku dan Yusuf usahakan dalam mengisi hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesampainya dirumah, aku dan Yusuf langsung disambut hangat oleh orang tua Yusuf yang kini telah menjadi mertuaku, dan juga orang tuaku yang kini telah menjadi mertua Yusuf. Mereka begitu bergembira melihat kedatangan kami. Aku peluki Mama dan Papa dengan penuh kerinduan. Entah mengapa, aku benar-benar merindukan mereka. Tak lupa aku memeluk Bu Rahayu yang tak lain adalah ibu mertuaku dan mencium tangan Pak Sardi yang tak lain adalah ayah mertuaku. Hari itu kami habiskan dengan memperbincangkan hal-hal kecil seputar pernikahan dan bulan madu kami selama tiga hari di hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah cukup lama di rumah mertuaku, Mama dan Papa memutuskan untuk pulang. Mulai hari ini, aku telah resmi menjadi bagian dari keluarga Pak Sardi dan Bu Rahayu. Sebelum mereka pulang, aku memeluk mereka dengan erat sambil menangis di pelukannya. Sungguh, aku tak bisa menahan tangis haruku ketika mereka memutuskan untuk melepasku dan menyerahkanku pada Yusuf dan keluarganya. Mereka hanya menenangkanku dengan ucapan-ucapan yang tidak bisa aku terima dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sudahlah Din. Kamu ini sudah berkeluarga. Ikutlah apa yang suamimu bilang. Jangan sampai mengecewakannya ya? Mama dan Papa akan sering-sering menghubungimu. Kami yakin kamu akan bahagia hidup bersama mereka. Ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah perkataan yang diucapkan Mama sebelum dia pulang bersama Papa. Aku memandangi mereka dari kejauhan. Semakin lama mereka hilang dari pandanganku. Jauh, jauh, dan akhirnya hanya tinggal bayangan mereka saja yang selalu aku ingat dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku, Yusuf, dan orang tuanya masuk kembali ke dalam rumah. Hari sudah semakin malam. Ayah mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Aku dan Bu Rahayu membereskan gelas-gelas dan piring kotor untuk dicuci di dapur. Yusuf masih tenang di depan televisi sambil menonton siaran berita malam. Tak pernah ada senyum yang mengembang di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku membantu ibu mertuaku mencuci piring. Kami banyak berbincang tentang pengalaman beliau selama berumah tangga dengan Pak Sardi. Dari perbincangan itu aku banyak menemukan pelajaran-pelajaran baru dalam berumah tangga. Bagaimana caranya membuat suami bahagia, apa yang harus dilakukan seorang istri jika suaminya marah, dan masih banyak lagi yang ibu mertuaku beri tahukan padaku soal kehidupan suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Termasuk hal-hal intim yang menurut sebagian orang tabu untuk dibicarakan. Aku melihat sosok Bu Rahayu begitu terbuka. Begitu ramah dan baik dalam bersikap. Kelembutannya sebagai seorang ibu tidak mengalahkan sikap ketegasannya dalam bertindak. Apa yang menurutnya benar, ya maka dibenarkannya. Tapi jika menurutnya salah, maka diapun tak segan-segan memberikan peringatan pada siapapun dengan tegas dan baik tapi tidak terkesan menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hal itu aku ketahui ketika dia bercerita tentang Yusuf yang ketika kecil sering membuat onar dengan teman bermainnya. Suatu ketika, orang tua temannya itu pernah mengadu pada Bu Rahayu kalau Yusuf telah memukul anaknya itu sampai berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai ibu yang adil dan bijaksana, Bu Rahayu memberikan hukuman yang setimpal pada Yusuf. Dia akhirnya jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Diam-diam aku salut pada ibu mertuaku. Dia sosok yang sekarang ini menjadi pengganti Mama di kehidupan baruku. Dia pula yang secara tidak langsung dapat menguatkanku dalam menghadapi masalahku dengan Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak terasa waktu sudah beranjak malam mendekati dini hari. Aku dan ibu mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Di ruang tamu tidak lagi aku dapati Yusuf disana. Mungkin sudah masuk kamar. Semua lampu sudah dimatikan. Sebelum masuk kekamarnya, Bu Rahayu memberikan senyumannya padaku. Aku membalasnya. Aku masih berdiri di depan kamar Yusuf yang kini juga menjadi kamarku. Kutarik nafasku dalam-dalam dan kupejamkan mataku. Perlahan kusentuh gagang pintu kamarku dan mulai kubuka. Tiba-tiba saja dari dalam, Yusuf membukanya dan mendapatiku tengah terkejut menatap wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa berdiri saja disitu? Ayo masuk!” Perintahnya padaku. Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Lampu yang ada disebelahnya sudah dimatikan. Cahaya yang ada tinggal dari lampu yang ada disebelah tempat aku tidur. Aku belum mau mematikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku membuka jilbabku dan aku duduk di depan cermin. Kusisiri rambutku perlahan sambil memandangi Yusuf dari balik cermin. Tubuhnya membelakangiku. Setelah selesai menyisir, aku melangkah ketempat tidur dan bersiap untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Posisiku sama seperti posisi dia membelakangiku. Kumatikan lampu yang ada disebelahku dan kupejamkan mataku. Suasana malam ini begitu dingin. Selimut yang menutupi tubuhku dan Yusuf seolah tak bisa memberikan rasa hangat yang lebih pada hatiku yang semakin membeku. Dalam pejam malamku, aku berdo’a, ”Ya Allah, kuatkanlah aku untuk bisa menghadapi semua kenyataan ini. Amin”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-981924040007957436?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/981924040007957436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/981924040007957436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketika-cinta-harus-bersabar-part-7.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (part 7)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-7384166351963569722</id><published>2011-12-30T06:49:00.001-08:00</published><updated>2011-12-30T06:49:47.921-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (part 6)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selesai akad dan walimatul ursy, Yusuf membawaku ke Hotel Maharani yang terletak di kawasan Mampang Prapatan. Masih dengan busana pengantin lengkap, aku dan Yusuf memasuki kamar malam pertama kami. Kamar yang begitu indah, megah, mewah, dan harum. Tapi semua itu sia-sia saja kalau malam ini aku dan Yusuf hanya bisa menatapi keindahan kamar itu dengan perasaan hampa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak tahu kenapa Yusuf membawaku ke hotel ini. Sebelum masuk ke kamar, Mama, Papa, dan orang tua Yusuf ikut mengantarkan kami. Setelah dirasa cukup, merekapun pulang. Tinggal aku dan Yusuf yang kini ada di dalam kamar. Mau apa juga bingung. Aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan pakaian biasa yang sudah disiapkan dikamar. Entah siapa yang menyiapkan. Aku mandi, berganti pakaian, dan mengambil air wudhu. Tak lupa aku mengajak Yusuf untuk shalat sunnah dua rakaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diapun menuruti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak lama shalat sunnah, azan maghrib berkumandang. Segera saja Yusuf berpamitan padaku untuk melakukan shalat Maghrib dan Isya di masjid terdekat. Aku mengizinkannya. Tapi sebelum itu, aku memintanya untuk membacakan do’a yang pernah Rasulullah ajarkan. Diapun mau. Perlahan dia mencium keningku dan membacakan do’a yang pernah Rasulullah ajarkan, di atas ubun-ubunku. Sejurus kemudian aku dapati mataku basah dengan air mata. Aku ucapkan terima kasih padanya. Setelah itu dia melangkah keluar dan hilang dari pandanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku langsung menunaikan kewajiban shalat Maghribku di kamar sambil menunggu Yusuf pulang dari masjid. Aku masih merasakan kehampaan disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pukul delapan malam lebih lima belas menit Yusuf tiba kembali dikamar. Aku yang selepas shalat Isya lalu tilawah sebentar, segera bergegas untuk tidur. Tak ada pembicaraan yang berarti antara aku dan Yusuf. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan segelas susu putih untuknya. Dia menerimanya dengan ekspresi biasa-biasa saja lalu mengucapkan terima kasih padaku. Saat ini aku masih mengenakan jilbabku. Aku masih belum bisa tampil apa adanya di hadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali lagi ke tempat tidur dan memiringkan tubuhku disana. Aku membelakangi Yusuf yang tengah menikmati susu putih buatanku tadi. Kami masih terjaga oleh diam. Sesaat lamanya kami melewati waktu dengan kondisi seperti itu. Tiba-tiba Yusuf bersuara dan memulai pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maafkan aku ya Din?” Ucapnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku masih terkejut mendengar dia bersuara. Aku tak menjawabnya dan hanya diam sambil mendengarkan dia kembali bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku memang seorang lelaki pengecut yang tidak mempunyai nyali untuk menghadapi semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku harus membohongi kedua orang tuaku, membohongi kedua orang tuamu, menyakiti hatimu, dan terlebih lagi, aku harus menyakiti Allah karena telah melakukan hal ini. Aku sungguh-sungguh lelaki yang tak berguna. Bahkan ketika aku sudah menjadi seorang suami pun, seorang imam bagi dirimu, aku tidak bisa sedikit pun membahagiakanmu. Aku memang pengecut” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku dengar suara itu dengan perasaan gamang. Aku tak bisa berucap apa-apa. Perlahan aku rasakan kedua mataku basah. Segera aku membasuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Maaf, jika karena diriku, kamu harus merelakan kebahagiaanmu tergadaikan oleh sikapku ini. Mungkin kamu tidak akan menemukan kebahagiaan itu bersamaku. Tapi aku selalu berharap, kelak kaupun bisa menemukan kebahagiaanmu itu” Ucap Yusuf lagi pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bagaimana mungkin aku bisa bahagia, bila orang yang aku cintai tidak bahagia” Ucapku menyahuti perkataan Yusuf. Aku tak mendengar dia berucap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku memang memiliki dirimu, tapi aku tidak memiliki cintamu. Aku memang bukan siapa-siapa dihatimu, tapi aku berharap....kau tidak lagi memikirkan Alifa” Sambungku sekenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Alifa?!” Tanya Yusuf kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dari mana kau tahu tentang Alifa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku bangkit dari tidurku dan kuhadapkan wajahku padanya. Wajah yang penuh kecemburuan pada seorang wanita yang bernama Alifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau tidak perlu tahu darimana aku tahu tentang Alifa, yang terpenting, aku hanya minta satu darimu, tolong lupakan Alifa. Biar bagaimanapun, aku istrimu yang sah. Dan seperti seorang istri pada umumnya, aku tidak terima kalau kau masih saja terus memikirkan perempuan lain. Aku bukannya egois, tapi aku hanya ingin membantumu untuk tidak menyakiti Allah lebih banyak lagi. Aku yakin kaupun mengerti akan hal ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jelasku sambil menatap kedua matanya yang jeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembali aku rebahkan tubuhku di tempat tidur dengan membelakanginya. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhku dan kumatikan lampu yang ada diatas meja kecil disamping tempat tidur. Aku berusaha memejamkan mataku sebisanya. Dalam hati kecilku, aku masih berharap Yusuf mau menyentuhku dan menganggapku sebagai seorang istri. Biar bagaimanapun, akupun sama seperti seorang istri pada umumnya, menginginkan kebahagiaan atas dirinya di malam pertama pernikahannya. Melakukan ibadah bersama sebagaimana sepasang suami istri pada umumnya. Memadu kasih dengan kerelaan hati dan jiwa, diiringi dengan munajat sepasang pengantin yang tengah dimabuk cinta dan berharap pahala yang banyak dari Allah swt. Dapat melahirkan generasi pilihan yang dapat menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi semua harapanku seolah sirna ketika Yusuf lebih memilih untuk tidur membelakangiku dan mematikan lampu yang ada disebelahnya. Keadaan kamar saat itu gelap seketika. Aku tak bisa merasakan apapun kecuali sakit yang tiba-tiba saja menyusup dalam dada. Aku ingin menjerit, aku ingin berteriak, tapi aku kembali sadar, bahwa ini hanya sebuah ujian yang Allah berikan untukku. Dan aku yakin, akan ada berlimpahlimpah hikmah yang akan aku dapat jika aku bersabar karenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rabbi, kuatkanlah aku malam ini........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu seolah lamban sekali berputar. Malam ini, aku benar-benar tidak bisa tidur. Entah dengan Yusuf. Berkali-kali aku merasakan tempat tidur yang kami tiduri bergoyang karena Yusuf sering sekali membalik-balikkan tubuhnya. Sedangkan aku masih dengan posisiku yang semula. Aku merasakan pegal yang teramat sangat di bagian pinggangku karena semalaman aku tidur dengan posisi miring membelakanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuraih ponselku yang tergeletak diatas meja kecil dekat lampu. Kunyalakan. Ternyata baru pukul setengah tiga pagi. Sudah bosan rasanya aku dengan keadaan seperti ini. Ingin berbuat sesuatu, tapi apa? Tiba-tiba aku merasakan Yusuf bangkit dari tempat tidur. Entah&lt;br /&gt; dia berjalan kemana. Aku enggan menolehkan kepalaku untuk melihat sedang apa dia sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejurus kemudian aku mendengar dia bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Din, aku mau ke masjid. Mau shalat tahajud lalu menunggu hingga subuh datang” Ucapnya padaku. Aku dengar dia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Aku bingung harus berbuat apa. Seketika saja aku bangkit dari tidurku dan berlari mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berdiri di depan pintu untuk menghadangnya keluar. Segera saja aku kunci pintu. Kuncinya aku cabut dan kupegang dengan erat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau tidak boleh kemana-mana!” Ucapku tegas. Aku menatapnya dengan tajam. Kulihat pandangannya seolah bertanya-tanya akan sikapku. Sedangkan aku masih berdiri di depan pintu sambil mengatur nafasku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa aku tidak boleh? Aku hanya ingin pergi ke masjid untuk shalat tahajud dan menunggu hingga subuh datang. Aku hanya ingin shalat” Ucap Yusuf seolah mempertegas pernyataannya yang pertama tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau tidak boleh kemana-mana sebelum kau melakukan tugasmu sebagai seorang suami!” Kataku sambil diiringi dengan nafasku yang tersengal-sengal. Aku yakin tatapanku begitu meyakinkan untuknya. Dia tidak bersuara sedikitpun. Tapi raut wajahnya begitu memperlihatkan kebertanya-tanyaannya. Aku kembali berucap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Subuh masih dua jam lagi dan kau masih punya waktu untuk menunaikan tugasmu sebagai seorang suami yang bukan seorang pengecut!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Matanya tidak berkedip sedikitpun dan wajahnya terlihat hampa. Bibirnya bergerak sedikit tapi tidak mengucapkan apapun. Aku terus saja menatap wajahnya. Tiba-tiba mataku basah dan sejurus kemudian aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangis karena memikirkan tindakan dan perkataanku barusan padanya. Aku tersadar. Mana mungkin Yusuf mau memenuhi permintaanku sedangkan rasa cinta untukkupun dia tidak punya Yusuf memandangiku yang sedang menangis. Tak sedikitpun dia berpikir untuk menghampiriku untuk sekedar menghapus air mataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ditengah tangisku aku berucap, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Mungkin aku egois karena tidak memimikirkn perasaanmu, dan mungkin aku egois karena seakan-akan aku memaksakan cintamu padaku. Tapi aku ingin tanya, apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika pertama kali aku tahu kalau kau tidak mencintaiku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika surat darimu yang aku kira surat cinta, ternyata adalah surat yang isinya begitu menyakitkan untukku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika kau menyebutkan ada ’nama lain’ di hatimu dan itu bukan aku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika di malam-malam menjelang hari pernikahanku, bukan kebahagiaan yang aku rasakan melainkan kesedihan demi kesedihan yang terus menyayat hatiku? Apakah tak tergerak sedikit saja hatimu, ketika kau melihat air mataku jatuh di malam pertama pernikahanku? Apakah pernah kau memikirkannya??!” Tanyaku sambil terus menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tertunduk lemas didepan pintu kamar sambil sesenggukkan. Berkali-kali aku hapus air mataku tapi air mata itu keluar begitu saja seiring dengan hatiku yang semakin sakit akan sikap Yusuf yang biasa-biasa saja terhadapku. Sesaat lamanya aku menangis dan Yusuf juga hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berbuat apapun. Aku semakin gemas dibuatnya. Dia memang laki-laki yang pengecut. Untuk hal ini saja dia tidak bisa mengambil keputusan. &lt;br /&gt; Akhirnya aku putuskan untuk membiarkannya pergi. Aku buka pintu dan kupersilahkan dia untuk pergi. Kemana saja yang dia mau tanpa harus memikirkan diriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Pergilah!” Ucapku tanpa memandang wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Pergilah kemanapun kau suka. Pergilah ketempat yang bisa membuatmu tenang. Pergilah agar kau tidak selalu melihat diriku. Pergilah tanpa kau harus memikirkan diriku disini. Aku tidak akan memaksamu. Pergilah!!” Perintahku dengan suara agak serak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lagi-lagi kurasakan air mataku jatuh membasahi pipiku. Segera saja kuhapus. Sesaat kemudian aku mendengar dia melangkahkan kakinya mendekat kearahku. Tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat. Aku terkejut dibuatnya. Air mataku semakin deras membasahi pipi. Di dalam pelukannya aku berucap, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Pergilah! Aku sudah bilang aku tidak akan memaksamu. Pergilah! Jangan biarkan hatimu tersakiti oleh perbuatan yang sebenarnya tidak ingin kau lakukan. Pergilah! Pergilah!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ucapku sambil terus menangis. Yusuf semakin erat memelukku. Sejujurnya, aku merasakan kehangatan berada dalam pelukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba Yusuf menutup pintu kamar dan menguncinya. Tanpa berucap sepatah katapun dia mengajakku ke tempat tidur. Kududukkan tubuhku di pinggirannya dan diapun duduk di hadapanku. Tangannya menghapus air mataku. Dia menatapku dan berucap, ”Subuh masih dua jam lagi dan aku masih punya waktu untuk menunaikan tugasku sebagai seorang suami. Dan akan aku buktikan, bahwa aku bukan seorang pengecut”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengerti apa yang diucapkannya. Aku tak menyahuti perkataannya lagi. Perlahan dia melepas jilbab yang aku kenakan. Dia membuka ikatan rambutku dan perlahan tangannya menyentuh kancing-kancing bajuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia merebahkan tubuhku. Dan dalam kegelapan malam, aku dan Yusuf melakukan ibadah itu bersama. Melakukannya dengan penuh kekhusyukkan, ketenangan, meskipun aku tahu, tak ada cinta yang dia berikan untukku. Tapi sungguh, malam ini aku benarbenar menjadi&lt;br /&gt; seorang istri. Aku selalu berharap, Allah masih bersedia&lt;br /&gt; memberikan sedikit pahalaNya atas ibadahku dan Yusuf malam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Allah, berkahi malam ini untukku dan suamiku. AAMIIN&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-7384166351963569722?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/7384166351963569722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/7384166351963569722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketika-cinta-harus-bersabar-part-6.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (part 6)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1371920311294056155</id><published>2011-12-29T20:11:00.001-08:00</published><updated>2011-12-29T20:11:54.178-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (part 5)</title><content type='html'>Hari pernikahan itu tiba. Aku dan Yusuf didandani ala pengantin Jawa karena keluargaku dan keluarganya berasal dari Jawa. Lebih tepatnya lagi, aku dari Jawa Timur dan Yusuf dari Jawa Tengah. Aku mengenakan pakaian khas Jawa tapi tetap terbalut oleh jilbab syar’i. Para undangan banyak sekali yang hadir. Tak terkecuali orang-orang dari pihak penerbit yang selama ini berjasa dalam menerbitkan dua novelku. Diantara para undangan yang hadir, ada yang mengaku kalau mereka adalah penggemar setia novelku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak tahu dari mana mereka tahu acara pernikahanku ini. Tapi yang pasti aku sangat senang karena mereka sangat peduli padaku. Aku hanya bisa mendo’akan mereka supaya mereka bisa menemukan jodoh mereka dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku duduk bersanding dengan Yusuf. Kulihat wajah Yusuf tak seperti orang yang sudah menikah pada umumnya. Wajahnya terlihat murung dan tak bersemangat. Dan yang mengetahui penyebab kemurungannya itu hanya aku pastinya. Sesekali dia melebarkan senyumnya pada orang yang memberikannya selamat. Senyum keterpaksaan tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Disela-sela waktuku menerima ucapan selamat dari para tamu, aku melihat sosok seorang akhwat berjilbab lebar datang menghampiriku dan Yusuf bersama dengan dua orang temannya. Aku dan Yusuf berdiri. Setelah mendekat, akhwat itu dan dua orangtemannya mengatupkan tangannya pada Yusuf sambil memberikan ucapan selamatpadanya. Akhwat berjilbab lebar itu begitu cantik. Dia lalu menjabat tanganku dan memelukku dengan erat seraya berkata, ”Barakallah ya? Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah” Ucapnyapelan. Dua orang akhwat yang mengiringinya melakukan hal yang sama terhadapku. Aku hanya tersenyum pada mereka dan mengucapkan terima kasih. Aku tak tahu siapa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba Yusuf bersuara, ”Syukran ya Alifa sudah mau datang” Ucap Yusuf pada akhwat berjilbab lebar tadi yang kuketahui bernama Alifa. Alifa hanya mengangguk dan segera meminta diri. Dua akhwat yang mengiringinya pun mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini aku tahu siapa Alifa yang pernah disebut-sebut oleh temannya Yusuf waktu di book fair tempo hari. Kini aku tahu siapa Alifa yang disarankan oleh temannya Yusuf itu untuk segera dilamarnya. Dan kini aku tahu, siapa ’nama lain’ yang ada di hatinya Yusuf, yang mulai saat ini harus ia ganti dengan namaku. Nama itu adalah Alifa. Gadis itu adalah Alifa. Dan impiannya yang sebenarnya juga adalah Alifa. Bukan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku hampir saja meneteskan air mata kalau saja Mama tidak mengajakku untuk berphoto bersama. Dalam keramaian pesta pernikahanku, aku merasa sepi. Sepi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mulai hari ini, aku harus menjalani kehidupanku yang baru dengan seorang suami yang tidak pernah mencintaiku. Aku merasa sendiri saat ini. Hanya kesabaran yang dapat menguatkan aku. Sekali lagi, hanya kesabaran yang dapat menguatkan aku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1371920311294056155?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1371920311294056155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1371920311294056155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketika-cinta-harus-bersabar-part-5.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (part 5)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-7358443364787702823</id><published>2011-12-29T20:10:00.001-08:00</published><updated>2011-12-29T20:10:53.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (part 4)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Semuanya sudah ditentukan. Prosesi pernikahan jatuh pada tanggal 23 April 2009. Akad dan walimatul ursy-nya akan diadakan bersamaan di Masjid Raya At Taqwa Pasar Minggu. Baju pengantin yang nantinya akan aku dan Yusuf kenakan pun sudah ditentukan. Dan mahar, aku minta agar Yusuf cukup memberikan aku seperangkat alat shalat, satu buah Al-Qur’an, sebuah cincin emas, dan hafalan surat Al Ikhlas. Setelah semua selesai dan beres dengan rapi, Yusuf dan keluarganya pamit pulang. Aku pun ikut mengantarkan mereka sampai depan pintu. Aku masih belum menemukan senyum yang berarti dari Yusuf. Sampai pulang pun dia tak sedikitpun menatapku. Aku mulai berpikir yang macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka pulang, aku langsung membereskan cangkir-cangkir dan piring-piring yang kotor diatas meja. Tiba-tiba Mama memberikan sebuah amplop putih padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa ini Ma?” Tanyaku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Surat dari calon suamimu” Jawab Mama membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tertawa sendiri menerima surat itu. Mataku mulai berair. Segera saja kupeluk erat tubuh Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Makasih ya Ma? Akhirnya aku menemukan jodohku” Ucapku sedikit serak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya. Mama doakan supaya kamu selalu bahagia” Sahut Mama sambil membelai kepalaku yang masih tertutup jilbab. Aku beranjak kekamarku untuk menaruh surat dari Yusuf di atas meja belajar. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat membukanya. Tapi aku harus mencuci dulu semua piring-piring kotor didapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, aku langsung bergegas melangkah kekamar. Amplop putih itu kini seperti harta yang paling berharga untukku. Tak rela rasanya bila harus kehilangan katakata dalam surat yang ditulis Yusuf untukku. Sekarang aku yakin, Yusuf bersikap seperti itu tadi karena dia merasa gugup. Buktinya sekarang aku menerima surat darinya. Lebih tepatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi, surat cinta dari kekasihku. Oh...aku jadi romantis begini. Sejak bertatap muka dengannya, hatiku ini memang sepenuhnya dipenuhi rasa cinta padanya. Kubuka perlahan surat itu. Isinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada yang terhormat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinda Altharina Puteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja menulis surat ini dengan tulisan tanganku sendiri. Berharap kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan ketika orang tuaku memaksaku untuk menikah denganmu. Asal kau tahu saja, pinangan atas dirimu sebenarnya bukan aku yang menginginkan, melainkan orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang, sejak pertama kali melihatmu, hati mereka langsung tergerak untuk menjadikanmu sebagai menantu. Lagi pula orang tuaku dan orang tuamu berteman sejak lama. Tapi maaf, itu semua diluar kemauanku. Dan maaf sekali lagi, aku tidak pernah berniat menikahimu. Semua ini adalah rencana orang tuaku dan orang tuamu untuk menjodohkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu hal ini adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Aku juga tahu bahwa jika semua ini benar-benar terjadi, maka akan banyak orang yang aku bohongi. Terlebih lagi, aku akan menjadi seorang pecundang dan pengecut karena telah menyakiti perasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih banyak lagi sebab melihat kondisi ibuku yang sudah sangat lemah, aku takut bila aku menolak permintaanya, sakitnya akan semakin parah. Asal kau tahu saja, dua hari yang lalu ibuku masuk rumah sakit karena aku menolak permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku mohon, bantulah aku memainkan sandiwara ini didepan orang tua kita masing-masing. Aku tahu segala sesuatunya itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Azza wa Jalla, tapi aku tak bisa berbuat banyak lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa, belajarku selama beberapa tahun tentang Islam sia-sia saja karena akhirnya aku harus membohongi banyak orang atas kepura-puraanku mencintaimu. Maaf sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan bukanlah suatu hal yang main-main untuk dijalankan. Terlebih lagi bila tidak dilandasi dengan rasa cinta. Sesungguhnya, ada ’nama’ lain yang mengisi relung hatiku. Dan sepertinya, mulai saat ini aku harus menghapus ’nama’ itu dan berusaha menggantinya dengan ’namamu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang tak ada cara lain lagi untuk kita mencegah kebohongan ini, maka sebagai langkah awalku dalam menjalankan kehidupan baruku nanti, aku ceritakan semuanya ini padamu. Jujur. Tidak ada yang ditambahkan atau dikurangkan. Aku tidak mau mengawali semua ini dengan kebohonganku pada dirimu. Maafkanlah aku yang tak mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ketika membaca surat ini, matamu sudah dipenuhi dengan air mata. Aku akan berusaha mengganti air matamu itu dengan usahaku untuk dapat mencintaimu. Maaf, beribu-ribu maaf aku minta kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolonglah malam ini kau shalat tahajud dan minta kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk kita. Aku tak sanggup, bila selamanya harus menyakitimu. dengan kepalsuan cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Aku yakin kau mengerti seperti apa posisiku. Sekian dulu surat dariku. Bila semua ini kurang berkenan dihatimu, mohon dibukakan pintu maafmu untukku. Afwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalamu'alaikum warahmatulloh wabarokatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Dari Seorang Pengecut&lt;br /&gt;Yusuf Abdul Fattah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remuk redam rasanya jiwa ini ketika aku membaca surat itu. Air mata sudah tak dapat lagi kubendung. Aku merasa hatiku hancur berkeping-keping. Aku merasa dunia ini menjadi gelap di penglihatanku. Orang yang aku cintai ternyata tidak pernah mengharapkanku. Dan sikapnya yang tadi kulihat janggal, ternyata benar adanya. Tiba-tiba aku merasa bahwa Yusuf adalah manusia terjahat yang pernah aku temukan selama hidupku. Tapi spekulasi itu tetap tidak bisa mengalahkan perasaanku yang sejak awal sudah dipenuhi rasa cinta padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku mengerti apa yang diminta oleh Bu Rahayu padanya. Dan sekarang aku lebih mengerti apa yang dibicaraknnya pada temannya di book fair tadi. Yang dimaksudkan menyebar undangan adalah undangan pernikahanku dengan Yusuf. Dan ’nama’ lain yang dimaksudkannya adalah nama ... Alifa. Nama seorang akhwat yang tadi disebut-sebut oleh temannya Yusuf. Oh Alifa, mengapa tiba-tiba aku jadi merasa cemburu padamu? Sebenarnya seperti apa sosok dirimu sehingga membuat Yusuf jatuh hati padamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan air mata kembali menetes membasahi kedua pipiku. Sebuah berita menggembirakan yang baru saja aku dengar beberapa saat lalu, tiba-tiba saja berubah bagai kilat yang menyambar yang menghantam tubuhku dan membuatnya hancur berkepingkeping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja aku tahu hal ini dari awal, aku tidak akan pernah mau menerima lamarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku juga tidak mau melihat Bu Rahayu jadi jatuh sakit Oh Ya Rabbi, tolonglah hambaMu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari dudukku. Aku berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa kepingan hatiku yang tadi hancur berserakan. Kulirikkan mataku ke jam dinding. Sudah cukup malam dan aku teringat, aku belum shalat Isya. Sekuat tenaga aku berdiri dan melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mataku memerah tapi kutahan untuk menangis dihadapan Mama dan Papa. Mereka tidak boleh tahu akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini akan kuadukan semuanya pada Dzat Yang Maha Memberikan rasa, agar Yusuf dapat menemukan arti dari sebuah makna cinta sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hari Minggu. Pagi ini aku kelihatan lesu dan tidak berdaya. Seusai shalat subuh, tilawah qur’an beberapa halaman, dan wirid ma’tsurat aku langsung bergegas mandi dan membereskan rumah. Hari ini aku ingat ada jadwal liqa(8) pukul sepuluh nanti. Seusai membereskan rumah, aku langsung membuat sarapan seperti biasanya. Makan satu meja bersama Mama dan Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah menyantap nasi goreng yang kubuat, tiba-tiba Papa menegurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Din, kamu kenapa? Sepertinya lesu sekali pagi ini?” Tanya Papa mengejutkanku dari lamunan. Kupandangi wajah Papa dengan tatapan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya nih Din. Mama perhatikan dari tadi kok kamu diam saja. Seharusnya kamu senang dong, kan semalam baru dilamar oleh Yusuf. Dapat surat lagi darinya” Imbuh Mama melanjutkan. Tiba-tiba aku teringat akan surat dari Yusuf yang isinya sangat menghancurkan hatiku. Aku termenung sendiri sambil menatap segelas susu putih kepunyaanku. Andaikan saja hatiku ini bisa seputih susu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Din! Ada apa sih kamu?” Tegur Mama padaku. Aku kembali tersadar dari lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ehm....Pa, Ma, ada yang mau aku bicarakan” Ucapku tanpa pikir panjang lagi. Hatiku semakin galau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau membicarakan apa?” Tanya Papa. Kutarik nafasku dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah semalaman aku berpikir ulang kembali, aku memutuskan untuk.... menolak lamaran Yusuf”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa?!” Teriak Papa dan Mama berbarengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya Pa, Ma, aku memutuskan untuk tidak menikah dengan Yusuf” Kataku lagi mempertegas perkataanku sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu sudah ngaco apa? Hari pernikahan dan segala persiapannya itu sudah ditentukan, Dinda. Lagi pula, kenapa tiba-tiba kamu menolaknya? Bukankah semalam kamu kelihatan bergembira sekali menerima lamaran Yusuf? Bahkan Yusuf sampai menuliskan surat cinta untukmu. Lalu apa yang menyebabkanmu sampai berubah pikiran?” Tanya Mama dengan penuh ketegasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja Mama dan Papa tahu apa isi surat itu, pasti kalianpun akan melakukan hal yang sama sepertiku. Bahkan aku yakin, Papa dan Mama tidak akan rela melepaskan aku pada seseorang yang tidak mencintaiku. Tapi aku tidak akan memberitahukan semua ini pada kalian. Cukup aku saja yang menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dinda?” Tegur Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya Ma? Ehm....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan Mama. Ya Allah, jawaban apa yang harus aku berikan pada Mama dan Papa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ehm...A, aku merasa kurang pantas saja Ma bersanding dengan Yusuf. Aku merasa, lebih baik dia bersanding dengan wanita lain saja dari pada dengan aku” Jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi Din, dia itu jelas-jelas sudah memilihmu untuk menjadi pendampingnya. Jadi untuk apa lagi kau menolaknya?” Tanya Papa penuh ketegasan. Aku diam seribu bahasa. Dalam hati aku menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang sebenarnya memilihku bukanlah Yusuf Pa, tapi orang tuanya. Orang tuanya yang menginginkan aku jadi menantunya, bukan Yusuf”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa menunduk dan pasrah dalam ketidak berdayaanku. Sejurus do’a kupanjatkan pada Yang Kuasa agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Mama kembali bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Din, usiamu sudah menginjak 27 tahun. Mau cari yang seperti apa lagi kalau yang seperti Yusuf saja kamu tolak?” Ucap Mama berusaha meyakinkanku. Aku rasa pertanyaan Mama tak perlu kujawab. Aku hanya menjawabnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku hanya ingin mencari suami yang sholeh dan dapat mencintaiku apa adanya, Ma” Ucapku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak pergi dari hadapan Mama dan Papa. Mereka hanya bisa memandangiku berjalan kekamar. Di kamar, kubuka buku harianku dan kutuliskan semua kegundahanku dalam buku itu dengan air mata berlinang. Tanpa kusadari air mataku itu jatuh membasahi tulisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sanggup lagi dengan keadaan ini. Tapi aku kembali ingat, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan suatu cobaan kepada hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Dan sampai sekarang aku selalu ingat salah satu ayat itu yang terdapat di Surat Al Baqarah. Kalau memang Allah sudah mempercayakan cobaan itu padaku, maka aku yakin akupun bisa mengatasinya. Allah tidak pernah salah dalam bertindak. Mana mungkin Allah salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah sebuah cobaan atas diriku untuk mencapai tingkat derajat taqwa yang lebih tinggi. Jika aku sabar menghadapinya, itu berarti aku lulus. Tapi kalau tidak, maka aku belum bisa mencapai derajat taqwa yang lebih tinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, setiap manusia itu mempunyai kadar kesanggupannya masing-masing. Dan yang tahu kadar itu hanyalah Allah swt. Bahkan manusia pun belum tentu mengetahui kadar itu, karena manusia hanya bisa mengeluh dan mengeluh tanpa mau berpikir kenapa Allah memberikan cobaan itu. Yang manusia bisa lakukan hanyalah meratapi nasib yang sudah ada tanpa mau berusaha untuk mengubahnya. Padahal kalau diingat-ingat lagi, Allah itu mengikuti prasangka hambaNya. Pertanyaannya bukan, Kenapa Allah memberikan cobaan ini? Tapi lebih tepatnya lagi, Apa hikmah dibalik cobaan yang Allah berikan? Dan tugas seorang manusia itu ialah mencari hikmah yang terkandung dari semua cobaan yang telah Allah berikan. Itulah sikap manusia sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku? Aku akan berusaha untuk menjadi manusia sejati itu. Aku tidak boleh kalah oleh keadaan. Biar bagaimana pun, hidup ini masih dan harus terus berjalan. Aku yakin, akan ada hikmah dibalik semua cobaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saat ini, bagiku, mencintai calon suamiku adalah cobaan untukku. Dan pastinya, akan ada suatu kebaikan yang terkandung jika aku bersabar dalam mencintainya. Dan janji Allah itu pasti, Innallaha Ma ’ashshobirin. Allah itu selalu bersama orang-orang yang sabar. Sabar dalam beribadah, sabar dalam melakukan perbuatan, sabar dalam mengarungi kehidupan, dan sabar bila kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Sabar, sabar, dan sabar. Itulah yang sekarang sedang berusaha aku lakukan. Aku akan selalu bersabar, menanti pintu hatinya terbuka untuk dapat menerima cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan kurang sepulih menit. Aku harus bersiap-siap pergi liqa ketempat Mbak Rianti, murabbiku. Hari ini aku ada jadwal kultum. Aku tak mau terus menerus memikirkan masalahku dengan Yusuf sementara masalahku yang lain masih menunggu uluran tangan untuk aku selesaikan. Aku jadi mempunyai tema kultum yang baru untuk aku sampaikan kepada teman-teman. Tema itu adalah tentang kesabaran. Apa itu sabar, kenapa kita harus sabar, dan apa gunanya kita bersabar, semuanya akan aku bahas di forum halaqah nanti. Sekalian aku akan meyampaikan kabar gembira sekaligus menyedihkan untukku. Gembira karena sebentar lagi aku akan menikah. Dan menyedihkan karena lakilaki yang menikahiku sesungguhnya tidak mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kabar menyedihkanitu takakan aku sampaikan nanti. Cukup hanya aku, Yusuf, dan Allah saja yang tahu. Rabbi, kuatkanlah diriku. Izinkanlah aku meraih derajat taqwaMu, Ya Allah......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-7358443364787702823?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/7358443364787702823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/7358443364787702823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketika-cinta-harus-bersabar-part-4.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (part 4)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1862721252292803268</id><published>2011-12-29T20:09:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T20:09:29.704-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (part 3)</title><content type='html'>Sampai dirumah tepat ketika azan Maghrib berkumandang. Mama menyuruhku untuk segera mandi dan langsung menunaikan shalat Maghrib. Kuturuti apa kata Mama. Papa yang hendak pergi ke masjid tak pernah sedikitpun berkomentar tentang kerepotan Mama menyuruhku ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selepas mandi dan shalat Maghrib, Mama lagi-lagi menyuruhku dengan suatu hal yang menurutku aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Din, coba kamu pakai ghamis kamu yang warna biru tua ini. Sepertinya bagus deh!” Pintanya sambil mengambil sebuah ghamis yang dimaksudkan dari dalam lemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Untuk apa sih Ma? Ini kan hanya acara silaturahim saja kan? Nggak usahlah pakai baju yang berlebihan. Kayak mau pergi saja” Tolakku tanpa mau mengindahkan permintaan Mama. Kuperhatikan ghamis biru tua itu yang menurutku lebih cocok dipakai keacara walimahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Eh, malam ini kamu harus tampil cantik. Pokoknya harus spesial. Awas kalau tidak. Mama akan marah sama kamu. Dipakai ya?” Pinta Mama sekali lagi. Aku hanya Bisa termenung sendirian dikamar sambil memikirkan perkataan Mama barusan. Apa sih yang sebenarnya diinginkan Mama dariku? Sehingga aku harus mengenakan ghamis itu. Kuturuti saja permintaan Mama. Aku masih tidak mengerti ada apa dibalik semua kedatangan keluarga Bu Rahayu malam ini. Pukul tujuh malam kurang lima belas menit keluarga Bu Rahayu datang. Aku heran, apa mereka sudah shalat Maghrib? Mama dan Papa menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Aku tidak ikut menyambut mereka karena aku sedang sibuk membuatkan minum dibelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hatiku tiba-tiba saja berdesir tatkala Mama menyebut nama Yusuf . Ya, dia datang malam ini. Jantungku yang seolah tenang, kini menjadi berdegup dengan kencangnya. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Dari ruang tamu, Mama memanggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dinda!! Kesini sebentar. Temui dulu ini keluarga Bu Rahayu!” Teriak Mama. ”Iya sebentar Ma!” Sahutku sembari mengelapkan tanganku pada sebuah kain. Aku bergegas melangkah menemui mereka diruang tamu. Sekali lagi kutarik nafasku dalamdalam lalu kuhembuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wajah yang pertama kali kulihat adalah wajah Bu Rahayu, kemudian laki-laki bertubuh besar dengan kumis diwajahnya. Mungkin dia suaminya. Aku tak berani mengalihkan pandanganku pada Yusuf. Kuraih tangan Bu Rahayu lalu kucium. Dan kukatupkan kedua tanganku pada suaminya dan....Yusuf pastinya. Bu Rahayu memuji penampilanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wah!! Malam ini Dinda cantik sekali. Cocoklah” Ucap Bu Rahayu padaku. Ucapan itu membuat sebuah tanda tanya besar dihatiku. Cocok?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ah, Bu Rahayu bisa saja. Terima kasih atas pujiannya” Sahutku sambil meminta diri. Aku ingat aku sedang membuatkan minum dibelakang. Mereka mengizinkan. Tiba-tiba saja kedua mataku beradu pandang dengan Yusuf. Uh!! Bergetar rasanya hati ini. Kutarik nafasku dan kuhembuskan ketika sudah sampai didalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di belakang, aku lanjutkan membuat minum. Kutata kue-kue di atas piring yang tadi siang Mama beli di pasar. Samar-samar kudengar perbincangan Mama, Papa, dan keluarga Bu Rahayu di depan. Biasalah, membincangkan masa lalu. Sambil membawa lima cangkir air teh hangat dan 2 toples kue-kue kering, aku melangkah keruang tamu. Wajahku masih menunduk. Tak berani aku mengangkat kepalaku. Bu Rahayu dan suaminya yang kuketahui bernama Pak Sardi mengucapkan terima kasih padaku, kecuali Yusuf. Dia hanya diam. Aku memberikan senyumku pada Bu Rahayu dan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berbalik kebelakang sebelum akhirnya aku mendengar Yusuf mengucapkan terima kasih padaku. Aku menoleh sesaat dan mengangguk padanya. Aku kembali kebelakang dengan perasaan yang tak menentu. Yang pasti, perasaan senang itu tiba-tiba saja merasukijiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali kebelakang dan kuambil dua piring berisi kue-kue yang tadi sudah kutata. Kusuguhkan pada mereka dan kembali kebelakang lagi. Awalnya Mama menyuruhku untuk tetap tinggal diruang tamu tapi aku menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kudengarkan dengan jelas perbincangan mereka dari ruang tengah. Sambil memainkan sebuah sendok, aku mendengar Pak Sardi bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya, tujuan kami datang kesini ini kan, selain untuk menyambung silaturrahim juga untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting, menyangkut anak-anak kita yang sudah besar-besar. Betul tidak Pak, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya ya, betul betul” Sahut Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saya yakin Bapak sama Ibu pasti sudah tahu apa tujuan kami datang kesini” Lanjut Pak Sardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saya hendak melamar putri kalian untuk anak kami, Yusuf. Bagaimana Pak, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Prang!!” Sendok yang tadi aku mainkan terjatuh. Ya, sendok itu terjatuh karena aku terkejut mendengar perkataan Pak Sardi barusan. Dadaku sesak. Mulutku serasa kelu dibuatnya. Keringat dingin tiba-tiba saja membasahi sekujur tubuhku. Perlahan aku mendengar jawaban Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya, kami sangat senang atas keinginan Bapak dan Ibu untuk menjadikan anak kami sebagai menantu. Merupakan suatu kebanggaan bagi kami bisa berbesan dengan Bapak dan Ibu. Dengan senang hati kami menerima pinangan itu. Semoga ini menjadi langkah awal untuk kebaikan kita bersama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Amin!” Jawab semuanya serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam hati aku bertanya-tanya. Kenapa Papa tidak menanyakan hal itu padaku dulu? Kenapa Papa menerima pinangan itu secara sepihak tanpa mau berkompromi dulu denganku? Tapi, biarpun Papa tidak menanyai hal itu kepadaku dulu juga, sebenarnya aku mau menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oh, senangnya hatiku!! Ternyata Yusuf menyukaiku. Jodoh memang benar-benar rahasia Allah. Aku tidak menyangka bahwa jodohku adalah seseorang yang baru saja kukenal. Tapi, bagaimana dengan sifat-sifat Yusuf? Aku kan belum begitu mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah! Setelah menikah nanti, kami akan sama-sama belajar sifat kami masing-masing. Oh Rabbi, senangnya hati ini. Tiba-tiba aku mendengar Mama memnggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dinda! Kesini sebentar Nak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aduh! Bagaimana ini? Aku panas dingin. Kakiku gemetar dan sulit untuk diajak berjalan. Tapi mau tidak mau aku harus memenuhi panggilan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya Ma, sebentar” Sahutku sambil menata diri agar tidak tampak gugup. Aku menunduk. Kuberanikan diriku menatap wajah Yusuf, yang kini telah menjadi calon suamiku. Dia masih menunduk. Aku beristighfar dan duduk disamping Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kamu sudah mendengar kan, Apa yang barusan kami perbincangakan?” Tanya Mama sambil mengusap-usap bahuku. Aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lalu bagaimana dengan kamunya? Menerima tidak?” Tanya Mama yang sebenarnya ingin langsung kujawab ”Mau..mau!!” Tapi aku malu. Aku lebih memilih untuk diam sejenak sambil menatap satu per satu wajah yang ada diruang tamu, terutama Yusuf. Lalu aku bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dengan segala kerendahan hati, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki, maka dengan menyebut nama Allah....” Kutarik nafasku perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku menerimanya” Lanjutku. Lega rasanya hati ini. Semua yang ada diruang tamu tertawa bahagia. Kecuali, Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menatapnya dengan penuh tanya. Ada apa dengannya? Dia hanya menunduk. Sesekali bibirnya tersenyum ketika matanya menatap wajah Mama atau Papa. Tapi sepertinya, senyumnya berbeda. Senyum yang aku tangkap darinya, seperti bukan senyum kebahagiaan. Tidak. Pasti saat ini dia sedang menutupi rasa gugupnya, sama seperti aku. Setiap orang kan pasti berbeda-beda dalam menyembunyikan rasa gugupnya. Aku tepis perasaan itu. Yusuf juga pasti mempunyai perasaan yang sama terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat ini aku hanya ingin melewati malam yang indah ini bersama keluarga besarku. Papa, Mama, Pak Sardi, dan Bu Rahayu mulai membicarakan semua proses pernikahan. Aku sangat bahagia malam ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1862721252292803268?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1862721252292803268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1862721252292803268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketika-cinta-harus-bersabar-part-3.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (part 3)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6173975071937016996</id><published>2011-12-29T19:54:00.001-08:00</published><updated>2011-12-29T19:54:36.579-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketik Cinta Harus Bersabar (part 2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari berganti hari, aku sudah tak lagi memikirkan sosok ”malaikat” itu. Dan aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kemarin sore aku mendapat sebuah undangan dari sahabatku, Arini, teman satu kantor. Hari ini dia akan menikah. Aku tertawa sendiri melihat namanya yang manis bertengger didalam undangan pernikahannya yang berwarna kuning keemasan, bersebelahan dengan nama seorang ikhwan yang sangat aku kenal, Fauzi. Yang jelas-jelas aku ingat dulu Arini sempat tidak suka pada ikhwan yang mempunyai potongan rambut belah tengah itu dan berkaca mata. Menurut Arini -sebelum akhirnya dia luluh juga pada Fauzi- Fauzi itu sosok seorang ikhwan yang paling aneh yang pernah ia kenal. Wajahnya yang biasa-biasa saja dengan aksesoris kaca matanya yang tak pernah ia tinggalkan, membuat Arini ilfill terhadapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apalagi gaya bicaranya yang menurut Arini seperti perempuan, semakin menguatkan argumennya bahwa Fauzi itu bukan ikhwan tulen. Aku hanya tersenyum mendengarnya tanpa bisa memberikan komentar apa-apa soal Fauzi karena ternyata, diam-diam Fauzi menyimpan perasaan pada Arini. Aku tahu hal itu dari Fauzi sendiri. Suatu ketika Fauzi pernah mengirimkan email padaku yang meminta tolong agar aku mau mengatakan pada Arini kalau dia suka padanya dan hendak melamarnya. Aku sempat terkejut membaca pesan itu. Jarak antara ruanganku dengan ruangan Fauzi tidak jauh. Kami memang satu kantor tapi kami tak pernah bertemu lama walaupun hanya sekedar berbincang-bincang. Setelah membaca ulang emailnya, aku segera menulis balasan email untuknya. &lt;br /&gt; Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarokatuh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Fauzi, apa yang bisa aku lakukan untuk embantumu? Kalau peranku hanya sekedar menyampaikan pesanmu pada Arini, mungkin aku bisa bantu. Tapi kalau untuk lebih jauhnya, afwan, lebih baik kamu hubungi saja murabbinya. Kalau kamu mau, aku bisa memberikan alamat dan nomor teleponnya padamu. Kebetulan aku mengenalnya. Bagaimana? Afwan ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Segera kukirim email itu padanya dan kuketik sms untuknya yang mengatakan bahwa aku sudah memberikan balasan emailnya. Aku melanjutkan tugasku kembali. Mengedit beberapa tulisan yang sudah masuk kedalam redaksi kami. Kantor tempat aku bekerja adalah perusahaan majalah Islam yang cukup terkenal di Jakarta. Tak berapa lama ponselku berdering. Kulihat. Satu pesan diterima. Dari Fauzi. Kubuka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Isinya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baiklah Mbak. Aku minta almt &amp;amp; nomor tlp murabbinya Arini. Smg ini bs membntuku. Krm via email ya Mbak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syukron &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak membalas smsnya. Segera kubuka buku agendaku dan kucari nama Mbak Nurma, murabbi Arini. Ketemu. Tanpa berlama-lama, aku langsung mengetik nama, alamat, dan nomor telepon Mbak Nurma dan segera kukirim via email, sesuai dengan permintaan Fauzi. Setelah aku megirimnya, aku kembali mengetik sms untuknya. Almtnya sdh aku krm. Smg itu bs mmbntu dlm ikhtiarmu mncri jodoh y? Smg sukses. Afwan. Aku kembali larut dalam kerjaanku yang sedari tadi tertunda oleh urusan Fauzi. Tak berapa lama kemudian, ponselku berbunyi lagi. Aku tak mengindahkannya. Aku yakin itu dari Fauzi yang ingin mengucapkan terima kasih padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kerjaanku sedang banyakbanyaknya dan sebentar lagi tulisan-tulisan ini harus segera diserahkan kepercetakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tersenyum sendiri melihat undangan manis yang kini masih tergeletak di atas meja riasku. Peranku dalam usaha Fauzi menemukan jodohnya hanya sampai disitu. Aku sungguh tak menyangka kalau Fauzi memang benar-benar menginginkan Arini menjadi istrinya. Satu hal yang aku ingat saat aku berbincang-bincang dengan Arini dulu. ”Rin, membenci seseorang itu boleh saja. Tapi harus sewajarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak boleh kita membenci orang lain tanpa alasan yang tidak jelas. Ingat lho Rin! Janganlah kamu membenci orang lain dengan sangat membencinya, karena bisa saja suatu hari kamu jadi menyukainya. Begitu juga sebaliknya. Jika kamu menyukai orang lain ya sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu hari kamu akan berbalik membencinya. Saat ini mungkin kamu tidak suka dengan penampilan dan gaya bicara Fauzi. Tapi bisa jadi suatu saat kamu malah justru berbalik menyukainya. Ingat! Hal itu ada haditsnya lho Rin” Sikap Arini saat itu hanya diam. Mungkin dia sedang memikirkan hal yang baru saja aku katakan. Dan sekarang, aku sungguh tak percaya. Hari ini dia akan menikah dengan seorang ikhwan yang dulu sempat ia benci zahirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hah...jodoh memang sulit ditebak. Yang setiap hari bertengkar, ternyata dikemudian hari malah menjadi jodoh. Sedangkan yang sudah lama menjalin hubungan, malah putus ditengah jalan. Yap! Aku jadi lebih yakin kalau jodoh itu memang rahasia Allah. Dan bisa saja jodoh yang tengah disiapkan Allah untukku adalah seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. &lt;br /&gt; Diluar, Mama mengetuk pintu kamarku dan minta izin untuk masuk. Akupun mengizinkan. Dia berdecak kagum ketika melihat aku berdandan sangat beda hari ini. &lt;br /&gt; ”Wah...wah!! Mau kemana sih kamu Din? Pagi-pagi begini sudah rapi sekali? Ada acara apa?” Tanya Mama sambil matanya terus memandangiku dari atas kebawah. &lt;br /&gt; ”Tuh, lihat saja Ma!” Jawabku sambil menunjuk sebuah undangan berwarna kuning &lt;br /&gt; keemasan diatas meja riasku. Tanganku sibuk mengaitkan peniti di jilbabku. Mama engambil undangan itu dan membacanya. &lt;br /&gt; ”Undangan pernikahan, Arini Musdalifah dengan Fauzi Nur Alamsyah” Ucap Mama mengeja huruf-huruf yang terangkai dengan indah di undangan tersebut. ”Oh...ini Arini yang pernah main kesini ya Din? Yang pernah konsultasi sama kamu masalah lamaran....siapa itu?” &lt;br /&gt; ”Fauzi Ma!” Sahutku. &lt;br /&gt; ”Iya Fauzi. Lha kok jadi nikah begini? Katanya nggak suka, kok jadi nikah?” Tanya Mama penasaran. &lt;br /&gt; ”Ma, jodoh itu rahasia Allah. Kita nggak tahu dengan siapa nantinya kita akan menikah. Kalau Arini tadinya nggak suka sama Fauzi, tapi kalau memang Allah sudah menggarisakan jodohnya mereka ya mau diapakan lagi?” Jawabku meyakinkan Mama. Mama hanya mengangguk-angguk pelan sambil terus membaca undangan Arini. Tibatiba ia menyampaikan sesuatu padaku yang membuat hatiku bertanya-tanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh iya Din, nanti malam keluarganya Bu Rahayu akan datang kesini” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Keluarganya Bu Rahayu?” Tanyaku dengan menatap wajah Mama dengan serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Iya. Bu Rahayu yang tempo hari pernah kita jenguk. Kamu ingat kan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengangguk pelan. Mana mungkin aku lupa. Dari kunjungan itu aku melihat sesosok manusia alim bernama Yusuf Abdul Fattah. Yang menjadi maksud pertanyaanku pada Mama barusan adalah untuk apa Bu Rahayu datang kemari dengan membawa serta keluaganya? Aku mencoba bertanya pada Mama. &lt;br /&gt; ”Untuk apa mereka kemari Ma?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ya sekedar silaturrahimlah. Kan sudah lama tidak bertemu. Sekalian ada yang mau kami bicarakan” Jawab Mama yang memberikan sebuah tanda tanya besar untukku. Membicarakan apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Siapa saja yang nanti datang bersama Bu Rahayu?” Tanyaku makin penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nggak banyak. Ya Bu Rahayu, suaminya, dan anaknya yang kemarin” Jawab Mama tenang, tapi tidak bagiku. Tiba-tiba saja hatiku berdebar hebat ketika Mama menyebutkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”anaknya yang kemarin”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Nanti jangan pulang malam-malam ya? Ikut temuin Bu Rahayu dengan keluarganya” Ucap Mama sambil beranjak pergi dari hadapanku. Aku masih terpaku dengan ucapan Mama. Dia ikut? Sosok ”malaikat” itu nanti malam akan datang? Oh Rabbi, kenapa aku ini? Kenapa aku jadi gelisah seperti ini? Aku segera membereskan barang-barangku dan langsung bergegas pergi menuju pesta walimatul ursy-nya Arini dan Fauzi. Tak lupa aku membawa sebuah bingkisan untuk mereka. Sejenak aku lupakan dulu rasa tidak tenangku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepulang dari walimatul ursy-nya Arini, aku langsung di ajak oleh Shanti, teman satu halaqahku ke Istora Senayan karena disana sedang ada acara pameran buku Islami atau Islamic Book Fair. Hari ini terakhir diadakan. Kupikir tidak ada salahnya menghabiskan waktu disana sambil membeli beberapa buku untuk referensi novel terbaruku. Selepas Ashar aku langsung menuju kesana. Suasana disana sangat penuh oleh ikhwan dan akhwat yang berjubel ingin masuk. Aku dan Shanti bahkan hampir terpisah karena sesaknya orang yang berebut masuk. Yang aku tahu dari pusat informasi disana, hari ini ada temu penulis novel bestseller ”Ayat Ayat Cinta”, Habiburrahman El Shirazy, jadi pantas saja kalau banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk melihat Kang Abik secara langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku yang mendengar hal itupun segera mencari tempat lokasi temu penulis ”Ayat Ayat Cinta”. Secara, aku juga sangat mengidolakan Kang Abik sebagai penulis inspirasiku dalam menulis novel. Beberapa buah buku referensi telah aku dapatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kebanyakan dari buku yang aku beli adalah novel dan beberapa buku penunjang untuk bahan penulisan novelku. Lain lagi dengan Shanti. Dia lebih tertarik dengan buku-buku yang membahas tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Secara, dia itu adalah seorang guru agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Islam Taman Qur’aniyah di daerah Poltangan, Jakarta Selatan. Di saat langkahku tengah mendekati ruang Anggrek, tempat dimana acara temu penulis ”Ayat Ayat Cinta” digelar, aku melihat sosok ”malaikat” yang pernah kulihat dirumah Bu Rahayu. Dialah Yusuf. Dia berdiri di stand Penerbit Cakrawala sambil membuka lembar demi lembar buku yang dipegangnya. Disebelahnya berdiri seorang ikhwan yang tengah mengajaknya berbicara. Entah ada angin apa, tiba-tiba saja Shanti menarik tanganku dan membawaku ke stand Penerbit Cakrawala. Dia bilang ingin membeli sebuah buku karangan Dr. ’Aidh bin Abdullah alqarni dengan judul Jangan Takut Hadapi Hidup. Aku terkejut dibuatnya. Yusuf belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sedangkan aku berdiri persis membelakanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia tidak tahu kalau aku ada dibelakangnya. Atau mungkin, kalaupun dia melihatku, bisa saja dia tidak mengenaliku atau lupa padaku. Shanti masih saja mencari buku yang dia maksudkan. Sedangkan aku pura-pura melihat-lihat buku yang sekarang ada dihadapanku. Samar-samar aku mendengarkan dia berbicara dengan temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Suf, ente bener hari ini nggak mau ikut ane kerumah Sandi? Ente nanti nyesel lho!” Ucap temannya Yusuf dengan semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Bener akhi, ana nggak bisa ikut nih. Hari ini ana mau pergi sama orang tua kerumah teman mereka” Jawab Yusuf dengan nada penuh penyesalan. &lt;br /&gt; ”Ente jadi ikut sama orang tua ente? Kirain cuma main-main. Jadi dong nyebar &lt;br /&gt; undangan?” Tanya temannya yang tiba-tiba saja membuat hatiku bertanya-tanya. Undangan?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ah, antum jangan begitu dong. Ana lagi pusing nih memikirkan permintaan orang tua” Sahut Yusuf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Lagi sih ente. Ane bilang buru-buru lamar si Alifa, eh ente bilang nanti-nanti dulu. Ya terima deh nasib dijo...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sstt!!” Tiba-tiba Yusuf memotong pembicaraan temannya itu. ”Udah yuk ah, ana mau langsung pulang nih. Nanti Ibu marah, terus jatuh sakit lagi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lanjutnya menutup perbincangan dia dan temannya. Aku semakin bertanya-tanya. Ada masalah apa sebenarnya dengan Yusuf? Apa yang diminta orang tuanya padanya? Shanti menyadarkanku dari pertanyaan yang belum sempat aku temukan jawabannya Dia sudah mendapatkan buku yang diinginkannya. Baru beberapa langkah aku menuju ruang Anggrek, tiba-tiba ponselku berdering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuangkat. Dari Mama. ”Ya Ma?” Sapaku langsung pada Mama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Din, kamu dimana sekarang? Cepat pulang. Sebentar lagi keluarganya Bu Rahayu &lt;br /&gt; akan segera datang” Ucap Mama dengan nada sedikit kesal. ”Iya Ma. Sebentar lagi Dinda akan pulang. Mama tunggu sajalah dirumah. Paling Bu Rahayu juga akan telat datangnya” Ucapku meyakinkan Mama. Sebab aku tahu, Yusuf saja masih ada di Senayan. &lt;br /&gt; ”Sok tahu kamu. Dari dulu itu Bu Rahayu orangnya selalu tepat waktu. Sudahlah jangan membantah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pokoknya sebelum Maghrib, kamu harus sudah sampai dirumah” Ucap Mama sambil menutup teleponnya. Sepertinya Mama agak marah padaku. Mau diapakan lagi. Dengan berat hati aku langkahkan kakiku menuju keluar Istora Senayan dan itu artinya aku tidak jadi melihat Kang Abik secara langsung. Tapi satu yang masih aku pikirkan. Apa kira-kira yang diminta oleh orang tuanya Yusuf pada Yusuf?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6173975071937016996?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6173975071937016996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6173975071937016996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketik-cinta-harus-bersabar-part-2.html' title='Ketik Cinta Harus Bersabar (part 2)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5646033360689923480</id><published>2011-12-29T19:43:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T19:43:23.948-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'>Ketika Cinta Harus Bersabar (part1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya Rabbi, entah siapa yang tadi aku lihat. Malaikatkah? atau mungkin seorang alim yang menjelma seperti Malaikat? Entahlah. Tapi yang pasti, hatiku langsung berdetak kencang tatkala kedua mataku menatap tak sengaja wajah putih bersih nan berwibawa itu yang sempat melintasi penglihatanku. Sampai sekarang, sosok ‘malaikat’ itu masih melekat dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sore tadi, Mama mengajakku kerumah salah seorang sahabatnya yang tengah sakit. Awalnya aku menolak karena memang editan tulisanku belum selesai aku revisi kembali. Besok lusa harus segera aku serahkan ke pihak penerbit untuk dipelajari dan untuk selanjutnya di terbitkan menjadi sebuah buku novel yang siap untuk dibaca. Aku seorang penulis novel yang memang belum terlalu termasyhur seperti Habiburrahman El Shirazy, Azimah Rahayu, Helvy Tiana Rossa, dan masih banyak namanama penulis lainnya yang menjadi penulis idolaku sekaligus menjadi inspirasiku dalam menulis. Dua novelku sudah beredar di pasaran. Yang pertama berjudul Kerlingan Hati dan yang kedua berjudul Episode Jingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alhamdulillah kedua novelku itu laris manis Di pasaran. Dan sekarang, aku sedang menggarap novelku yang ketiga yang judulnya masih Aku rahasiakan. Tapi lagi-lagi karena mamaku tersayang mengajakku pergi menjenguk temannya yang sedang sakit, jadilah aku merubah semua jadwalku duduk didepan komputer untuk merevisi ulang novelku, untuk ikut mama pergi menjenguk temannya. Mau bilang apa lagi? toh kalau mama sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; beralasan,”Dinda, nanti kalau sampai penyakit mama kumat di jalan, bagaimana?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hfh…tak tega rasanya kalau sampai penyakit asma mama kumat ditengah jalan. Semoga saja tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berangkat bersama mama tepat setelah shalat Ashar kami tunaikan. Aku tidak pernah tahu teman mama yang satu ini. Mama bilang dia itu bernama Ibu Rahayu. Teman mama semasa kuliah dulu. Aku hanya mendengarkan mama bercerita banyak tentang sahabatnya itu yang katanya lumayan cantik dan mempunyai seorang suami yang juga tampan dan seorang anak laki-laki yang menurut mama sangat cocok untuk dijadikan seorang menantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bu Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu” Hfh…aku hanya menghela nafas mendengar celotehan mama yang menurutku hanya sebuah pengharapan seorang ibu yang menginginkan anak perempuannya segera menikah. Menikah. Semua gadis yang sudah cukup umur juga pasti berharap ingin segera mempunyai pendamping hidup yang sesuai dengan kriterianya. Ya…minimal seseorang yang baik, sholeh, bertanggung jawab, dan dapat menerima keadaan diri apa adanya. Tapi kalau memang belum jodoh mau diapakan lagi? Aku hanya berharap seorang yang soleh yang bersedia menjadi suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tepat disebuah rumah bernuansa minimalis kami turun dari mobil yang aku kendarai sendiri. Diluar sudah ada seorang perempuan paruh baya yang membukakan pintu rumah untuk kami. Ibu itu lalu menyuruh kami masuk karena dia sudah tahu bahwa kami akan datang untuk menjenguk Ibu Rahayu. Sekantong buah-buahan aku serahkan padanya. Diapun segera mengantar kami memasuki kamar Bu Rahayu. Di dalam aku melihat seorang ibu yang sudah sedikit tua dengan wajah pucat pasinya berbaring diatas tempat tidur berselimutkan kain yang sangat tebal. Kepalanya ia tutup dengan sebuah kerudung pendek. Dialah Bu Rahayu. Senyumnya segera menyambut kami ketika ia lihat wajah kami nampak dari balik pintu. Mama dan Bu Rahayu segera berpelukan tatkala keduanya dipertemukan kembali setelah beberapa tahun tidak bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tangis kebahagiaanpun membuncah disana. Aku hanya bisa menatap mereka dengan penuh haru. Beberapa saat lamanya aku menjadi orang yang terasing didalam kamar itu. Tiba-tiba Bu Rahayu menegurku dengan sapaan yang lembut. Tegurannya itu membuat aku tersadar dari lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ini pasti Dinda ya?” Tanya Bu Rahayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”I..iya bu..” Jawabku tergagap. Aku segera meraih tangannya dan kucium. Akukembali tersenyum padanya. ”Sudah besar ya? Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Bu Rahayu lagi yang membuat aku ragu-ragu untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ehm...27 tahun bu” Sahutku tanpa semangat yang membara. Entah mengapa setiap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kali ada seseorang yang menanyakan berapa usiaku, aku selalu menjawabnya tanpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; mempunyai semangat. Mungkin karena sampai sekarang aku belum juga menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tahu darimana Lis kalau aku sakit?” Tanya Bu Rahayu pada Mama. Aku menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kursi yang disediakan oleh ibu tua tadi sambil mendengar jawaban Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Dari Rudi. Kebetulan kemarin aku bertemu dia di pasar. Dan dia bilang katanya kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; sakit. Memang kamu sakit apa sih Yu?” Mama balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tahulah Lis. Aku juga bingung sendiri dengan sakitku” Jawab Bu Rahayu dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; mata berkaca-kaca. Sesaat kutangkap sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diapun mulai bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Beberapa hari yang lalu ada yang menawarkan seorang muslimah padaku untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dijadikan istri oleh anakku....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh iya, mana anakmu itu? Kok tidak kelihatan? Siapa namanya?” Cerocos Mama memotong pembicaraan Bu Rahayu. Bu Rahayu menghela nafasnya dan menjawab dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; nada datar. Aku memperhatikannya dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Anakku itu bernama Yusuf Abdul Fattah. Masa kau lupa sih Lis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Oh iya! Maaf..maaf, namanya juga orang tua. Lanjutkan Yu!” Kata Mama seraya menyuruh Bu Rahayu untuk melanjutkan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku sempat melihat gadis itu. Wajahnya cantik, perilakunya baik, ahklaknya pun bagus. Dia berjilbab, sama seperti Dinda” Lanjut Bu Rahayu sambil melirik kearahku ketika dia menyebutkan namaku. Aku hanya tersenyum dan meneruskan mendengar cerita Bu Rahayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Setelah aku tawarkan pada si Yusuf, lha kok dia malah menolak. Katanya, kurang cocok dengan seleranya. Asal kamu tahu saja ya Lis, ini untuk yang kelima kalinya dia menolak untuk dinikahkan. Kamu tahu sendiri, usianya Yusuf itu tidak beda jauh dengan usianya Dinda. Apalagi coba yang mau dicari dengan umur segitu kalau bukan istri. Aku sampai stres memikirkannya dan akhirnya aku jatuh sakit. Nah itulah penyebab sakitku saat ini” Ucap Bu Rahayu menutup ceritanya. Sesekali kulihat dia membenarkan posisi duduknya yang bersandar pada sebuah bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sekarang dia kemana bu?” Tanyaku tiba-tiba saja. Aku juga kaget. Kenapa aku menanyakan hal itu? Aku sendiri tidak tahu alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sekarang dia sedang menebus obat ibu di apotik. Perginya sih dari tadi, mungkin sebentar lagi juga pulang” Jawab Bu Rahayu tenang. Suasana kembali lagi seperti semula. Mama dan Bu Rahayu kembali larut dalam perbincangan masa lalunya, sedangkan aku hanya dapat mendengarkan mereka berbincang tentang suatu hal yang baru bagiku. Beberapa saat lamanya waktu berjalan, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam dan membuka pintu secara perlahan. Aku, Mama, dan Bu Rahayu pun segera mengarahkan pandangan kami ke arah suara itu. Perlahan-lahan pintu itu terbuka dan...Subhanallah! Seorang laki-laki tampan dengan kemeja dan celana bahannya datang dengan membawa sekantong kecil obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berdiri dari dudukku tanpa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu. Sesaat lamanya aku menatap dia yang sedang mencium tangan Bu Rahayu kemudian mengatupkan kedua tangannya pada Mama. Aku seperti terbius oleh keindahan zahirnya. Aku tersadar tatkala dia mengucapkan salam padaku dan mengatupkan kedua tangannya juga padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Assalamu’alaikum” Ucapnya lembut sambil menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Wa..wa’alaikummussalam” Sahutku dengan sedikit tergagap. Aku segera menundukkan pandanganku dari wajahnya dan kutarik nafasku secara perlahan. Entah mengapa saat ini jantungku berdebar-debar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kudengar Bu Rahayu memperkenalkan laki-laki itu sebagai anaknya yang bernama Yusuf Abdul Fattah dan dia juga memperkenalkan Mama sebagai sahabat lamanya dan juga memperkenalkan aku pada Yusuf. Sesaat aku mencuri pandang padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Astaghfirullah! Ucapku dalam hati. Kembali kutarik nafasku dalam-dalam. Tak berapa lama, laki-laki yang kukenal bernama Yusuf itu meminta diri untuk keluar dari kamar. Aku tak berani lagi menatap wajahnya. Takut dosa. Aku hanya dapat mendengar suaranya yang dengan lembut mengucapkan salam. Aku menjawab salamnya dengan pelan. Tak berapa lama, Mama dan Bu Rahayu mengganti topik pembicaraan mereka dengan masalah Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berusaha mengendalikan perasaanku. Entah mengapa, seperti ada yang berbeda dalam hatiku setelah aku melihat Yusuf tadi. Aku jadi teringat perkataan Mama. ”Bu Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apa mungkin bisa ya? Pikirku sudah mulai ngaco kemana-mana. Sepanjang perjalanan pulang aku tak bisa memfokuskan fikiranku. Sesampainya dirumah aku sudah tak memikirkan editan tulisanku di komputer. Yang menjadi pikiranku sekarang adalah, apakah sosok ”malaikat” itu yang menjadi harapan Mama? Oh....Rabbi, selamatkan aku dari penyakit hati ini. Teriakku dalam hati. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Aku seger bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bersambung....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5646033360689923480?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5646033360689923480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5646033360689923480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ketika-cinta-harus-bersabar-part1.html' title='Ketika Cinta Harus Bersabar (part1)'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5227762581112418913</id><published>2011-12-29T07:11:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T07:11:16.291-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;blockquote align="center" class="tr_bq"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bila lelaki tahu....Apabila seorang perempuan jatuh cinta,lelaki itu tidak semestinya punya segalanya tetapi lelaki itu adalah segalanya di hatinya.bila lelaki tahu....Apabila seorang perempuan itu mengalirkan air mata,itu bukan bermakna dia lemah,tetapi dia sedang mencari kekuatan untuk terus tabah mencintai lelaki itu.bila lelaki tahu..Apabila seorang perempuan marah,memang dia tidak mampu mengawal perasaannya tapi percayalah,itu maknanya dia sangat mengambil berat dan menyayangi lelaki itu.lihat saja pasangan yang baru halal,mereka jarang berantem.Tetapi percayalah semakin bertambah sayang mereka pada seseorang,semakin pula banyak sesuatu yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5227762581112418913?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5227762581112418913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5227762581112418913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/bila-lelaki-tahu.html' title=''/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1506309945997322997</id><published>2011-12-29T04:42:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T04:42:07.983-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i love Allah'/><title type='text'>CARA MELEMBUTKAN HATI</title><content type='html'>Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku seakidah :&lt;br /&gt;Sesungguhnya kelembutan, kekhusyu’an serta keluluhan hati kepada Sang Pencipta dan Yang membentuk hati-hati tersebut merupakan suatu pemberian dari Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) dan sebuah karunia dari Ad-Dayyan (Yang membuat perhitungan) yang patut mendapatkan maaf dan ampunan-Nya. Menjadi tempat perlindungan yang kokoh dan benteng yang tidak dapat ditembus dari kesesatan dan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah hati yang lembut kepada Allah Azza wa Jalla melainkan pemiliknya (adalah) seorang yang bersegara mengejar segala bentuk kebajikan dan sigap terhadap segala bentuk keta’atan dan keridhaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kelembutan dan keluluhan hati kepada Allah Azza wa Jalla melainkan anda akan mendapati pemiliknya sebagai orang yang paling menaruh perhatian penuh terhadap segala bentuk ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Tiadalah ia diingatkan melainkan segera sadar, dan tiadalah ia diberitahukan melainkan segara mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah kelembutan itu masuk ke dalam hati melainkan anda akan mendapati pemiliknya (senantiasa) berada dalam keadaan tentram dengan berzikrullah (mengingat Allah), lidahnya (senantiasa) basah dengan (ucapan) syukur dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Tiada hati yang lembut karena Allah Azza wa Jalla melainkan anda akan menemukan pemiliknya sebagai orang yang sangat jauh perilakunya dari segala bentuk kedurhakaan kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;Maka hati yang lembut merupakan hati yang (senantiasa) merasa hina di hadapan keagungan dan keperkasaan Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada penyeru syaithan berusaha mencabutnya, melainkan (hatinya tetap) luluh merasa khawatir dan takut terhadap (keagungan) Ar-Rahman Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Dan tidaklah penyeru kesesatan dan hawa nafsu datang kepadanya, melainkan menggigil ketakutan (hati tersebut) dari ketakutan kepada Al-Malik (Maha Raja) Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Hati yang lembut, (mengindikasikan) pemiliknya adalah seorang yang jujur, diatas segala bentuk kredibilitas apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang lembut (itulah sejatinya) kelembutan, dan sebaik-baiknya kelembutan.&lt;br /&gt;Namun (pertanyaannya) siapakah yang mengkaruniakan kelembutan dan keluluhan hati?&lt;br /&gt;Siapakah yang memperkenankan (rasa) kekhusyuan dan kesadaran hati untuk kembali kepada Rabbnya?&lt;br /&gt;Siapakah yang sekiranya Ia berkehendak membalikkan hati ini, sehingga menjadi yang paling lembut untuk mengingat Allah Azza wa Jalla, dan paling khusyuk saat mentadabburi ayat-ayat dan keangungan-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Dia? Maha suci Ia yang tiada Ilah Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Dia (semata). Seluruh hati manusia diantara dua jari dari jari-jari-Nya, Dialah yang membolak-balikan hati sebagaimana yang Ia kehendaki. Maka (bisa jadi) anda akan mendapati seorang hamba yang sangat keras hatinya, namun Allah tidak menghendaki selain merahmati, menyayangi, mengkaruniai dan memuliakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga datanglah sekelumit momentum yang menakjubkan tersebut, menghujamkan iman mengoyak keterpurukan hatinya tersebut, setelah Allah berkenan memilih dan menetapkan pemilik hati tersebut sebagai orang yang layak mendapatkan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Allah, dari kelompok orang-orang sengsara kepada kelompok orang-orang bahagia. Dari kalangan orang-orang yang keras hatinya kepada kalangan orang-orang yang lembut hatinya, setelah sebelumnya kasar tutur kata dan perangkainya. Tidak mengenal kebajikan dan tidak mengingkari kemungkaran, melainkan menuruti hasrat hawa nafsunya. Saat ia bertawajjuh (menghadap) kepada Allah dengan hati, dan Ia mengubahnya.&lt;br /&gt;Kalaulah dengan kondisi hati tersebut, yang lancang atas batasan-batasan Allah Azza wa Jalla, sehingga seluruh anggota tubuhnya pun menurutinya dalam berbuat kelancangan tersebut. Jika dengan situasi yang demikian, dalam sekelumit saja dapat berubah keadaannya, dan menjadi baik akibat dan efeknya, sehingga ia menjadi sadar, mengetahui dimana ia harus melangkahkan kakinya dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kusayangi karena Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ia adalah suatu kenikmatan yang tidak akan anda jumpai di atas permukaan bumi ini kenikmatan yang lebih besar dan agung daripadanya, (yaitu) kenikmatan berupa kelembutan hati dan kesadaran untuk kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Allah Azza wa Jalla telah memberitakan, bahwa tidaklah hati yang terhalang dari kenikmatan ini melainkan pemiliknya akan diancam dengan adzab Allah, Dia Subhanahu berfirman :&lt;br /&gt;فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ﴿ سورة الزمر: 22 ﴾&lt;br /&gt;“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. (QS.39:22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecelekaan, siksaan dan bencana bagi hati-hati yang keras dari mengingat Allah. Dan kenikmatan, rahmat dan kebahagiaan serta kesuksesan bagi hati yang luluh dan takut kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu -saudara-saudaraku seaqidah-, tiadalah seorang mukmin yang jujur dalam keimanannya melainkan ia senantiasa berpikir untuk mencari jalan agar hatinya dapat menjadi lembut? (Berpikir) bagaimana supaya saya dapat memperoleh kenikmatan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya mesti harus menjadi kekasih Allah Azza wa Jalla, menjadi bagian dari para wali-wali-Nya. (Yang) tiada mengenal istirahat dan kesenangan melainkan mencintai dan menaati-Nya Subhanahu wa Ta’ala (saja). Karena ia menyadari bahwa tiada terhalang kenikmatan ini, melainkan (akan) terhalang (pula) dari segala kebaikan yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, berapa banyak orang-orang baik yang pada sebagian keadaan dan situasi yang menimpanya, mereka membutuhkan kepada orang yang dapat melembutkan hati-hati mereka. Maka perkara hati ini merupakan perkara yang menakjubkan, dan keadaannya asing (tidak dapat diterka).&lt;br /&gt;Terkadang hati merespon kebaikan, dan saat keadaannya demikian ia sangat lembut terhadap Allah Azza wa Jalla dan menyeru-nyeru kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya (dalam keadaan tersebut) ia diminta untuk menginfakkan seluruh hartanya karena cinta kepada Allah, niscaya akan diberikannya. Sekirannya diminta untuk menyerahkan jiwanya di jalan Allah, niscaya akan dikorbankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ia merupakan sekelumit (momentum) saja, dimana Allah memenuhi hati-hati tersebut dengan rahmat (kasih sayang)nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya terdapat (pula) sekelumit-sekelumit momentum (lainnya) yang dapat merubah keadaan orang beriman terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala, (yaitu) sekelumit-sekelumit momentum yang mengeraskan (hati manusia). Tidaklah seorang manusia sekiranya ia melewati situasi ini (sekalipun hanya) sebentar saja, niscaya hatinya akan mengeras dan merasa sakit di dalamnya, sampai-sampai begitu sangat kerasnya bagaikan batu. Al-‘Iyadzu billah (berlindung kepada Allah dari situasi semacam itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang melembutkan hati dan ada (pula) faktor-faktor yang dapat mengeraskan hati :&lt;br /&gt;Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mempersilahkan dan mengutamakan (pembahasan ini) dengan mengarahkan kepada penjelasan-penjelasan di dalam al-Qur`an. Tidak ada (upaya menghadirkan) kelembutan hati dengan cara yang lebih agung dibanding (dengan) sebab iman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorang hamba (pun) yang telah mengenal Rabbnya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya melainkan hatinya akan menjadi lembut terhadap Allah Azza wa Jalla, dan (dengan sendirinya) ia akan menegakkan batasan-batasan Allah. Tiadalah ayat al-Qur`an dan hadits Rasulullah datang kepadanya melainkan ia akan mengimplementasikan dengan bahasa perangai dan tutur:&lt;br /&gt;سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿285﴾ سورة البقرة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka berdo`a): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’." (QS.2:285).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tiadalah seorang hamba yang telah mengenal Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan telah mengenal Rabbnya -yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, sementara Dialah yang melindungi, namun tiada yang dapat dilindungi dari (siksa)-Nya-, melainkan anda akan mendapatinya berpacu kepada kebaikan, dan berpaling dari keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor terpenting yang menjadikan hati lembut terhadap Allah Azza wa Jalla dan luluh dari rasa ketakutan yang timbul karena mengenal Allah Tabaraka wa Ta’ala, dimana seorang hamba telah yang mengenal Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Pertama :&lt;br /&gt;Mengenal-Nya, bahwa tiadalah segala sesuatu di alam semesta ini melainkan hal itu mengingatkannya kepada Rabbnya. Pagi dan petang mengingatkannya akan Rabb yang Maha agung. Nikmat dan bencana mengingatkannya kepada yang Maha Penyantun dan Mulia. Kebaikan dan keburukan mengingatkannya terhadap Yang dapat (mendatangkan) kebaikan dan (menolak) keburukan, yaitu Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka barangsiapa yang mengenal Allah, hatinya menjadi lembut karena takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, tidaklah anda mendapati hati yang keras melainkan anda akan menjumpai pemiliknya sebagai seorang hamba yang paling bodoh (ajhal) mengenai Allah Azza wa Jalla, dan sangat jauh untuk mengenal Allah mengenai keperkasaan dan siksaan-Nya, dan ia merupakan sepandir-pandirnya manusia mengenai nikmat dan rahmat Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga sungguh anda akan menjumpai sebagian orang-orang durhaka sudah sangat berputus asa dari kasih sayang Allah, dan merasa sangat pupus harapan dari rahmat-Nya. Kita berlindung kepada Allah terhadap situasi kebodohan mengenai Allah (al-jahl billah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika ia jahil (bodoh) mengenai Allah, maka ia akan bersikap lancang terhadap batasan-batasan-Nya, lancang terhadap larangan-larangan-Nya, dan ia tidak mengenal melainkan pada malam dan siang harinya ia berbuat kefasikan dan kedurhakaan. Demikianlah yang diketahui dari kehidupannya, dan beginilah yang dapat diprediksi berkenaan dengan target keberadaan dan masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu –Saudaraku yang kucintai karena Allah-, mengenal Allah Azza wa Jalla merupakan suatu cara (efektif) untuk dapat melembutkan hati. Sebab itu setiap orang yang anda temui memberikan pelajaran, mengekalkan tafakkur akan kekuasaan Allah. Ketika anda mendapatkan di dalam hatinya ada kelembutan, di saat itu pula anda akan mendapati hatinya khusyu` dan luluh kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Kedua :&lt;br /&gt;Yang meluluhkan dan melembutkan hati, dan menolong seorang hamba atas kelembutan hatinya dari rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla adalah memperhatikan ayat-ayat al-Qur`an ini.&lt;br /&gt;Perhatian dalam hal ini merupakan jalan yang dapat mengantarkan kepada hidayah taufik dan kebenaran. Menaruh perhatian penuuh terhadap al-Qur`an telah dideskripsikan Allah dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ﴿1﴾ سورة هود&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. (QS.11:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah seorang hamba membaca ayat-ayat al-Qur`an ketika membacanya dengan kehadiran hati, sambil memikirkan dan merenungkan melainkan matanya (menjadi) menangis, hatinya (menjadi) khusyu`, jiwanya memancarkan iman dari kedalamnya, hendak berjalan menuju Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sekiranya permukaan hati itu berbalik setelah (berinteraksi dengan) ayat-ayat al-Qur`an, menjadi lahan subur bagi kebaikan, kecintaan dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;Tidaklah seorang hamba membaca al-Qur`an dan menyimak ayat-ayat Allah melainkan anda akan mendapati pasca pembacaan dan perenungan, sebuah kelembutan. Sungguh hati dan kulitnya akan bergetar karena takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Firman-Nya Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴿23﴾ سورة الزمر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS.39:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah al-Qur`an yang mengagumkan, sebagian sahabat dibacakan beberapa ayat-ayat al-Qur`an maka (langsung) berbalik dari paganisme kepada ketauhidan, dari menyekutukan Allah kepada menyembah Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala (hanya) dengan beberapa ayat-ayat sederhana.&lt;br /&gt;Al-Qur`an ini merupakan nasehat dari Rabb semesta alam, firman dari Tuhan umat-umat terdahulu maupun generasi-generasi selanjutnya, tiadalah seorang hamba membacanya melainkan dimudahkan baginya mendapatkan tuntunan (Ilahi) saat membacanya, karenanya Allah berfirman dalam Kitab-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿17 ﴾ سورة القمر&lt;br /&gt;017. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS.Al-Qamar (54):17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah di sana ada orang yang hendak mengambil pelajaran?&lt;br /&gt;Apakah di sana ada orang yang menginginkan (mendapatkan) pesan sempurna dan nasehat yang tinggi? ... Inilah al-Qur`an kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya – saudara yang kucintai karena Allah- tiada hati yang merasa ketagihan, dan tidak pula seorang hamba yang ketagihan untuk membaca al-Qur`an, menjadikan al-Qur`an selalu bersamanya, sekiranya dia belum hapal maka ia dapat membacanya sepanjang malam dan siang hari, melainkan lembutlah hatinya karena rasa takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Ketiga :&lt;br /&gt;Diantara faktor-faktor yang membantu melembutkan hati dan kesadaran untuk senantiasa kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, adalah seorang hamba sadar bahwa ia akan kembali kepada Allah, senantiasa sadar bahwa setiap permulaan (selalu ada) akhirnya. Bahwa tidaklah setelah kematian yang merupakan bagian perjalanan yang harus dilewati, dan tidak pula setelah (menjalani) kehidupan dunia, melainkan (kesudahannya) surga atau neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekiranya seorang manusia sadar bahwa kehidupan (dunia) akan berakhir, dan bahwa (dunia) merupakan kesenangan (sementara) yang akan binasa, bahwa ia sesuatu yang menipu dan penghalang, Dia menjadikan -demi Allah- itu semua sebagai kehinaan dunia dan merespon Pemilik dunia ini dengan begitu responsif, rasa kembali dan kejujuran, maka lembutlah hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang merenungi kubur, dan merenungi keadan-keadaan penduduknya, niscaya hatinya akan luluh, hatinya akan terbebas dari segala kebekuan dan hal-hal yang menipu. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari hal-hal demikian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya anda tidak akan mendapati seorang yang biasa berziarah kubur dengan bertafakkur, merenungi, dan mentadabburi, ketika ia mengingat orang-orang tua, saudara-saudari, sahabat-sahabat, orang-orang yang dicintainya. Ketika ia mengingat kedudukan-kedudukan mereka, dan sadar bahwa waktunya sudah sangat dekat keberadaannya di tengah-tengah mereka, bahwa sebentar lagi ia akan menjadi tetangga sebagian dengan sebagian lainnya. Telah terputus kunjungan diantara mereka dengan tetangganya. Dan bahwa mereka telah saling berdekatan kuburnya, dan diantara keduanya sebagaimana antara langit dan bumi, kenikmatan (surga) dan (siksa) neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah seorang hamba mengingat kedudukan-kedudukan yang dianjurkan oleh Nabi saw. untuk mengingatnya, melainkan melembutkan hatinya dari rasa takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang berdiri di atas liang kubur yang telah selesai digali, lalu ia memperkirakan dirinya, sekiranya ialah yang akan dimasukkan liang kubur tersebut. Dan tidaklah ia berdiri di hadapan liang kubur, melihat tubuhnya sedang diturunkan ke dalamnya, maka ia akan bertanya kepada dirinya sendiri :&lt;br /&gt;- Apa yang terjadi setelah ditutup (kuburnya)?&lt;br /&gt;- Siapakah (pribadi) yang ditutup kuburnya (ini)?&lt;br /&gt;- Atas dasar apa ditutup (kuburnya)?&lt;br /&gt;- Apakah (kuburnya) ditutup atas (dasar) ketaatan atau kemaksiatan(nya)?&lt;br /&gt;- Apakah (kuburnya) ditutup atas siksa (kubur) atau atas kenikmatan (kubur)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Dia, Yang Maha mengetahui keadaan-keadaan mereka yang sebenarnya, Dialah Yang Maha menetapkan hukum lagi Maha adil yang memisah-misahkan diantara mereka (sesuai dengan perbuatannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorang hamba melihat pemandangan-pemandangan ini, dan tidak pula terkumpul dalam dirinya renungan-renungan ini, melainkan berguncang hatinya karena rasa takut dan kengerian terhadap keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Berserah kepada Tabaraka wa Ta’ala dengan penyerahan yang sejujurnya dan kembali serta tekun (dalam ketaatan kepada-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Saudaraku) yang kucintai karena Allah :&lt;br /&gt;Separah-parahnya penyakit yang menimpa hati adalah penyakit kebekuan hati, dan kita berlindung atas keadaan yang demikian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan faktor terbesar yang menyebabkan kerasnya hati setelah kebodohan mengenai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah kecondongan kepada dunia dan bangga akan status keduniaannya, serta terlalu sibuk dengan ucapan-ucapan yang berlebihan. Sesungguhnya ini merupakan bagian dari faktor penyebab terbesar yang mengeraskan hati-hati, wal’iyadzu billah Tabaraka wa Ta’ala. Karena jika seorang hamba telah disibukkan dengan perkara mengambil dan menjual, dan disibukkan pula dengan berbagai fitnah dan tribulasi yang membinasakan, hal ini hanya mempercepat proses pengerasan hatinya (saja). Karena semua perkara tersebut, jauh dari (hal-hal yang dapat) mengingatkan dirinya terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sudah seyogyanya bagi setiap orang yang hendak menerjuni (urusan-urusan) dunia ini, untuk menerjuninya dengan penuh kehalusan. Agama kita bukanlah agama para rahib (pendeta), dan tidak (boleh) mengharamkan yang telah dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak membatasi kita dengan perkara-perkara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dijalani dengan penuh seksama, maka ketentuan-ketentuan takdir telah ditetapkan oleh pena-Nya, dan ketentuan-ketentuan rezeki (juga) telah ditetapkan. Manusia mengambilnya dengan sebab-sebab usahanya, tanpa adanya benturan dengan qadha` dan qadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengambil bagiannya dengan sikap yang lembut dan penuh keridhaan dari Allah tabaraka wa Ta’ala sesuai yang dimudahkan baginya, lalu mengucapkan pujian (hamdalah) dan bersyukur kepada Sang Penciptanya, sehingga mempercepat turunnya keberkahan padanya, dan mampu mencegah terjadinya bencana kebekuan (hati), kami memohon kepada Allah keselamatan dari perkara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya kekerasan hati adalah kecenderungan terhadap dunia. Anda akan mendapati para pemilik hati yang keras kebanyakan mereka memiliki kesibukkan dengan perkara-perkara dunia, mereka mengorbankan segala sesuatu, mengorbankan waktu-waktu mereka, mengorbankan shalat-shalat mereka, mereka rela terjerambat ke dalam perbuatan-perbuatan senonoh dan membinasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dunia ini (malah) yang menarik mereka, tidak mungkin seorang dari mereka berkorban (hanya) dengan satu dinar atau dirham saja (untuk mencapai kepentingan-kepentingan duniawi mereka), karenanya dunia ini telah merasuk ke dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dunia itu bercabang-cabang, dunia bercabang-cabang, sekiranya seorang hamba mengetahui hakikat percabangan ini, niscaya pagi-petang lisannya akan terengah-engah kepada Rabbnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Rabbku, selamatkan aku dari fitnah dunia ini, sesungguhnya di dalam perkara dunia ini (memiliki) berbagai cabang-cabang, dimana tidaklah hati cenderung kepada salah satunya melainkan ia akan bernafsu kepada cabang berikutnya, kemudian yang berikutnya (lagi), hingga ia jauh dari (mengingat) Allah Azza wa Jalla. Kedudukannya menjadi merosot di sisi Allah, dan Allah tidak peduli akan kebinasaan dirinya (yang sedang terperangkap) di dalam satu lembah dari lembah-lembah dunia yang ada. Wal ‘iyadzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba yang lupa akan Rabbnya ini, merespon dunia ini dengan penuh hormat, maka ia mengagungkan dengan sikap yang tidak semestinya untuk diagungkan, mengacuhkan siapa yang seharusnya dibesarkan, diagungkan dan dimuliakan (yaitu) Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itu ia layak mendapatkan akibat yang terburuk sekalipun. Wal ‘iyadzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara faktor penyebab kerasnya hati:&lt;br /&gt;Bahkan termasuk faktor yang paling menyebabkan kerasnya hati, duduk bersama dengan orang-orang durhaka, dan bergaul dengan orang yang tidak memiliki kebaikan dalam interaksinya. Dengan demikian, tidaklah seorang manusia menjalin pertemanan yang tidak membawa kebaikan dalam pertemanannya itu melainkan hatinya menjadi keras dari mengingat Allah Tabaraka wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidaklah ia mencari orang-orang yang baik, melainkan mereka (membantu) melembutkan hatinya kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan tidaklah ia tamak terhadap majelis-mejelis mereka, melainkan kelembutan akan datang kepadanya, ia mau ataupun tidak. Datang kepadanya untuk meneguhkan kelemahan hatinya, selanjutnya mengeluarkannya sebagai seorang hamba shalih yang sukses, yang merasa akherat berada dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya sudah seyogyanya bagi setiap orang, sekiranya harus berinteraksi dengan orang-orang jahat (juga), agar bergaul dengan penuh kewaspadaan, dan jadikanlah interaksinya itu sebatas yang diperlukan, sehingga terselamatkan agamanya, dan pokok kekayaan dunia ini adalah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami memohon dengan nama-nama-Mu yang baik, dan sifat-sifatmu yang tinggi, agar berkenan mengkaruniakan hati-hati yang lembut kepada kami agar (senantiasa) mengingat dan bersyukur kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati-hati yang tenang untuk mengingat-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu lisan-lisan yang senantiasa basah menyebut-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, amal shaleh yang diterima di sisi-Mu, wahai Yang Maha Mulia.&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.&lt;br /&gt;Subhana Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘Amma Yashifun, wa salamun ‘ala mursalin walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kucintai – semoga Allah berkenan menjagamu.&lt;br /&gt;Kami tidak bermaksud dalam penyebarluasan materi ini hanya sekedar untuk dibaca atau disimpan di komputer saja, bahkan kami berharap adanya respon yang lebih jauh lagi dari anda, diantara :&lt;br /&gt;- Menyebarluaskan materi ini di situs-situs internet lainnya.&lt;br /&gt;- Mengeditnya, untuk kemudian mencetak dan mengemasnya dengan cara yang menarik, bagai hadiah yang akan diberikan kepada orang-orang yang dicintai dan sahabat-sahabat lainnya.&lt;br /&gt;- Syaikh penulis karya ini telah mengizinkan bagi yang berniat mencetaknya, seperti buku saku sebagai amal jariah bagi anda hingga hari Kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kucintai, (semoga) kami diikut sertakan dalam doa-doa anda, dikesendirian anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai usulan-usulan anda, pengarahan-pengarahan anda untuk saudara anda, mungkin anda dapat berpartisipasi dalam usaha amal besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah amalan ini sebagai amalan yang ikhlash demi wajah-Mu yang Mulia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1506309945997322997?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1506309945997322997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1506309945997322997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/cara-melembutkan-hati.html' title='CARA MELEMBUTKAN HATI'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-8884989676706524481</id><published>2011-12-29T03:05:00.001-08:00</published><updated>2011-12-29T03:05:32.748-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lirik lagu'/><title type='text'>Maher Zain Lyric-Always Be There</title><content type='html'>By: Maher Zain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alllahu Akbar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you ask me about love&lt;br /&gt; And what i know about it&lt;br /&gt; My answer would be&lt;br /&gt; It’s everything about Allah&lt;br /&gt; The pure love, to our souls&lt;br /&gt; The creator of you and me,the heaven and whole universe&lt;br /&gt; The one that made us whole and free&lt;br /&gt; The guardian of HIS true believers&lt;br /&gt; So when the time is hard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There’s no way to turn&lt;br /&gt; As HE promise HE will always be there&lt;br /&gt; To bless us with HIS love and HIS mercy&lt;br /&gt; Coz, as HE promise HE will always be there&lt;br /&gt; HE’s always watching us, guiding us&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So when the time is hard&lt;br /&gt; There’s no way to turn&lt;br /&gt; As HE promise HE will always be there&lt;br /&gt; To bless us with HIS love and HIS mercy&lt;br /&gt; Coz, as HE promise HE will always be there&lt;br /&gt; HE’s always watching us, guiding us&lt;br /&gt; And HE knows what’s in all in our heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So when you lose your way&lt;br /&gt; To Allah you should turn&lt;br /&gt; As HE promise HE will always be there…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HE bring ourselves from the darkness into the light&lt;br /&gt; Subhanallah praise belongs to YOU for everything&lt;br /&gt; Shouldn’t never feel afraid of anything&lt;br /&gt; As long as we follow HIS guidance all the way&lt;br /&gt; Through the short time we have in this life&lt;br /&gt; Soon it all’ll be over&lt;br /&gt; And we’ll be in His heaven and we’ll all be fine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So when the time gets hard&lt;br /&gt; There’s no way to turn&lt;br /&gt; As HE promise He will always be there&lt;br /&gt; To bless us with HIS love and HIS mercy&lt;br /&gt; Coz, as HE promise HE will always be there&lt;br /&gt; HE’s always watching us, guiding us&lt;br /&gt; And HE knows what’s in all in our heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So when you lose your way&lt;br /&gt; To Allah you should turn&lt;br /&gt; As HE promise HE will always be there…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So when the time gets hard&lt;br /&gt; There’s no way to turn&lt;br /&gt; As HE promise He will always be there&lt;br /&gt; To bless us with HIS love and HIS mercy&lt;br /&gt; Coz, as HE promise HE will always be there&lt;br /&gt; HE’s always watching us, guiding us&lt;br /&gt; And he knows what’s in all in our heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So when you lose your way&lt;br /&gt; To Allah you should turn&lt;br /&gt; As HE promise HE will always be there…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-8884989676706524481?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8884989676706524481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/8884989676706524481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/maher-zain-lyric-always-be-there.html' title='Maher Zain Lyric-Always Be There'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1256185857783015032</id><published>2011-12-29T02:41:00.001-08:00</published><updated>2011-12-29T02:41:38.664-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Ijinkan Hamba Menggelar Sajadah Bersamanya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Untukmu Calon Imamku yang akan Bertahta diHatiku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tahukah engkau,sebenarnya hatiku menolak ketika fitrah cinta datang menyapaku karena ku tahu bahwa dia bukanlah engkau,Maka dengan semampuku,ku berusaha menjaga hati ini,agar ia tetap tak tersentuh oleh selain hati yang bukan dirimu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena bagiku,Untuk apa ku buka hati ini agar terisi dengan seseorang,bila suatu saat dia belum tentu menjadi pasanganku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk apa ku membuang waktu memikirkan seseorang,bila suatu saat dia belum tentu menjadi mahramku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk apa ku membiarkan pandanganku kepada seseorang,bila suatu saat dia belum tentu menjadi kekasih halalku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk apa ku membebaskan diriku untuk menyentuh seseorang,bila suatu saat nanti dia bukan dirimu yg kelak menjadi Imamku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku yang mencintaimu ini,tak kan mampu memberikanmu hati yang bekas,sedangkan Allah telah menyiapkan untukku pasangan terbaik yaitu engkau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun,aku belum pernah tahu siapa engkau karena hanya pernikahan yang akan menyibakkan tabir..siapakah engkau yang akan di karuniakan untukku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tetapi hatiku ini telah belajar mencintaimu sejak dulu lantaran ku tahu bahwa setiap manusia telah ditentukan pasangannya ketika masih di dalam rahim ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun naluriku mengingatimu,Ketika fitrah cinta itu harus datang menggebu di masa penantianku...Oleh karenanya Bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik dalam penantianmu,dan jagalah pandanganmu,bila engkau tidak mampu menahan rasa cemburu ketika pandanganku tidak terpelihara kepada yg bukan mahramku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jagalah pula dirimu,bila kamu tidak mampu menahan rasa cemburu ketika diriku menyentuh yang bukan mahramku..Pintaku,,peliharalah​ semua yang mampu engkau hadiahkan buatku karena itulah hadiah paling terindah bagiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun sekarang engkau bukanlah siapapun bagiku,hingga waktu di mana Allah meredhai dan kita halal bertemu ,Untukmu Calon Imamku yang akan bertakhta dihatiku ,sampai saat ini aku tidak tahu siapa engkau,kecuali ijab qabul telah terucap untuk menghalalkan kita bersatu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1256185857783015032?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1256185857783015032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1256185857783015032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/ijinkan-hamba-menggelar-sajadah.html' title='Ijinkan Hamba Menggelar Sajadah Bersamanya'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-3682885580413398774</id><published>2011-12-27T04:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T04:41:31.239-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imaksi UPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='happy memory'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HAPPY BIRTHDAY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='best memory'/><title type='text'>GREAT 22 DECEMBER 2011</title><content type='html'>Dua tahun berturut-turut dikerjain sama anak-anak IMAKSI di hari ulang tahun, kenapaa bisa gak sadar yaa??&lt;br /&gt;dan tahun ini, empat angkatan sekaligus ngerjain gue. Curaaaangg!! mainnya keroyokan!!!&lt;br /&gt;ceritanya lagi evaluasi wisuda, pas bagian BPM yang ngomong, kang sadam dan kang agus tiba-tiba langsung serius gitu. Ujung2nya mojok2in gue. Gue udah mau meweeeekk. kenapa ni dua akang kok tega banget gue doang yang dipojok2in. T_____T&lt;br /&gt;Goalnya sih katanya sampe gue nangis, tapi guenya gak nangis-nangis. Kan udah kuat, sekarang harus lebih kuat, gak boleh gampang ngeluarin air mata kan??? hmmm.&lt;br /&gt;Akhirnya pas udah gak kuat lagi, tau2 lampu auditorium mati. Dan bergerombol orang bawa lilin masuk nyanyiin lagu happy birthday. GUE LANGSUNG MEWEEEEEEEEEEEEEKKKK!!!&lt;br /&gt;Beteeee dong,, begitu mudahnya mereka mempermainkan perasaan gue. Dan yang bodohnya, ini yang kedua kalinya, dan gue nggak nyadar sama sekaliii...&lt;br /&gt;Pake konverti segala lagi. Dapet kado siiih. tapi isinya masa tissue sama pulpen. Ngasih tissue sih alasannya biar gue gak nangis lagiii. .dan ngasih pulpen karena gue gak punya pulpen. hahahaha :P&lt;br /&gt;Pas udahan, gue diajakin keluar, ternyata oh ternyataaaa gue diceplokin. sakiiiiiitt kepalanya . puyeng nyut2an. hahahahha.&lt;br /&gt;Tapi tapi tapiii.. jadi tambah sayaaaaaaaaang banget sama anak-anak IMAKSI. 2011.2010.2009.2008 dan seterusnya, makin sayaangg sama keluarga imaksi. hehehehe.&lt;br /&gt;Thank you for the surprise. :)) really touched me. hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih buat Kang agus, kang sadam yang udah acting galak gitu. gue takut beneran. aulia, tyo, oji, artha, eja, angga, uyung, megha, tomy, cellin (yang udah nganterin ke kosan), rahma, nada, semuaaaanyaaa yang udah care. terimakasih terimakasihhhh. :)) LOVE YOUUUUU!! MUAH MUAH.&lt;br /&gt;Terimakasih Putri buat blackforrest dan pancakenya hihihi. Mama sama papah, buat support dan doanya yang gak henti-henti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-3682885580413398774?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3682885580413398774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3682885580413398774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/great-22-december-2011.html' title='GREAT 22 DECEMBER 2011'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-6733748566390476835</id><published>2011-12-27T01:11:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T01:11:07.280-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><title type='text'>SMS terakhir Alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh</title><content type='html'>&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Ya Rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat..&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Mengkaitkan aku dengan berdampingan penghulu para wanita Khodijah Al Kubro yg berjuang dengan harta dan jiwanya ?&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Atau dengan Hafsah binti Abi Bakr yang dibela oleh Alloh saat akan dicerai karena showwamah dan qowwamahnya?&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…ehm 500 juga belum…&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Atau dengan Ummu Sulaiman yg shobiroh&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Atau dengan Asma yg mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Atau dengan siapa ya ??&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt; Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka, sehingga aku laik bertemu mereka, bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman Firdaus-Mu&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusnul khotimah telah kau raih mujahidah, semoga kami bisa mengikuti jejakmu&lt;br /&gt; Semoga Allah menempatkan beliau di sebaik-baik tempat&lt;br /&gt; Dipertemukan dengan orang-orang sholih, berkumpul dalam halaqoh abadi bersama mereka&lt;br /&gt; Allohummagfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha..&lt;br /&gt; &lt;span style="font-size: large;"&gt;Selamat jalan mujahidah sholihah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-6733748566390476835?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6733748566390476835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/6733748566390476835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/sms-terakhir-alm-ustadzah-yoyoh-yusroh.html' title='SMS terakhir Alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1834002552135731462</id><published>2011-12-26T19:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T01:18:29.009-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dakwah islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curahan hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhwat'/><title type='text'>Untukmu akhi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Assalamualaikum wr. wb.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin, dewi tidak berani untuk menyampaikan hal ini secara langsung, karena dewi takut menyakiti hati atau membuat silaturahmi kita terputus. Tapi, setelah dewi fikirkan dengan mendalam, ada yang salah dengan sikap yang dewi lakukan ke akang. dewi minta maaf, jika dewi telah menjadi fitnah untuk akang, dewi minta maaf jika beberapa perilaku dewi sangat tidak mencerminkan sebagai seorang muslimah yang baik. Dewi menyadari, kesalahan yang dewi lakukan. Dewi tidak ingin menjadi sebab yang mengotori hati akang, dewi tidak ingin menjadi seseorang yang menyibukkan akang dari mengingat Allah. Dewi bukanlah seorang wanita muslimah yang baik. Dewi malu atas sikap yang pernah Dewi berikan kepada akang, itu sama sekali bukan sikap seorang muslimah. Dewi malu atas label yang ada di diri dewi, tetapi perilaku dewi dalam menyikapi akang, tidak mencerminkan label tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, izinkan dewi untuk menyampaikan beberapa kata yang ingin dewi ungkapkan. Memang ini bukan untaian kata buatan dewi pribadi, tetapi, ini mewakili apa yang ingin dewi ungkapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Frens fillah…izinkan ane bercerita. Dalam kisah ini ane memakai sudut pandang orang pertama tunggal (aku, saya, ane, gue, whatever!), alurnya bolak-balik (alias semau ane). Ending terserah ente. Dan settingnya di sebuah medan bernama medan dakwah. Di sana penuh dengan cobaan, ujian, onak, duri, aral melintang sampai romantisme perjuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa romantisme? Karena ane rasa di stasiun-stasiun perjalanan, di setiap sendi kehidupan, di setiap makhluk yang bernyawa (terutama manusia), yang di dalamnya ada segumpal daging yang disebut hati, di hati itu ada rasa. Rasa itu berwujud cinta. Cinta itu fitrah! Cinta itu anugerah! Yang jika benar menempatkannya, akan berakhir bahagia. Dan jika salah penempatannya, maka akan berujung malapetaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. cinta. Tak pernah bosan untuk dibahas. Sesuatu yang diulang, dan akan terus berulang. Dari zaman nenek moyang (bapak Adam dan Ibunda Hawa) sampai akhir zaman. Manusia yang tengah merasakannya bisa lupa waktu, lupa diri, lupa makan, bahkan lupa ingatan! (ck..ck..the power of love). Afwan, ane bukan seorang pujangga apalagi pakar cinta. Tapi (katanya) kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mendadak puitis, mendadak kreatif, mendadak inovatif, mendadak solutif, dan mendadak dangdut (lho?! He..he..af1 jiddan). Ane akan coba fokus. Ane gak akan membahas tentang cinta. Apa itu cinta, untuk siapa cinta itu diberikan, dan lain sebagainya. insyaAllah akan ana bahas di lain kesempatan. Dengan topik dan judul yang berbeda tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya… Izinkan juga ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini mungkin terjadi hampir di setiap medan dakwah. Pokoknya ada aktivis dakwahnya, ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) maupun ADK (Aktivis Dakwah Kampus/kampung) . Pemerannya adalah akhwat en ikhwan. Keduanya adalah partner yang saling berkoordinasi dalam dakwah. Banyak sekali artikel dan buku yang telah membahasnya. Seminar, dauroh, sampai kajian liqo-pun membicarakannya. Gimana kalao ikhwah jatuh cinta? Hmmmm…. wajar tuh! Fitrah koq! Normal ih! (oke-oke… peace man!) dari ikhwah yang militan sampai yang meletan, semua berpeluang merasakannya. Yang jelas jatuh cinta ala ikhwah gak sama dengan orang ammah. (af1, maksud ane ikhwah di sini yang tingkat pemahaman keislamannya lebih -sedikit atau banyak- dibandingkan orang ammah/awam). Kalo yang ngakunya ikhwah (ikhwan or akhwat), cara mengelola, memanaj, dan menyikapi, seharusnya, lebih bijak, lebih hati-hati, lebih terkontrol, tanpa harus mengikuti dorongan nafsu dan masih dalam koridor-koridor syar’i (warning! Harap dibedakan dengan ikhwah yang “bermasalah” ato “error”, kasusnya beda lagi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cara menyikapinya, cobaan dan ujiannya juga beda. Tentunya syaitan pengujinya juga selevel dengan kualitas yang diuji. Sebagai aktivis yang menyeru ke jalan Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, godaannya lebih berat lagi. Gimana nggak? Wong aktivis dakwah sholatnya tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tilawahnya 1 juz perhari, diamnya dzikir, ma’sturat pagi-petang, qiyamullail, rawatib, en dhuha nggak pernah ketinggalan, amalan-amalan sunnah yang lain pun tetap jalan, bacaannya yang berbau islam, hadirnya ke majelis ilmu dan majelis dzikir, hidupnya hanya untuk dakwah dan jihad fisabilillah… ck…ck….syetan cs pada kualahan tuh! Syuro nya jadi lebih giat buat ngatur strategi jitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang namanya syetan gak akan kehabisan akal (emang syetan punya akal???!!!) dia punya 1001 (bahkan beribu-ribu) cara untuk memasuki celah-celah yang menjadi peluang baginya. For example, dari hasil nguping pembicaraan manusia, syetan dapet bocoran kalo cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Akhirnya ia berusaha menggoda aktivis dakwah dari matanya (pandangannya) , banyak juga sih yang berjatuhan akibat ulahnya ini. Tapi godaan ini gak mempan, gak ngaruh, en ga ngefek bagi aktivis yang ghodul bashar (menjaga pandangan). Kemudian syetan dkk mengambil cara lain. Sms-sms bernada dakwahpun menyebar. Dari paket taujih, bangunin qiyamullail, nanya kabar, lagi ngapain? Udah makan ato belum? Met ultah yaaa (gubrak! Mang siapa lu, siapa gue???!) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak sampe di situ, syaitan juga semakin canggih mengikuti perkembangan IPTEK. Syetan yang udah lulus kuliah di jurusan teknik informatika membuat program-program khusus di internet dan menyebarkan virus-virus aneh ke computer hati para aktivis dakwah. Yang gak punya komputer pribadi penyebaran virusnya bisa lewat flash disk, CD room, kabel data, disket dan lain-lain (nyambung gak seh? Ya disambung-sambungin aja ya!). berbagai fasilitas di dunia maya telah disajikan. Mulai via email, chatting, fs dengan testinya, sampai sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirinya. Semua hadir di tengah kita untuk memudahkan komunikasi. Fasilitas ini pula yang dimanfaatkan aktivis dakwah untuk bersilaturrahmi, sharring pengetahuan, diskusi dakwah, menjalin ukhuwah, dsb. Dst. Ada juga yang niatnya mencari pasangan hidup. (Itu mah kembali ke diri sendiri. Mau pake jalur “swasta” [nyari sendiri] ato jalur “negeri” [lewat murabbi] yang jelas keberkahan harus tetap dijaga. Saran ane, senantiasa luruskan niat! Di awal, di tengah, sampai akhir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari komunikasi dunia maya itu, ada yang memberitahukan identitas diri, ada pula yang tidak, bahkan ada yang menyembunyikannya dengan berbohong. Astaghfirullah… .namanya juga dunia maya, dunia gak jelas! Awalnya mungkin nanya asl, skul-kul-or ker, dmn? Nama? ada fs? Email? Sampai tukeran no HP (waduh koq tahu nih? Pengalaman pribadi ya? Sstt…amniyah ^_^). Nggak cukup sampe di situ, follow-up nya adalah sms-sms taujih dan kata-kata penyemangat. Ada juga yang ngirim berita/artikell islami lewat email. Atau sekadar berbalas testi di friendster. Ada juga yang janjian chatting di YM (Yahoo Messanger) dengan dalih melanjutkan perbincangan yang sempet tertunda di chatting perdana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah…begitulah hubungan itu berlanjut sampai akhirnya ada kata ta’aruf dilontarkan, ada kata khitbah diajukan, dan ujungnya, sebuah pernikahan dilangsungkan. Nggak semua seh yang sukses sampe tahap itu. Sang Sutradara-lah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasa-Nya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggaman-Nya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka., mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Lebih tepatnya ketentuan yang diikhtiarkan. Semua tetap dibawah kuasa dan kendali-Nya. Makanya kita disuruh memaksimalkan ikhtiar, rajin-rajin berdo’a, lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). insyaAllah, apa yang menjadi pilihan kita, akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik. Allahlah Yang Maha Tahu, so nikmati dan syukuri lah apa yang telah diberi. Semua pasti ada hikmahnya. (Lho koq jadi kemana-mana ya?!). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wallahualam bishowab&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akang, maaf jika dewi lancang mengatakan hal ini. Jujur, dewi pun ingin bisa menjalani bahtera pernikahan dengan seseorang yang sholih, dan bisa menjadi seorang imam bagi keluarga dewi nantinya, yang akan menjadi seorang panutan bagi anak-anak dewi kelak. Dewi yakin, akang termasuk orang yang seperti itu. Tapi, mohon maaf, dewi telah melakukan kesalahan yang begitu besar, dewi tidak ingin menjadi fitnah bagi akang, dewi tidak ingin dicap sebagai seorang wanita penggoda,mohon maaf jika dewi selama ini kurang bisa menjaga diri, dewi hanyalah manusia biasa yang penuh dengan salah dan khilaf. Dewi tidak ingin berangan-angan terlalu jauh bersama akang, dewi tidak ingin merepotkan akang nantinya, Mohon maaf jika nanti akan ada sikap yang tegas dari dewi pribadi. hal ini ditujukan kepada dewi sendiri, karena dewi harus tegas kepada diri dewi pribadi. Dewi berharap akan ada yang terbaik untukmu, dan pastinya akan ada yang terbaik pula untukku. Tapi, dewi mohon kerjasama akang, agar dewi bisa menata hati dewi ini, yang masih rapuh, dan lemah ini. Dewi tidak ingin menyakiti akang nantinya, dan dewi sendiri tidak ingin tersakiti karena kesalahan dewi pribadi. Mohon maaf jika hal ini menyakiti hati akang, ini semua demi kebaikan kita bersama. demi kebaikan dakwah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Allah, aku meminta kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintaimu, serta aku meminta amalan yang bisa mengantarkan aku kepada cinta-Mu.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Teruntuk Imam ku kelak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekasih yang membuktikan cintanya dgn jutaan kalimat pujian dan rayuan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula dgn sikap nan penuh kasih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit dgn pngorbanan yang meluluh lantakkan harga diri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula dngan menguras tenaga dan materi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagiku.. Aku mecintai mu dengan menundukkan wajahku pd mu, bukan karena ku ingin berpaling dr mu, tp krn ku ingin menjaga pandanganmu dr panah2 iblis..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku mecintaimu dengan tidak melemah lembutkan suaraku padamu, bukan krn aku ingin menyakitimu, namun krn aku ingin menjaga hatimu dari bisikan syaitan yang menipu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku mencintaimu dengan menjauh darimu, bukan krn ku membencimu, namun krn ku ingin menjaga mu dr khalwat yang menjebak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku mencintaimu dgn menjaga diri mu dan diriku.. Menjaga kesucianmu dan ksucianku.. Menjaga kehormatanmu dan kehormatanku.. Menjaga kebeningan hatimu dan hatiku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta.. Tak mengapa saat ini kita jauh, krn kelak Allah yang akan menyatukan kita dalam ikatan sucinya.. Karena itu jauh lebih berarti.. Jauh lebih abadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ku yakin.. Janji Allah adalah pasti, wanita yang baik hanya untuk laki2 yang baik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti inilah ku mcintaimu.. Dngn mjaga ksucian diri’ jiwa dan hatiku.. Hanya untuk ku persembahkan pd mu kelak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu cinta.. Jaga kesucian cintamu juga hanya untukku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb.. padaMu ku titipkan cintaku padanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dirimu sekarang sedang menunggu seorang untuk dijadikan sahabat sejati dalam menjalani kehidupan menuju Ridho-NYA ,Bersabarlah dengan Keikhlasan ,Demi ALLAH, dia tidak datang karena ketampanan, kecantikkan, kepandaian atau kekayaan....&lt;br /&gt;Tapi, ALLAH lah yang menggerakkanya untukmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau tergesa-gesa,untuk menyatakan ''Cinta'' sebelum diberi kemantapan hati oleh-NYA.Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu..Siapakah yg lebih mengetahui melainkan ALLAH.....???&lt;br /&gt;Segala daya hanya milik-NYA..ALLAH akan mengirimkan seorang yg tepat disaat yg tepat untukmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah....Bimbinglah Hati ini menuju cinta-MU&lt;br /&gt;Cinta yang Membuat Hamba semakin merindukan-MU , Cinta Agung nan Suci....&lt;br /&gt;Karuniakan Kepada Hamba seseorang Yang Engkau Cintai,Yang Engkau hadirkan Di bumi ini sebagai Penyejuk Hati dan Jiwa,Seorang Hamba-MU yang Mengantarkan diri ini pada Syurga-MU...Aamiin Ya Rabb&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1834002552135731462?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1834002552135731462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1834002552135731462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/untukmu-akhi.html' title='Untukmu akhi'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-3890851562248941351</id><published>2011-12-11T07:03:00.001-08:00</published><updated>2011-12-11T07:10:09.373-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='happy memory'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HAPPY BIRTHDAY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='best memory'/><title type='text'>LOVE YOU MOM</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HWk77HG-MmQ/TuTGVk5KMMI/AAAAAAAAAns/AjlCanni-o8/s1600/UPGRADING+060.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-HWk77HG-MmQ/TuTGVk5KMMI/AAAAAAAAAns/AjlCanni-o8/s400/UPGRADING+060.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;You haven't known much kid. JUST EAT!&lt;br /&gt;You have to be healthy, because you will face many great experience in your life.&lt;br /&gt;^_^&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XeQqkc9ueXA/TuTGeWqgZnI/AAAAAAAAAn0/E8VDuHlQZu0/s1600/UPGRADING+058.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-XeQqkc9ueXA/TuTGeWqgZnI/AAAAAAAAAn0/E8VDuHlQZu0/s400/UPGRADING+058.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;First day in Elementary School&lt;br /&gt;1st grade&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Thanks mom, for everything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know, i could never paid for all what you’ve given.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That kid, never knew what will she facing in this life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But because You’re in her side, she’s stronger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I LOVE YOU MOM, I ALWAYS. DAD ALSO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will make you proud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LOT OF LOVE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;your little daughter&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-3890851562248941351?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3890851562248941351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/3890851562248941351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/love-you-mom.html' title='LOVE YOU MOM'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-HWk77HG-MmQ/TuTGVk5KMMI/AAAAAAAAAns/AjlCanni-o8/s72-c/UPGRADING+060.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-1880250579232156201</id><published>2011-12-11T03:49:00.001-08:00</published><updated>2011-12-11T03:50:35.704-08:00</updated><title type='text'>GREAT MUSLIMAH I'LL BE</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mRZJNxTB_sw/TuSYxFcqLJI/AAAAAAAAAnk/MfwvkPfCrUk/s1600/tumblr_lr7xdqSpjZ1qlraq0o1_500.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-mRZJNxTB_sw/TuSYxFcqLJI/AAAAAAAAAnk/MfwvkPfCrUk/s1600/tumblr_lr7xdqSpjZ1qlraq0o1_500.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-1880250579232156201?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1880250579232156201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/1880250579232156201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/great-muslimah-ill-be.html' title='GREAT MUSLIMAH I&apos;LL BE'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mRZJNxTB_sw/TuSYxFcqLJI/AAAAAAAAAnk/MfwvkPfCrUk/s72-c/tumblr_lr7xdqSpjZ1qlraq0o1_500.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-557536558221486099</id><published>2011-12-10T21:34:00.001-08:00</published><updated>2011-12-10T23:03:22.868-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1hlDJUlvN8A/TuRVabtfToI/AAAAAAAAAnc/toTKROrNLCk/s1600/378755_293033430728228_289767667721471_966088_2076165645_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="321" src="http://4.bp.blogspot.com/-1hlDJUlvN8A/TuRVabtfToI/AAAAAAAAAnc/toTKROrNLCk/s400/378755_293033430728228_289767667721471_966088_2076165645_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-557536558221486099?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/557536558221486099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/557536558221486099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/blog-post.html' title=''/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1hlDJUlvN8A/TuRVabtfToI/AAAAAAAAAnc/toTKROrNLCk/s72-c/378755_293033430728228_289767667721471_966088_2076165645_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-5490473242014548324</id><published>2011-12-10T05:24:00.001-08:00</published><updated>2011-12-10T05:31:48.226-08:00</updated><title type='text'>GAK BOLEH PELUPA LAGI</title><content type='html'>&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;hayooo dedeeewww..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;lo udah keseringan lupa. apa-apa lupa. ayooo inget inget lagiii...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;lakuin saran dari temen-temen. bikin list apa yang mau dilakukan, nulis reminder note, biar gak lupa lagi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;kelewatan nih pelupanya.. kayak nenek-nenek aja. hadeeeeehhh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;ayo ayo ayoooo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Wy4_i4LRXXg/TuNd9QS_fpI/AAAAAAAAAnA/yPzq04qpvQY/s1600/Picture11-tile.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="94" src="http://3.bp.blogspot.com/-Wy4_i4LRXXg/TuNd9QS_fpI/AAAAAAAAAnA/yPzq04qpvQY/s320/Picture11-tile.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575619807475225229-5490473242014548324?l=lemonadesquash.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5490473242014548324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575619807475225229/posts/default/5490473242014548324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lemonadesquash.blogspot.com/2011/12/gak-boleh-pelupa-lagi.html' title='GAK BOLEH PELUPA LAGI'/><author><name>dewi hardianti pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13513614490668510950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-PSonzBq7PVk/Ts4D-TCLuGI/AAAAAAAAAkE/hdJtjAHk71k/s220/283816_10150273224627390_98932247389_7529845_3938391_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Wy4_i4LRXXg/TuNd9QS_fpI/AAAAAAAAAnA/yPzq04qpvQY/s72-c/Picture11-tile.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575619807475225229.post-8163618645502060412</id><published>2011-12-10T04:38:00.001-08:00</published><updated>2011-12-10T05:18:04.265-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pink panther'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curahan hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='happy memory'/><title type='text'>MY HOUSEMATES &gt;&gt; LOVE THEM SO MUCH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yak, sebagai seorang mahasiswa rantau dari bekasi ke bandung tentunya saya harus ngekos. Ketika pertama kali dapet rekomendasi kosan di daerah cilimus.. hmmmm rasanya kayak ditipu. kenapa? karena ternyata walau deket dari kampus, tapi kalo malem buat nyampe daerah ini booookk.. harus adu nyalli melewati sebuah gang panjang yang sepi dan sering disebut tembok cina.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dibawa keliling oleh calo-calo yang siap membawa anak-anak lugu bersama orang tuanya yang keliatan banget lagi nyari kosan, akhirnya menemukan satu kosan yang cocok dari segi kebersihannya dan harganya juga pastinya. Fix saya menempati kosan milik pak deny dan ibu neni, kamar lantai 2 dekat tangga. Di kosan saya ada 6 kamar, termasuk saya. Angkatan pertama dari kosan Pink Panther ini adalah saya, titis (prancis 09), dini (pgsd 09), tiara (ilkom 09), ayu (sunda 09) dan maria dewi (fisika 09). Karena kita semua seangkatan, jadi kalo ngobrol pun kita gampang nyambung. Mulai dari ngobrolin ospek di jurusannya gimana, kakak-kakak tingkat, sampe ngobrolin cerita-cerita SMA yang gokil, dan gebetan-gebetan di kampus pada waktu itu. Awalnya, kita semua gak ada satu pun yang bawa tv, secara kita semua masih pada taun pertama, mana tau kalo harus bawa kayak gitu2an segala. lagian pas waktu itu saya juga masih pulang seminggu sekali. tiap udah lebih dari seminggu, pasti bawaannya langsung gak enak makan, eeeh sekarang malah lupa pulang. ckckckck.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu itu pas pertama kali pindah, kita lagi bulan Ramadhan, sedih rasanya waktu itu pertama kali tinggal sendirian, puasa di tempat lain, dan gak nonton tv pas sahur. buka puasa, sahur sendirian. nelangsa banget pokoknya. Dan akhirnya ibu kita baaaiiiik banget, karena keluarga ibu abis beli tv plasma baru, jadi tv yang lama ditaro di atas buat kita nonton. hehehe. gapapa lah, walau sekarang tu tv pencetannya udah mendelep ke dalem, jadi harus sekuat tenaga banget mencetnya, tapi itu lah awal yang membuat kita solid sampe sekarang. Begitu girangnya kami ketika tv itu sudah terpasang, kayak orang dusun yang gak pernah liat tv. *___*&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari situ lah, di lorong itu kami bercengkerama bersama, saling cerita satu sama lain, curhat-curhatan, si tiara kecenganya banyak, titis lagi berantem sama pacarnya yang udah jadian dari kelas 1 SMA, dewi (atas) yang lagi gak jelas nunggu kabar pacarnya yang berondong, ayu yang cerita-cerita pake bahasa sunda, dini yang selalu jadi bahan ejekan kita, karena dia guru sd yang kayak anak sd banget, dan guee... yang paling keren. hahahhaha. *pede tingkat kecamatan&lt;/div&gt;&lt;div style="tex
